Ayo Menuntut Ilmu!

173
Ayo Menuntut Ilmu!

Menuntut Ilmu merupakan kewajiban bagi kita semua. Banyak ayat al qur’an dan hadits yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan kewajiban menuntut ilmu. Bagaimanakah kita dapat meraih ilmu?

Dalam tradisi keilmuan Islam untuk mendapatkan pengetahuan dapat dilakukan melalui dua cara yaitu belajar pergi ke pesantren atau sekolah atau perguruan tinggi dengan mengerahkan akal dan indera melalui proses berfikir secara rasional, argumentative, membaca buku, mendengarkan ceramah, seminar, diskusi atau kegiatan ilmiah lainya seperti penelitian. Perolehan ilmu seperti ini disebut ilmu husuli (yang dicari),Yang kedua melalui pendekatan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa), ilmu yang kedua disebut ilmu laduni.

Adapun proses belajar dan sumber belajar dalam meraih pengetahuan melalui usaha ilmiah dan argumentasi dapat kami jelaskan sebagai berikut:

Iklan Layanan Masyarakat

Belajar dapat diartikan sebagai upaya manusia agar terjadinya perubahan dalam pemikiran, perasaan, kesadaran, sikap, dan perilaku atau keterampilan. Perubahan menjadi kata kunci dalam belajar. Untuk berubah memerlukan proses yang cukup panjang. Kadang pembelajar tidak menyadari dan mengetahui poin apa yang ada dihadapannya atau poin apa yang telah guru sampaikan. Oleh karena itu Guru perlu mengetahui manusia secara utuh dari berbagai dimensi, baik secara filosofis, sosiologis, psikologis, biologis atau dari sudut pandang agama, agar dapat menyentuh kesadaran dan pemahaman siswa. Pengetahuan apa yang dapat diraih siswa dalam belajar?

Sumber pengetahuan manusia menurut Mudzafar dapat dibagi pada empat bagian yaitu pengetahuan yang didapat lewat panca indera (Hissi), pengetahuan seperti warna, realitas alam, dan segala sesuatu yang dapat diindera. Untuk mengetahui tentang sesuatu yang dapat diindera hanya dengan mengarahkan panca indera pada sesuatu yang ingin kita ketahui, ingin mengetahui panas kita memegang bara api, untuk mengetahui manis atau asin kita cicipi gula atau garam, untuk mengetahui warna kita lihat dengan mata dan lain-lain. Pengetahuan jenis ini penting terutama ketika kita ingin mengamati (observasi) obyek tertentu. Ada sebuah istilah dalam bahasa Arab yang artinya “barang siapa yang hilang salah satu inderanya maka kehilangan salah satu pengetahuannya”.

Yang kedua pengetahuan khayal (Imagination), yaitu pengetahuan yang hanya ada dalam bayangan dan fikiran kita dan bersifat abstrak seperti pengetahuan kita tentang warna yang telah dicampur, perbandingan tinggi dan rendah, atau pengetahuan kita tentang gunung emas, hujan uang, banjir darah dan lain-lain. Pengetahuan ini tidak ada dalam realitas luar dan hanya ada dalam (fikiran) bayangan kita. Jenis pengetahuan ini penting dalam rangka menanamkan kreatifitas peserta didik. Pendidikan seni dan keterampilan akan lebih dahsyat jika peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya agar lebih kreatif dan inovatif demikian juga dalam pengembangan sains. Bukankah banyak hasil karya ilmiah manusia lahir karena imaginasi manusia?

Yang ketiga adalah pengetahuan wahmi (estimative) seperti pengetahuan manusia tentang cinta, rindu, benci, sedih dan lain-lain. Jenis pengetahuan ini juga penting sebagai bahan untuk empati pada orang lain. Sebagai sastrawan, actor, dan ahli peran perlu mengetahui jenis pengetahuan ini agar dapat memainkan peran seperti peran sesungguhnya. Pengetahuan orang tentang peminta-minta yang hidup di kolong jembatan yang kehujanan, dihina orang lain, dimaki dan lain-lain. Pengetahuan ini sangat penting diketahui agar kita memiliki empati dan kesadaran bagaimana jika kita seperti mereka. Pendekatan pembelajaran ini dapat dilakukan dengan contektual learning dan project base learning. Pengetahuan ini dapat diraih dengan menghadirkan perasaan orang lain pada diri kita.

Yang terakhir pengetahuan aqliyah yaitu jenis pengetahuan yang hanya dimiliki oleh manusia. Ketiga jenis pengetahuan di atas dimiliki juga oleh hewan seperti melihat, merasa, membayangkan, dan cinta kasih. Tapi pengetahuan jenis keempat ini hanya milik manusia. Oleh karena itu ada peryataan manusia adalah hewan berfikir (akal/natik/berbahasa).

Fungsi akal dapat meluruskan pengetahuan indera seperti pengetahuan indera kadang keliru ketika melihat di jalan raya ada fatamorgana seperti air atau ketika kita melihat tongkat yang dimasukan ke dalam air akan tampak bengkok padahal akal kita mengatakan tidak mungkin tongkat yang dimasukin ke dalam air jadi bengkok. Pengetahuan aqli juga terkait dengan kesimpulan, baik berupa kesimpulan deduksi, induksi atau analogi. Akal lah yang dapat memilih mana baik dan mana buruk, mana benar dan mana salah? Mana bermanfaat dan mana yang merugikan? Walaupun begitu keempat jenis pengetahuan tersebut sesungguhnya tidak terpisah satu sama lain. Hanya saja akal kita dapat mengidentifikasi dan membagi pengetahuan tersebut.

Cara kedua untuk mendapatkan pengetahuan adalah melalui tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Cara ini diraih melalui pendekatan sair suluk atau tasawuf. Inti dari usaha ini adalah belajar ikhlas. Ikhlas berbasis keimanan atau tauhid. Ada sebuah hadits yang artinya “Barang siapa yang ikhlas karena Alloh selama 40 hari, niscaya akan muncul mutiara hikmah dari hatinya pada lisannya“. (Ibn Majah)

Dalam keterangan lain disebut bahwa hati itu ibarat sebuah cermin. Cermin manakala bersih maka akan terpancar gambaran di depannya dengan jelas, semakin bersih itu cermin maka semakin jelas gambar yang muncul. Pancaran pengetahuan dari Allah SWT akan memancar bagi orang yang hatinya bersih(ikhlas), para ulama sufi menyebutnya ilmu laduni. Upaya pencarian kebenaran ketika dibarengi hati yang penuh benci atau cinta maka akan kehilangan obyektivitasnya. Hati bersih dan ridlo karena Allah SWT, akan memancarkan kebenaran dan hakekat pengetahuan sejati. Pengetahuan jenis ini merupakan pengetahuan yang Allah turunkan bagi hambanya melalui ilham. Di kalangan sufi jenis pengetahuan ini tidak asing lagi karena sufi (tasawuf amali) memang kerap mendapatkan pengetahuan yang luar biasa ini.

Relasi Ilmu Hushuli (yang dicari) dengan Ilmu Laduni (hadir ke dalam hati)

Pengetahuan hushuli merupakan pengetahuan yang sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan. Kemajuan sebuah bangsa terletak pada tumbuh dan berkembangnya pengetahuan dan teknologi. Generasi muda Islam hendaknya dapat memperhatikan ini. Masa depan Bangsa dan Negara ada pada generasi muda mileneal. Jika pengetahuan dan teknologi tidak menjadi perhatian maka jangan berharap kemajuan dan kejayaan umat Islam di masa depan.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi kita semua. Pernyataan ini disepakati oleh seluruh ulama tapi justru kewajiban ini telah banyak kita lalaikan. Terbukti penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia dan juga di Indonesia bukan umat Islam. Oleh karena itu sudah saatnya membangun kesadaran umat agar tidak lalai dalam menuntut ilmu. Bahkan idealnya kita ORMAS Islam harus sama-sama mendorong pemerintah agar lebih memperhatikan kualitas dan kuantitas umat Islam agar lebih sadar akan pendidikan. Misalnya dengan gerakan cinta ilmu, gerakan cinta belajar dan lain-lain.

Pengetahuan hushuli tidak dapat menggantikan pengetahuan laduni begitu pula sebaliknya. Tapi idealnya menuntut ilmu di sekolah, perguruan tinggi, di pesantren, dan di tempat lain dibarengi dengan tazkiyatun nafs agar ilmu yang didapat lebih berkah dan bermakna. Relasi keduanya bisa beririsan atau yang satu merupakan bagian dari yang lain. Yang jelas tidak bertolak belakang (kontrakdiksi) tapi saling menguatkan. Dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa banyak dari filosof dan ilmuan Muslim yang melakukan puasa atau sholat untuk mendapatkan petunjuk agar dapat jawaban dari permasalahan rumit yang dihadapinya. Hal ini tidak hanya pada ilmu yang bersifat duniawi tapi juga ilmu agama. (wallahu a’lam)

(Dr. H. Srie Muldrianto, MPd, Aktivis Pendidikan yang aktif sebagai Pengurus HIPAKAD (Himpunan Putra-Putri Keluarga TNI AD) Purwakarta, juga sebagai Ketua Pimpinan Cabang MATAN (Mahasiswa Akhli Thoriqoh An-Nahdliyah) NU Purwakarta. Sebagai Dosen Pasca Sarjana PAI, di STAI EZ Muttaqien Purwakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here