KH Imam Jazuli: Jangan Ada Khilafah di Antara Kita

232

Penyelewenangan makna Islam oleh HT dimulai oleh Taqiyuddin an-Nabhani. Syeikh Musthafa Zahran (2019), pakar kajian Islam klasik dan modern dari Universitas al-Azhar, berpendapat bahwa HT tidak punya konsep utuh, hanya mengambil semboyan sana-sini yang terdapat di dalam khazanah-khazanah kitab klasik Islam, kemudian ia mencocok-cocokkannya sesuai dengan selera dan kepentingan kelompok mereka sendiri.

Tuduhan HT sebagai organisasi teroris memang beralasan. Pada tahun 2001, majalah Al-Wa’i yang dikelola HT terang-terangan menyerukan semangat perang. Dalam artikel berjudul How to Become a Shakhid tertulis, “singkirkan kepala suku yang tidak peduli pada syariat Allah, kirim pejuang untuk berjihad, usir orang-orang Yahudi! Mungkin diperlukan pengorbanan, penderitaan, perang di jalan jihad, dan mati sebagai syahid.”

Penerjemahan Islam menjadi gerakan teror inilah alasan para ulama al-Azhar menolak. Misalnya, Komisi Fatwa al-Azhar (Lajnah Fatwa al-Azhar) memberikan garis demarkasi yang jelas antara HT sebagai ideologi Islam dan sebagai ideologi gerakan. Sebagai ideologi Islam, komisi ini menyebutkan bahwa semua kitab-kitab yang ditulis Taqiyuddin an-Nabhani tidak bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan sebaliknya, karya-karyanya dibangun di atas pemikiran keislaman yang benar. Namun, penerjemahan ideologi Islam menjadi gerakan ideologis mencemarkan citra dan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here