The news is by your side.

KH. Jatira dan Perlawanan Tak Tercatat dalam Sejarah

Wahyu Iryana, sejarawan dan kader muda NU – Pada tahun 1888, ketika Perang Cirebon Raya berkobar dan penguasa kolonial mengerahkan segala daya untuk menundukkan perlawanan rakyat, seorang kiai dari Babakan Ciwaringin berdiri di garis depan perjuangan. Namanya KH. Jatira, sosok yang namanya jarang disebut dalam buku-buku sejarah resmi, tetapi jejak langkahnya tertinggal dalam ingatan para santri dan masyarakat sekitar.

KH. Jatira bukan sekadar ulama. Ia seorang pejuang yang dengan gagah berani menghadapi kekuatan kolonial di Cirebon, terutama dalam konteks Perang Kedondong 1802 dan pemberontakan rakyat pada 1888. Dalam Boendel Tjirebon, sebuah arsip Belanda yang mencatat berbagai peristiwa di wilayah ini, disebutkan bagaimana perlawanan rakyat Cirebon terhadap kolonialisme bukan hanya datang dari kalangan bangsawan, tetapi juga para ulama pesantren.

 

Perang Cirebon Raya dan Awal Perlawanan

Perang Kedondong yang pecah pada tahun 1802 adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan sistem kolonial yang menekan kehidupan rakyat. Perang ini dipimpin oleh tokoh-tokoh pesantren dan masyarakat desa yang merasa tanah mereka dirampas oleh Belanda. Di tengah situasi itu, KH. Jatira, yang saat itu masih muda, mulai membangun jaringan perlawanan berbasis pesantren.

Babakan Ciwaringin sejak lama dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang memiliki hubungan erat dengan pergerakan anti-kolonial. KH. Jatira bukan hanya mengajarkan fikih dan tasawuf, tetapi juga menyelipkan ajaran perlawanan dalam kajian-kajian kitabnya. Ia paham bahwa penjajahan tidak hanya merusak tanah air, tetapi juga mengancam keberlangsungan ilmu dan agama.

Seperti daun yang jatuh ke tanah tanpa suara, perlawanan yang dipimpin KH. Jatira berkembang di bawah bayang-bayang kecurigaan Belanda. Ia mengorganisir para santri dan petani, membentuk pasukan kecil yang bergerak dengan taktik gerilya. Mereka menyerang patroli Belanda, membakar gudang logistik, dan menyabotase jalur distribusi kolonial.

Namun, perlawanan besar pecah kembali pada 1888, yang kemudian dikenal sebagai Perang Cirebon Raya. Inilah momentum di mana KH. Jatira tidak lagi bisa bergerak dalam bayang-bayang, tetapi harus berdiri di medan laga.

 

Perang Cirebon Raya 1888: Api yang Tak Padam

Pada akhir abad ke-19, kebijakan kolonial semakin menekan rakyat. Pajak tinggi, kerja paksa, dan eksploitasi sumber daya alam membuat masyarakat Cirebon marah. Di bawah koordinasi jaringan pesantren, termasuk KH. Jatira, meletuslah perlawanan berskala besar.

Boendel Tjirebon mencatat bahwa Belanda menganggap perlawanan ini sebagai ancaman serius. Mereka mengirim pasukan dengan persenjataan lengkap untuk menumpas pemberontakan. Namun, KH. Jatira dan para santrinya bertempur dengan cara mereka sendiri—menyerang dalam kegelapan, bergerak cepat sebelum pasukan kolonial bisa membalas.

Malam di Babakan Ciwaringin bergetar oleh suara langkah kaki para pejuang. Di antara pepohonan, bayangan mereka menjelma angin yang menusuk penjaga kolonial. Senjata mereka sederhana—bambu runcing, pedang, dan tekad yang tak bisa dibeli dengan gulden.

Di sinilah KH. Jatira menjadi legenda. Ia bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga panglima di medan perang. Ia mengingatkan para santri dan petani bahwa perjuangan ini bukan sekadar melawan penjajahan, tetapi juga jihad fi sabilillah.

Dan pada suatu malam yang gerimis, saat bulan sabit menggantung redup di langit, ia menuliskan pesan terakhirnya di atas selembar daun lontar:

“Jangan takut pada mati, sebab mati hanyalah jalan pulang. Tak ada yang lebih indah dari pulang dengan kepala tegak, membawa kehormatan yang tak ternoda.”

 

Akhir yang Tak Pernah Menyerah

Belanda akhirnya berhasil menangkap banyak pejuang, beberapa di antaranya dieksekusi, yang lain diasingkan ke luar Jawa. KH. Jatira tidak pernah ditemukan. Beberapa versi menyebut ia gugur di medan perang, sementara versi lain mengatakan ia melarikan diri ke pedalaman dan terus mengajar hingga akhir hayatnya.

Sejarah resmi mungkin melupakannya, tetapi di sudut-sudut pesantren, namanya masih disebut dalam doa-doa para santri. Jejaknya tidak tertulis dalam buku pelajaran, tetapi tersimpan dalam ingatan mereka yang percaya bahwa perjuangan tak selalu butuh panggung besar.

Sebab, seperti hujan yang jatuh tanpa meminta tepuk tangan, para pejuang sejati selalu hadir dalam keheningan, menjadi embun yang menyejukkan tanah, meskipun tak terlihat oleh mata sejarah.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.