The news is by your side.

Tokoh Besar Ilmu Tafsir

Tokoh Besar Ilmu Tafsir | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Imam Achmad Ubaidillah – Imam Jalaluddin as-Suyuti, seorang tokoh besar muslim dan ulama ternama. Banyak karya tulis ilmiah beliau yang terkenal dan dikaji di pesantren. Hampir semua pesantren di Indonesia mengkajinya, salah satunya karya tulis beliau dalam bidang tafsir adalah Tafsir Jalalain, sebuah kitab tafsir yang ringkas dan relatif mudah difahami para santri.

Nama asli beliau adalah Abdurrahman, putra dari al-Kamal Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiq ad-Din bin al-Fakhr Utsman bin Nadzir ad-Din Muhammad bin Saif ad-Din Khudr bin Najm ad-Din Abu Sholah Ayyub bin Nashir ad-Din Muhammad bin as-Syaikh al-Himam. Kota asal beliau adalah kota Asyuth (sebuah kota di negara Mesir).

Nama lengkap beliau Abdur Rahman bin Kamaluddidn Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin Abu Bakar bin Fakhruddin Utsman bin Nashiruddin Muhammad bin Saifuddin Khidr bin Najmuddin Abu Ash-Shalah Ayyub bin Nashiruddin Muhammad bin Syekh Hammamuddin Al-Hammam bin Al-Kamal bin Nashiruddin Al-Mishri Al-Khudhairi Al-Asyuthi Ath-Thalani Asy-Syafi’i. Lahir pada permulaan bulan Rajab tahun 849 H di kota Kairo (ibukota negara Mesir).

Sejak lahir, ayah imam as-Suyuti telah mendapatkan isyarat bahwa putra kesayangannya akan menjadi ulama besar di masanya. Diriwayatkan bahwa menjelang kelahiran imam as-Suyuti, ayah beliau membutuhkan sebuah kitab. Maka beliau memerintahkan istrinya untuk mengambilkan sebuah kitab di sudut perpustakaan pribadinya. Saat perjalanan menuju tempat kitab yang maksud, istri beliau merasakan rasa sakit tanda akan segera melahirkan. Selang beberapa detik pun, imam as-Suyuti lahir diantara kitab-kitab yang ada di perpustakaan tersebut. Dari situ, imam as-Suyuti kecil dijuluki sebagai Ibnu al-Kutub (anak kitab).

Di masa kecilnya, imam as-Suyuti pernah dibawa ke hadapan seorang wali besar negara Mesir bernama Syekh Muhammad al-Majdzub untuk didoakan. Berkat doa beliau, imam as-Suyuti mendapatkan keberkahan ilmu yang luar biasa di dalam hidupnya. Saat imam as-Suyuti menginjak usia lima tahun, beliau ditinggal wafat ayahnya.

Belum genap delapan tahun, beliau telah menyelesaikan khataman Al-Quran 30 juz. Kemudian beliau mulai menghafalkan ilmu-ilmu yang lain, seperti nadzam Alfiyah Ibnu Malik dalam bidang nahwu sharaf, kitab al-Minhaj karya al-Badawi dalam ilmu ushul fiqh, dan kitab al-Minhaj karangan imam Nawawi dalam ilmu Fikih.

Di usianya yang menginjak lima belas tahun, imam as-Suyuti mulai menekuni bidang keilmuan. Beliau mengambil ilmu faraidh dari Syekh Syihab ad-Din asy-Syarmusahi yang pada saat itu berumur seratus tahun. Kemudian imam as-Suyuti mendapat titah dari Syekh tersebut untuk mengajar gramatika bahasa Arab pada permulaan tahun 866 H.

Pada tahun yang sama, beliau menyelesaikan karya pertama beliau yang berjudul “Syarh al-Isti’adzah wal Basmalah”. Dalam ilmu fikih, beliau berguru kepada Syekh Alam ad-Din al-Bulqini hingga Syekh tersebut wafat pada tahun 868 H. Tidak hanya itu, beliau juga belajar kepada Syekh Syaraf ad-Din Yahya al-Munawi (w. 871 H), Syekh Muhyi ad-Din Muhammad bin Sulaiman al-Kafiji (w. 879 H), Syekh Saif ad-Din Muhammad bin Muhammad al-Hanafi (w. 881 H), dan Syekh al-Izz Ahmad bin Ibrahim al-Kattani Tercatat dalam kitab Husnul Muhadharahfi Tarikh Mishr wal Qahirah bahwa beliau mendapatkan legalitas berfatwa dari guru-guru beliau.

Imam as-Suyuti telah memiliki kelengkapan persyaratan menjadi Mujtahid Mutlaq (berijtihad mandiri), sebuah derajat tinggi dalam memutuskan hukum fikih. Akan tetapi, beliau menegaskan dalam kitab Taqrir al-Istinad fi Tafsir al-Ijtihad bahwa beliau memang memiliki kelengkapan persyaratan tersebut tapi beliau memilih taqlid (ikut) kepada imam as-Syafii dalam seluruh cakupan ilmu ushul fiqh dan ilmu fikih.

Mahasantri Ma’had Aly An-Nur II

Penulis
Imam Achmad Ubaidillah
Leave A Reply

Your email address will not be published.