Tit for Tat Amerika-Iran
Ini setidaknya kekalahan pertama kubu Arab dan Amerika atas Rusia dan Iran dalam menggulingkan penguasa lama dan merebut kekuasaan Suriah. Ini juga berarti kemenangan Soleimani selaku representasi Iran dalam membela kepentingan sesama penganut Syiah di kawasan. Selain totalitas Rusia dalam membela Asad, kehebatan Soleimani dalam strategi perang berperan besar dalam kemenangan status quo.
Kemenangan kedua atau setidaknya bukti kehebatan lain dari Soleimani adalah dalam mempertahankan kekuatan kelompok Hauthi di Yaman dalam melawan koalisi Saudi dan Emirat yang hendak mempertahankan presiden terguling, Abdrabbuh Mansur Hadi. Sang presiden yang dikudeta oleh kelompok Hauthi itu melarikan diri ke Arab Saudi dan meminta dukungan negara kaya itu untuk kembali memimpin negaranya. Saudi pun dengan sigap membantunya dan menggempur habis-habisan milisi Hauthi melalui serangan udara namun tidak menuai hasil yang diharapkan. Di atas kertas serangan udara yang bertubi itu dipastikan efektif menaklukkan Hauthi dalam sesaat. Tapi yang terjadi sungguh berbeda. Mereka bertahan hingga kini bahkan menuai simpati dunia Islam yang balik menyalahkan intervensi Saudi atas negara lain.
Dalam Konferensi Ulama Ahlussunnah wal Jamaah Internasional di Republik Chechnya, disebutkan bahwa posisi Hauthi adalah membela tanah air sehingga mereka tidak bisa disalahkan. Sementara Saudi adalah agresor yang menyerang negara lain sehingga berakibat jatuhnya banyak korban nyawa baik di kalangan militer maupun sipil dan mengakibatkan krisis kemanusiaan, kelaparan, dan pengungsian besar-besaran. Untuk itu langkah Saudi bagaimanapun tidak bisa dibenarkan.
Bertahannya Hauthi dalam mempertahankan diri adalah lantaran mendapat back up oleh Iran baik strategi maupun senjata. Dalam hal ini sosok Soleimani benar-benar ada di balik itu semua. Selaku pemimpin tertinggi Garda Revolusi Iran dia berperan dalam membela kepentingan dan keamanan kaum Syiah lintas negara. Amanat yang dibebankan oleh Ayatullah Ali Khamenei di atas pundak Qassim Soleimani menjadikannya bertanggung jawab memenangkan proxy war. Jadilah Soleimani sosok yang terlibat aktif dalam konflik militer di empat negara: Iraq, Syria, Libanon dan Yaman. Menjadi pembina milisi Hizbullah di Libanon Selatan dalam berhadapan dengan Israel dan membina milisi Syiah di negara lainnya.
Dalam kasus Iraq, kemenangan tentara Iraq dalam memberantas ISIS menjadi perebutan antara Iran dan Amerika. Iran membina tentara dan milisi yang didominasi Syiah sementara Amerika membina milisi Kurdistan yang pada akhirnya berhasil mengusir ISIS setelah bercokol di Iraq dan Syria selama empat tahun (2014-2018).
Enyahnya ISIS ternyata justru membuat Iran dan Amerika berseteru sangat tajam untuk berebut dominasi atas Iraq. Amerika yang berhasil membunuh Abu Bakar al-Baghdadi menginginkan agar Iraq menjadi negara yang demokratis dan lepas dari pengaruh Iran. Sementara Iran menginginkan agar Iraq yang mayoritas warganya adalah penganut Syiah agar mengadopsi semangat revolusi Islam Iran tanpa terpengaruh oleh Amerika dan Barat.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



