KH. Abbas: Jangan Terprovokasi Oleh Kelompok Takfiri

354
KH. Muhammad Abbas Billy Yachsyi Fuad Hasyim

Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon KH. Muhammad Abbas Billy Yachsyi Fuad Hasyim peringatkan agar waspada terhadap kelompok takfiri, hal tersebut disampaikan dalam acara haul KH. Abdal Adzim bin Mad Nahri ke 45 di Pondok Pesantren Sarongge Desa Cigintung Kec. Singajaya-Garut. (3/10)

Dalam tausyiahnya, KH. Abbas menjelaskan bahwa kelompok takfiri bersembunyi dibalik ayat Al Quran dan Hadits sebagai tameng, karena tanpa hal tersebut mereka tidak akan mendapatkan simpati dari masyarakat. Sejak zaman khulafaur rasyidin, kaum takfiri berani mengkafir-kafirkan sahabat Nabi, terutama sayidina Ali RA yang jelas termasuk calon ahli surga serta menantu Nabi Muhammad SAW.

Kaum muslim pada saat itu banyak terpengaruh terhadap doktrin tersebut, sehingga banyak kaum muslim yang juga ikut mengkafirkan sayidina Ali.

“kelompok takfiri gunakan Al Quran dan Hadits sebagai tameng, terutama untuk mengambil simpati masyarakat. Pada zaman khulafaur rasyidin, kaum takfiri doktrin masyarakat awam dengan Al Quran dan Hadits sebagai senjata, sehingga mereka ikut mengkafirkan Sayidina Ali pada saat itu.” Tandas KH. Abbas

Selain itu, KH. Abbas juga ingatkan kepada warga Nahdliyin Singajaya agar jangan sampai membenci ulama NU, membenci pemerintah, TNI dan POLRI apalagi BANSER karena propaganda kelompok takfiri melalui bendera HTI, karena sejatinya kalimat tauhid di agungkan oleh warga NU melalui tahlil yang diucapkan, bukan dituliskan di bendera.

“Jangan sampai bapak dan ibu benci terhadap ulama NU, benci pada pemerintah, benci pada TNI dan POLRI, apalagi pada BANSER, karena mereka adalah penjaga NKRI. Apalagi dengan bendera HTI, sejatinya yang mengagungkan kalimat tauhid itu NU, karena setiap warga NU membaca tahlil saat wirid dan tahlilan, bukan dituliskan pada bendera.” Pungkasnya.

Jangankan ulama NU, Sayidina Ali RA yang jelas-jelas sahabat nabi dan termasuk khulafaur rasyidin saja di kafirkan, apalagi ulama zaman sekarang. Jadi kita harus hati-hati dalam menerima doktrin agama karena dikhawatirkan berisi radikalisme.

Beliau juga berpesan agar “masyarakat harus masuk kedalam NU atau kembali ke NU, dan memahami NU secara holistik (menyeluruh), karena tidak sedikit kyai, santri, masyarakat yang mengaku NU, walaupun secara keseharian mengamalkan dzikir, shalawat, qunut, dan lainnya. Namun harakah (gerakan) dan fikrahnya (pemikiran) bertentangan dengan NU. Sehingga Allah akan mencabut keberkahannya dan disatukan dengan pengkhianat.” Tutupnya

Terlihat dalam acara tersebut Kapolsek Kec. Singajaya Iptu Sahono, wakil ketua PWNU Jawa Barat KH Aceng Abdul Mujib Pimpinan Pondok Pesantren Safinatul Faizin Fauzan 2 KH Aceng Abun Sohibul Burhan, Pengasuh Pondok Pesantren Fauzan 1 sekaligus Rais Syuriah MWC NU Sukaresmi KH Aceng Muhammad Ali, Pengurus MWC NU Kecamatan Singajaya, Kepala Desa Cigintung Dida, Puluhan Ajengan, Pimpinan Pesantren, Alumni dan ratusan masyarakat Garut dengan khidmat mengikuti acara haul sampai akhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here