30.6 C
Bandung
Wednesday, May 25, 2022

Sebuah perkumpulan yang tak memiliki media, sama dengan perkumpulan buta tuli - KH Abdul Wahab Chasbullah

Must read

Umat Islam : Gerakan Politik dan Ilmu Pengetahuan


Srie Muldrianto – Islam sebagai sebuah ajaran dan praktik keagamaan tidak dapat dilepaskan dengan sosok manusia mulia yaitu Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan penafsir dan pelaku ajaran Islam yang sempurna. Setelah beliau wafat umat Islam berselisih dalam berbagai hal. Bahkan perselisihan di antara para sahabat kadang tidak hanya terjadi pada wacana, argumentasi, atau pemahaman tapi juga terjadi benturan fisik, saling membunuh dan saling menyingkirkan. Ini fakta sejarah yang nyata.


Perselisihan di era Rosulullah dapat diselesaikan oleh beliau secara langsung. Perdebatan dan perbedaan paham tentang ajaran Islam ketika dikembalikan pada Rosulullah tuntas dan hampir tidak menimbulkan masalah besar. Hal ini terjadi karena Nabi tidak mungkin dapat dikalahkan oleh paham dan penafsir al Qur’an selain beliau.

Mengapa? Karena Nabi secara tersurat dan jelas, Allah SWT nyatakan bahwa Dia lah Nabi Allah dan Rosulnya. Tapi kepemimpinan setelah beliau tidak secara jelas dan nyata tersurat dan disepakati oleh Umat. Inilah awal malapetaka yang terjadi dalam umat Islam.


Setelah Beliau wafat hampir seluruh sahabat yang menggantikanNya meninggal dibunuh. Bahkan setelah era sahabat empat (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), peperangan dalam merebut kekuasaan terjadi semakin dahsyat. Cucu Rosulullah dibantai secara keji, Bani Umayah berperang dengan Bani Abassiah kemudian pola kepemimpinan yang awalnya dipilih oleh umat lewat musyawarah diganti dengan system kerajaan dilakukan secara turun temurun melalui jalur keluarga. Mungkin sebagian orang terutama non muslim mengira bahwa umat Islam memiliki sejarah kelam dan tidak dapat menjadi suri tauladan dalam membangun peradaban dunia?
. لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah (Al -Ahzab: 21).


Inilah ayat al Qur’an yang secara terang benderang menyatakan suri tauladan utama kita adalah Rosulullah dan selainya tidak ada jaminan secara nyata dari al Qur’an. Oleh karena itu kajian sejarah Nabi Muhammad SAW sangatlah penting di samping kajian terhadap al Qur’an. Karena hal apapun terkait dengan Islam tidak lepas dari al Qur’an dan manusia yang diberi kewenangan oleh Allah untuk menerima dan menyampaikan al Qur’an. Tentu bukan berarti kajian dan ilmu keislaman yang lain tidak penting tapi tanpa mengkaji dua hal pokok di atas akan kehilangan konteknya.


Sejarah Rosulullah Membangun Peradaban
Basis peradaban Islam adalah al Qur’an dan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Rosulullah membangun peradaban sebuah bangsa?
Lahirnya Islam sebagai sebuah bangsa diawali dengan hijrahnya Rosulullah ke Madinah. Mengapa Rosulullah tidak membangun kehidupan berbangsa di Mekah? Padahal Rosulullah lahir dan tumbuh besar di Mekah. Mekah dan Madinah jaraknya kurang lebih 490 KM. untuk menempuh perjalanan dengan unta atau kuda membutuhkan waktu kurang lebih 11 hari perjalanan.


Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas adalah karena orang Yastrib (Madinah) siap dan bersedia menerima ajaran Islam dan siap dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya orang Yatsrib dibai’at dalam tiga gelombang untuk memeluk Islam(1).Sebagai mana kita ketahui bahwa dakwah Nabi di Mekah ditentang bahkan Nabi selalu diteror, diboykot dan diancam.

Mengapa juga orang Madinah menerima dan siap dipimpin oleh Nabi? Dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa orang Yatsrib selama puluhan tahun hidupnya selalu dihantui ketakutan satu sama lain saling berperang dan saling menumpahkan darah. Mereka ingin mengakhirinya dan mencari solusi serta sosok yang adil dan dapat dipercaya oleh kedua belah pihak, baik suku Aus maupun suku Khazraj, dan akhirnya mereka sepakat untuk menyiapkan kedatangan Nabi.


Pelajaran yang dapat diambil dari kisah hijrahnya Nabi adalah

  1. Membangun peradaban Islam (Kota/Madinah) tidak melalui pemaksaan, kekerasan atau terror tapi melalui kaderisasi dan pendidikan bagi para pendukungnya,
  2. Peradaban Islam dibangun melalui cinta dengan mempersatukan suku Aus dan Khazraj, mempersatukan kaum anshor dan muhajirin bahkan mempersatukan bangsa dan agama yang berbeda (Piagam Madinah),
  3. Seorang pendiri dan pemimpin dapat dipercaya dan diteladani oleh para pengikutnya yaitu Rosulullah. Rosulullah memiliki sifat sidiq, amanah, fatonah, dan tabligh, serta memiliki sifat-sifat mulia lainnya.
  4. Adanya komitmen bersama antara pemimpin dan yang dipimpin untuk membangun peradaban Islam.
  5. Membangun peradaban berbasis pengetahuan (rasionalitas) dan nilai-nilai ilahiah (spiritualitas). Sumbernya al Qur’an dan Rosulullah SAW. Dan tempat pendidikannya di Masjid sebagai madrasah dan pusat kajian ilmu keislaman.


Setelah rosulullah wafat berkembanglah ilmu pengetahuan baik terkait ilmu keagamaan maupun ilmu empirik lainnya seperti kedokteran, obat-obatan, fisika, kimia dan lain sebagainya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Islam diawali dengan gerakan pemikiran Islam.

Perbedaan pendapat dalam mambaca dan menafsirkan al Qur’an menginspirasi para pemikir dan ilmuan Islam melahirkan beberapa cabang ilmu seperti nahwu dan shorof yang kaya dengan nilai-nilai rasionalitas (logika/mantiq). Gerakan pemikiran inilah yang mendorong kemajuan peradaban Islam tapi sebaliknya gerakan politik atau lebih tepatnya perebutan kekuasaan dalam pemerintahan Islam justru menjadi pemicu menurunnya akhlaq/moral umat Islam bahkan menjadi jauh dari nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.


Penulis: Srie Muldrianto (Ketua PC MATAN, NU Purwakarta, pengurus HIPAKAD Purwakarta dan aktivits Pendidikan)


Daftar Pustaka
Ummu Salamah Ali, (2017) Kalimah: Jurnal Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam http://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/kalimah , http://dx.doi.org/10.21111/klm.v15i2.1495
Kholisin, (2003) Cikal Bakal Kelahiran Ilmu Nahwu, BAHASA DAN SENI, Tahun 31, Nomor 1, Februari
Dan dari berbagai sumber.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article