Banser NU di Banjaran ? Salut !

103

Masyarakat Banjaran kabupaten bandung baru-baru ini dikejutkan dengan adanya Banser NU. Mungkin selama ini mereka tahu banser NU hanya dari media sosial. Itu pun cap penjaga gereja dalam benak mereka. Ternyata dalam kenyataannya kang Banser NU adalah penjaga kegiatan keagamaan di madrasah dan pesantren yang ada di Banjaran.

Stigma negatif sebagian masyarakat tidak menyurutkan semangat para sahabat Banser NU untuk ikut mewarnai NU di Banjaran. Dimana Nahdlatul Ulama adalah wadah para ulama aswaja Indonesia.

Penulis mencoba menelisik kehidupan keseharian para sahabat banser NU banjaran. Keseharian mereka ada yang menjadi buruh pabrik, pedagang klontong,tukang las, marbot masjid. Melihat latar belakang mereka yang berbeda. Pertanyaan besar terlintas dalam pikiran penulis, “Untuk apa mereka ikut banser NU padahal tidak gaji ? Belum lagi ketika mereka pulang bekerja ada pengajian mereka langsung menjaga pengajian, apa yang mereka cari ?”

Letih dan lelah terlihat dari wajah mereka ketika pengajian telah selesai. Dari pagi mereka bekerja untuk menghidupi anak dan istri. Sepulang bekerja mereka menjaga pengajian sampai tengah malam. Besoknya mereka bekerja kembali.

Ketika penulis berdiskusi dengan mereka, jawaban mereka sungguh mengejutkan. Abah Habib Luthfi bin Yahya adalah salah satu alasan kuat mereka ikut Banser. Abah Habib Luthfi pernah berkata : “Seandainya Allah memberi izin saya untuk masuk surga maka Banser dahulu yang masuk surga biar saya belakangan” .

Bahkan sebagian besar banser NU banjaran sudah berbait thoriqoh Syadziliyyah kepada abah Habib Luthfi. Banser pun berthoriqoh. Alasan lainnya adalah ngalap berkah Ulama dan Kiai NU.

Dari diskusi kecil itu penulis dapat menyimpulkan bahwa menjadi Banser adalah panggilan hati bukan pekerjaan. Menjadi Banser mengajarkan kita bagaimana kiai dan ulama harus di hormati dan dijaga. Mengajarkan kita bahwa uang bukan segalanya.

Diakhir tulisan ini penulis hanya bisa berdoa “Semoga Banser NU Banjaran terus istiqomah dan terus berkembang”. Satu kalimat untuk kalian wahai penjaga NKRI, “Salute”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here