Tantangan Guru dan Spirit Beragama Generasi Milenial

13

Di era sekarang ini untuk mendapatkan sesuatu itu mudah sekali. Baik itu informasi ataupun ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Manusia mau tidak mau dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Jika tidak bisa, cepat atau lambat ia akan tergerus dari persaingan dunia ini.

Termasuk semangat dalam beragama pada Generasi Milenial. Generasi Milenial atau Generasi Z lebih cenderung mencari informasi tentang agama lewat media sosial, media digital dan dari kanal-kanal youtube.

Setiap ketika ada permasalahan mereka merujuknya ke media-media sosial seperti: Facebook, Instagram, serta YouTube. Karena dirasa bagi mereka media ini paling mudah untuk mendapatkan informasi tentang agama.

Berbeda halnya dengan generasi pendahulunya. Jika ada suatu permasalahan mereka menanyakan langsung kepada kiai, ulama, dan ustadz untuk meminta nasihatnya dengan cara berhadapan langsung.

Dalam beberapa survei semangat beragama Generasi Milenial atau Generasi Z sangat kuat dipengaruhi oleh Internet. Lewat internet pula Generasi Z belajar soal agama. Pada 1-7 Oktober 2017, PPIM UIN Jakarta menyurvei 1.522 siswa Muslim di SMA/SMK Kelas XI dan 337 mahasiswa semester 3. Jumlah dan sebaran responden tersebut secara statistika mewakili Generasi Z di seluruh Indonesia. Hasil survei ini menyebutkan 50,89 persen siswa dan mahasiswa mendapat informasi rujukan keagamaan dari internet. (Tirto.id, 5/12/2018).

Tidak sedikit mereka salah arah dalam memilih berita ataupun informasi tentang agama. Sehingga yang terjadi sikap intoleran, radikal, dan saling mengkafir-kafirkan, dan itu sudah terjadi di kalangan pelajar dan mahasiswa hingga saat ini.

Menurut Savic Ali mengutip NU Online.”Tidak semua santri bisa bangun pesantren, mushalla, ataupun madrasah. Tapi kita bisa bangun portal, pesantren virtual,” ujar Direktur NU Online Savic Ali saat menjadi narasumber diskusi Kiai Said dan Media di Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, pada Sabtu (19/5) malam.

” Kelompok lain meskipun jumlahnya sedikit, tetapi satu kanal saja memiliki ratusan video resminya. Belum ditambah dengan potongan-potongan yang dikutip oleh akun lainnya. Maka tidak aneh, jika mereka menguasai dunia maya.” katanya. (NU Online, 20/5/2018).

Ini adalah tantangan terbesar bagi kita, terutama guru-guru. Karena guru adalah salah satu pilar untuk membangun suatu bangsa, karena guru pula kita diajarkan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Guru harusnya menjadi panutan untuk semua murid-muridnya, bukan malah menebar kebencian apalagi sikap merasa paling benar. Menurut pepatah Jawa “guru” digugu lan ditiru yang artinya setiap perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh guru pasti akan diikuti murid-muridnya.

Selain itu kita sebagai warga Nahdliyin juga harus berperan aktif dalam membendung serangan-serangan agama yang berpaham ekstrimis, radikal, dan intoleran ini dengan menyebarkan Islam yang ramah, damai sesuai yang diajarkan Rasulullah SAW. Yaitu Islam yang rahmatan lil’alamin.

Penulis
Galih Maryanuntoro, Pengurus PC Pergunu Depok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here