Kesombongan Mayoritas

151

Toufik Imtikhani, SIP – Pada sekitar antara tahun 1993-2000, penulis bekerja di Kantor Departemen Penerangan RI di sebuah Kabupaten di wilayah DI Yogyakarta, sebelum Departemen Penerangan dibubarkan oleh Presiden kita tercinta waktu itu, Gus Dur.

Seorang teman pegawai alumni sebuah perguruan tinggi Islam, bercerita dengan bangganya, bahwa di kompleks perumahan dia  tinggal, telah di bangun sebuah masjid, sebagai tempat ibadah kaum muslim di perumahan tersebut. Namun pada sisi yang lain, dia nampak marah karena di kompleks perumahan yang sama, ada rumah seorang penduduk yang digunakan sebagai gereja. Hanya sebuah rumah yang diubah fungsinya sebagai gereja. Mungkin umat kristen berpikiran, bahwa untuk mendirikan gereja di tengah komunitas muslim, aturannya berbelit-belit atau juga karena anggota jemaatnya masih sedikit. Jadi cukup menggunakan rumah seorang jemaat dengan pertimbangan efektif dan efesien.

Pemikiran dan cara pandang teman muslim tadi, tentu tidak adil dalam konteks kehidupan sosial yang plural. Cara pandang tersebut barangkali mewakili sekian banyak muslim revivalis terhadap dunia Kristen dan juga Barat. Ini adalah cara pandang yang laten  dan traumatic sebagai sedimentasi pemikiran sejak perang Salib antara Dunia Islam dan Barat ( 1095-1492 ). Hal ini juga terjadi di  Dunia Barat dan Kristen terhadap Islam, yang dilanda islamophobia.

Teman saya tadi dan muslim yang lain, ingin mengatakan, kami di sini  mayoritas, boleh dan dapat berbuat apa saja terhadap dan di negeri ini, sedangkan kamu kelompok minoritas harus mendapatkan ijin dan restu dari kami”.

Penulis
Toufik Imtikhani, SIP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here