The news is by your side.

Viral! Penampakan Bendera Tauhid Kelompok Makar NII

Jakarta, NU Online

Polemik bendera tauhid yang beberapa hari lalu menggelinding mengungkap sejumlah wacana dan informasi. Kajian sejarah yang bersumber dari kitab-kitab klasik membantah bahwa bendera tauhid yang digunakan oleh kelompok Hizbut Tahrir, ISIS maupun Al-Qaeda bukan merupakan bendera yang diusung oleh Rasulullah, bukan pula bendera yang merepresentasikan umat Islam.

Kenyataan selama ini juga mengungkapkan bahwa bendera-bendera yang mengusung kalimat mulia tauhid justru digunakan untuk memberontak (bughot) dan makar oleh kelompok-kelompok tertentu.

Informasi terbaru yang viral di media sosial mengungkapkan bendera berkalimat tauhid yang diusung kelompok makar Negara Islam Indonesia (NII).

Foto yang diungkap oleh Sejarawan Ahmad Baso, Senin (29/10) dalam facebooknya itu memperlihatkan bendera warna hitam bertuliskan kalimat tauhid dan takbir. Keterangan foto menyatakan: Bendera NII di Pengadilan (1983).

“Reinkarnasi kelompok bughot (makar) dengan simbol benderanya,” ujar Ahmad Baso menggambarkan postingannya.

Penulis seri buku Pesantren Studies tersebut lalu mengemukakan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu:

ﺇِ ﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺍﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﺴُّﻮْﺩَ ﻓَﺎﻟْﺰَﻣُﻮْﺍ ﺍﻟْﺎَﺭْﺽَ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺤَﺮِّﻛُﻮْﺍ ﺃَﻳْﺪِﻳَﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺭْﺟُﻠَﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳَﻈْﻬَﺮُ ﻗَﻮْﻡٌ ﺿُﻌَﻔَﺎﺀُ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﺑَﻪُ ﻟَﻬُﻢْ ، ﻗُﻠُﻮْﺑُﻬُﻢْ ﻛَﺰُﺑُﺮِ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺪِ ، ﻫُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﺪَّﻭْﻟَﺔِ ، ﻟَﺎ ﻳَﻔُﻮْﻥَ ﺑِﻌَﻬْﺪٍ ﻭَﻟَﺎ ﻣِﻴْﺜَﺎﻕٍ ، ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻟَﻴْﺴُﻮْﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ، ﺃَﺳْﻤَﺎﺅُﻫُﻢُ ﺍﻟْﻜُﻨَﻰ ﻭَﻧِﺴْﺒَﺘُﻬُﻢُ ﺍﻟْﻘُﺮَﻯ ، ﻭَﺷُﻌُﻮْﺭُﻫُﻢْ ﻣِﺮْﺧَﺎﺓٌ ﻛَﺸُﻌُﻮْﺭِ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺨْﺘَﻠِﻔُﻮْﺍ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳُﺆْﺗِﻲ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ .

Sayyidina Ali berkata: “Jika kalian melihat bendera hitam, maka bertahanlah di bumi. Jangan gerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul kaum lemah yang lemah tidak dihiraukan (hingga gampang terpengaruh). Hati mereka seperti batangan baja (kaku, keras). Mereka (mengaku) pemegang daulah (Islamiyyah). Namun mereka tidak menepati janji dan kesepakatan bersama umat Islam. Mereka mengajak kepada kebenaran sedangkan mereka bukan orang yang benar. Nama mereka menggunakan kunyah dan nisbat mereka menggunakan nama daerah. Rambut mereka terurai seperti wanita, hingga mereka berselisih diantara mereka. Kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada yang Allah kehendaki.” (Riwayat Abu Nuaim, Kanzul Ummal 11/283).

Sumber : NU Online

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.