Bid’ah yang Lima

78

Oleh Ust. Muallif Masykur ( Aswaja Center NU Jabar )

  1. Bid’ah Wajibah. Sebuah perkara yg tidak pernah di lakukan di zaman Nabi, tapi keberadaan perkara tersebut menjamin keberlangsungan pemahaman syare’at Islam. Dan jika perkara tersebut ditiadakan bisa mengakibatkan hilangnya pemahaman syare’at Islam. Contoh seperti belajar ilmu nahwu, sebab tanpa belajar nahwu maka teks syareat yg bersumber dari kitab suci dan as-sunnah tidak akan bisa di pahami.
  2. Bid’ah Muharromah. Bid’ah yang jelas menyimpang dari ajaran syare’at. Syekh Izzuddin menyontohkan dengan bid’ah ini dengan bid’ah-nya aqidah Qodariyah dan aqidah Jabbariyah
  3. Bid’ah Mandubah. Suatu perkara yang menjadi wasilah terselenggaranya aktifitas syare’at, tapi sesuatu tersebut tidak terlalu prinsipal. Seperti pembangunan pesantren dan sistem klasikal dalam metode pembelajarannya. Yang demikian ini tidak pernah di lakukan di masa Rasulullah SAW, tetapi dengan adanya pesantren maupun sekolah akan memudahkan seseorang untuk mencari ilmu syare’at.
  4. Bid’ah Makruhah. Perbuatan baru yang belum pernah di lakukan di zaman Nabi dan menurut syareat tidak di sukai, seperti menggali tanah di dalam masjid tanpa sebab yang jelas.
  5. Bid’ah Mubahah. Suatu tindakan yang belum pernah di lakukan Nabi, dan perkara tersebut tidak dilarang maupun diwajibkan menurut agama. Seperti musafahah setelah sholat berjama’ah.

Demikian pembagian bid’ah menurut Imam Abu Muhammad Izzuddin Abdul Aziz ibnu Abdi Salam As-Syafi’i ( Lahir Mekkah 577 H, wafat Kairo di 660 H.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here