Empat Catatan Penting dari Buku Menjerat Gus Dur

90

Lain halnya dengan Priyo Budi Santoso, nama yang disebut juga dalam dokumen tersebut mengakui bahwa keterlibatannya dalam konspirasi pemakzulan Gus Dur merupakan reaksi atas ketidakadaan pilihan. Hal itu dilakukan usai Gus Dur mengeluarkan dekrit. “Kalau masuk masalah pribadi, saya termasuk di menit-menit terakhir (Gus Dur), saya ikut ngritik Gus Dur. Tapi kalau suruh milih, tidak setuju untuk dilengserkan. Tapi, itu semua pelatuknya adalah dekrit. Nggak ada pilihan lain,” kata Priyo saat diskusi buku “Menjerat Gus Dur” di kantor IDN Times, Rabu (7/1).

Keempat, hal lain yang menarik adalah diksi “HMI Conection”. Munculnya istilah HMI connection mungkin didasarkan karena pada saat itu ketua DPR (Akbar Tandjung) dan ketua MPR (Amien Rais) merupkan mantan kader HMI yang saat itu getol menyuarakan agar Gus Dur segera mengundurkan diri dari kursi jabatan presiden. Selain itu nama lain yang disebut dalam dokumen tersebut diantaranya ada nama Ketua Umum PB HMI Kanda Fakhruddin. Ia disebut mengkoordinir seluruh BEM PTN dan PTS untuk menuntut Gus Dur mundur. Istilah tersebut adalah sebutan Gus Dur terhadap sejumlah orang-orang yang dideteksi merongrong kekuasaannya.

Tentu hal ini membuat HMI Conection (baik HMI tua maupun HMI muda) meradang. Terlebih ketika Gus Dur memecat sejumhlah menteri yang salah satunya adalah Jusuf Kalla dari pos kementerian perindustrian. Memang rekam jejak hubungan Gus Dur dengan HMI Conectionterbilang “kurang harmonis” dalam catatan sejarah. Sebut saja ketika Majalah Panji Masyarakat No. 790 tahun XXXV secara garis besar memuat bahwa “Gus Dur Tuding KAHMI Selalu Pelaku KKN” hal ini didasarkan kasus Eddy Tansil. Perseteruan dengan ICMI yang salah satu creatornya Maduddin Abdul Rahim adalah mantan kader HMI, dan lain-lain.

Iklan Layanan Masyarakat

Akhirnya dari sekian banyak uraian yang telah disampaikan oleh berbagai tokoh, media dan kanal-kanal informasi lain tentang pelengseran Gus Dur satu hal yang harus kita petik bahwa proses praktek politik Di Indonesia tidaklah hitam-putih an sich, melainkan sangat abu-abu dan dinamis. Dalam perjalanan politik di negara kita tidak ada yang selamanya bersama, semua masih hanya soal kepentingan akan kekuasaan. Mari kita lihat hari ini, mereka yang dulunya bersebrangan saat ini bisa bergandengan tangan, begitupun sebaliknya. Termasuk beberapa tokoh-tokoh nasional yang disebutkan dalam dokumen pelengseran Gus Dur tersebut hari ini mesra dengan barisan pendukung Gus Dur.

Selain itu, kita sebagai masyarakat yang beradab dan terhormat sekaligus pecinta Gus Dur sudah selayaknya mengikuti teladan yang diberikan oleh Gus Dur. Bahwa kita tidak disarankan untuk membenci apalagi menghardik mereka-mereka yang terlibat, cukup kita maafkan semuanya namun jangan kita lupakan sebagai pelajaran berharga dimasa yang akan datang, sebagaimana istilah Gus Dur “maafkan iya, tapi lupa tidak”. Ingat bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya sendiri. Tabik!

Peresensi adalah Zaenal Arsyad Alimin, aktif di Lembaga Ta’lif wan Nasyr PBNU.

Identitas buku
Judul: Menjerat Gus Dur
Penulis: Virdika Rizky Utama
Penerbit: PT Numedia Digital Indonesia
Cetakan: III, Januari 2020
Tebal: xxi+ 376 halaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here