The news is by your side.

Tit for Tat Amerika-Iran

Rebutan pengaruh antara Amerika dan Iran kian memanas ketika gelombang demonstrasi menuntut mundur Perdana Menteri Iraq, Adil Abdul Mahdi, terus berlanjut dengan tuduhan tidak becus mengelola pemerintahan dan  memulihkan krisis ekonomi. Oleh Iran, demonstrasi yang memakan korban 300 nyawa melayang didalangi oleh kekuatan Amerika yang tidak ingin Iraq tenang di bawah rezim Syiah. Dari sini barangkali menjadi maklum jika Soleimani mendukung serangan atas kedutaan Amerika di Baghdad yang oleh Amerika dibalas dengan sangat tragis dengan terbunuhnya sang Jenderal itu.

Hubungan Amerika-Iran sedari revolusi Islam Iran, 1979, memang nyaris tidak bisa akur. Seperti permainan saling balas (tit for tat), mereka saling diam kalau menghadapi musuh yang sama. Begitu musuh itu lenyap mereka berhadap-hadapan satu sama lain. Sesekali Amerika melakukan apa yang sesuai dengan keinginan Iran seperti saat menangkap Saddam Hussein. Saat itu umat Syiah Iraq yang banyak ditindas Saddam selama berkuasa, bergembira dengan penangkapan itu. Namun setelah itu, setelah demokrasi ditegakkan yang menuai hasilnya adalah kaum Syiah yang di bawah pengaruh kuat Iran, Amerika gigit jari dengan kenyataan politik yang ada. 

Semakin ke sini pengaruh Iran pun semakin besar meninggalkan Amerika yang merasa berjasa dalam penggulingan rezim otoriter Iraq, Saddam Hussein. Kenyataan ini membuat Donald Trump sedemikian geram dengan Soleimani yang dianggap berperan besar dalam setiap apa yang dianggap merugikan kepentingan Amerika. Belum lagi dukungan Soleimani atas milisi Hizbullah dalam perlawanannya atas Israel membuat negara anak emas Amerika itu marah kepadanya. Arab Saudi juga demikian geram karena rencananya menghabisi Hauthi gagal gegara keberadaan Soleimani di balik itu. Akumulasi itulah yang barangkali kemudian membuat Donald Trump mengambil keputusan ‘main hakim’ sendiri demi apa yang dia katakan sebagai upaya mengakhiri perang dengan cara membunuh Soleimani. Sebaliknya, bagi Iran dan bagi common sense, membunuh Jenderal adalah menggelorakan perang yang tidak mungkin tanpa pembalasan.  

Penulis adalah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.