Dari Buku “Islam Radikal” : Hakimiyah [3]

24

Ketiga: Sayyid Qutb berbicara mengenai undang-undang yang berlaku di peradilan serta menyatakan bahwa undang-undang tersebut dan penerapannya di peradilan adalah tindakan berhukum dengan selain hukum Allah Ta’ala. Dengan demikian, maka dalam pandangannya, hal itu merupakan sikap menentang Allah dalam sifat-Nya yang paling fundamental, yaitu hakimiyah.

Berdasarkan pemahaman ini ia lantas mengafirkan orang lain. Ia merendahkan umat Nabi Muhammad SAW. dan mengenyampingkan hasil ijtihad ratusan ulama yang kompeten dalam ilmu mereka dan menghabiskan seluruh hidup mereka dalam mempelajari hubungan hukum perundangan dengan syariat Islam, meneliti secara detail perbandingan antara keduanya dalam berbagai persoalan, menjelaskan persamaan dan perbedaannya, serta merangkum poin-poin permasalah fikih yang menjadi titik persamaan dan perbedaan.

Umat Nabi Muhammad SAW. melalui para ulamanya yang mendalam ilmunya dan memiliki loyalitas tinggi terhadap agamanya, selama kurang lebih satu setengah abad, telah melakukan penelitian terhadap permasalahan ini. Syaikhul Islam Grand Shaikh Al-Azhar Syaikh Hasan al-Atthar telah meminta kepada muridnya Rifa’ah al- Thahtawi untuk menerjemahkan undang-undang Napoleon ke dalam bahasa Arab. Setelah selesai, terjemahan tersebut diberikan kepada al- Allamah Syaikh Makhluf al-Minyawi. Beliau pun akhirnya melakukan komparasi detail antara fikih mazhab Maliki dengan undang-undang Napoleon tersebut. Akhirnya, beliau menulis buku yang diberi judul “al-Muqaranat al-Tasyri’iyyah”. Kemudian al-Allamah Sayyid al-Tedy juga menulis kitab dengan judul “al-Muqaranat al-Tasyri’iyyah”. Hal ini ditambah dengan era jayanya Majalah “al-Ahkam al-Adliyah” dan pengaruhnya terhadap perundang-undangan, serta catatan-catatan Qadri Pasha dalam masalah ini. Kemudian datanglah era ‘‘Tamshir al’Qawanin , era dimana Mesir mulai menata kembali perundang- undangannya secara independen.

Iklan Layanan Masyarakat

Era ini ditandai dengan lahirnya tulisan-tulisan Sanhuri Pasha terkait hal ini. Setelah itu datang era penerapan syariat Islam dalam undang- undang dengan tokoh sentralnya Grand Shaikh Al-Azhar Abdul Halim Mahmud. Terkait hal ini terbitlah buku dalam empat jilid yang dicetak oleh Majlis al-Sya’b al-Mishri”. Juga tulisan dan analisa al-Allamah aJ-Faqih Musthafa Zurqa dalam kitabnya “al-Madkhal al- Fiqhi al- Am . Hal ini ditambah lagi dengan tulisan-tulisan para ulama semisal Syaikh Sulaiman al-Abd, pimpinan ulama Syafiiyah di Al- Azhar dan Wakil Ketua Peradilan Tinggi Agama, Syaikh Muhammad Sulaiman, Ketua Peradilan Tinggi Agama, Ali Abu al-Futuh Pasha, DR. Syafiq Syahatah, Syaikh Muhammad Abu Syahbah, Syaikh Ali Gomaa, Anggota Dewan Ulama Senior dan Mufti Agung Mesir, dan DR. Abdurrahman Abdul Aziz al’Qasim yang kitabnya mendapatkan kata pengantar dari para ulama; Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Hasan Alu Syaikh, Mantan Menteri Pendidikan Arab Saudi, Umar al-Metrek, Anggota Peradilan Tinggi Riyadh, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Ali al-Khafif dan Mufti Mesir Syaikh Hasanain Makhluf. Selain itu masih banyak lagi karya ulama mengenai masalah ini.

Saya memiliki semua atau sebagian besar kitab-kitab rujukan tersebut. Semuanya ditulis oleh para ulama yang amanah, yang telah menjalankan kewajiban dengan memberikan solusi atas problematika yang terjadi di masa mereka. Mereka ingin menerapkan syariat Islam. Tidak lari dan meninggalkannya, bahkan mereka mengagungkan dan menghormatinya. Mereka mempelajari tentang cara interaksi perkembangan zaman dalam bingkai syariat. Mereka ingin membentuk lembaga-lembaga dan menjaga negara serta kembali menyongsong kebangkitan peradaban. Sehingga, Syaikh Hasanain Makhluf ketika mengomentari Majalah “Al-ahkam al-Adliyah” dan catatan-catatan Qadri Pasha, beliau berkata: “Para ulama Islam telah menerima hal itu. Dan di era itu banyak ulama besar yang berkompeten.” Kemudian datanglah Sayyid Qutb, ia mengacuhkan semua itu dan mencampakkan semua ijtihad umat Islam dalam masalah ini, lantas bersikeras dalam mengafirkan umat Islam.

[Bersambung]

Diringkas dari buku karya Syaikh Usamah yang berjudul Al-Haqqul Mubin fi Raddi ‘ala man Tala’aba bid-Din yang menelaah secara kritis radikalisme mengatasnamakan ajaran Islam. Membedah dan mengkritisi asal-muasal radikalisme yang diambil dari sumber-sumber teks Islam yang ditafsiri Sayyid Qutb, dan kemudian dijadikan dasar pijakan hakimiyah, takfiri hingga seperti apa yang kita saksikan saat ini. Syaikh Usamah menyebut penafsiran Sayyid Qutb sebagai “Tafsir marah”.

Buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh M. Hidayatulloh dengan judul “Islam Radikal : Telaah Kritis Radikalisme dari Ikhwanul Muslimin hingga ISIS” yang diterbitkan di Dar al-Faqih Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 2015 lalu. Versi digital buku sudah lama beredar, bahkan versi full text juga tersedia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here