Ini Dalil Syariat LBM PBNU dalam Penundaan Shalat Jumat

74
Ini Dalil Syariat LBM PBNU dalam Penundaan Shalat Jumat

Jakarta, NU Online

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) mengajukan beberapa pertimbangan atas larangan shalat jamaah dan Shalat Jumat dalam kaitannya dengan wabah Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia. Lembaga sejenis komisi fatwa keagamaan NU ini melihat faktor eksternal yang kuat atas larangan shalat jamaah dan Shalat Jumat.

Larangan penyelenggaraan Shalat Jumat ini dapat juga dinyatakan bukan karena terkait dengan faktor internal ibadah Jumat itu sendiri (amrun dakhiliyyun), tetapi pada perkumpulan orang yang potensial, yaitu satu orang menularkan virus kepada orang lain (amrun kharijiyyun).

Iklan Layanan Masyarakat

LBM PBNU mengutip pandangan ulama ushul fiqih Abdul Wahhab Khalaf, “Maka pengharaman itu bukan karena perbuatan itu sendiri (dalam hal ini melaksanakan Shalat Jumat, pent) , tetapi lebih karena adanya faktor eksternal. Maksudnya adalah bahwa perbuatan itu pada dasarnya tidak mengandung mafsadah dan mudarat, akan tetapi perbuatan yang pada dasarnya tidak mengandung mafsadah dan mudarat tersebut berkaitan atau bersamaan dengan sesuatu yang mengandung mafasadah dan madharat.”

Dengan narasi itu, maka persoalan menjadi jelas. Sekiranya perkumpulan umat dalam Shalat Jumat saja dilarang, maka apalagi perkumpulan umat pada acara-acara lain yang sifatnya sunnah dan mubah. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here