Kiai Ma’ruf: Sikapilah Perbedaan Penafsiran Ayat Al-Qur’an dengan Toleran

37

Jakarta, NU Online

Mustasyar PBNU yang juga Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin mengemukakan tentang pentingnya penyikapan secara toleran terhadap terjadinya perbedaan penafsiran ayat Al-Qur’an.

Kiai Ma’ruf menyatakan bahwa semua pihak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, sumber inspirasi, landasan berpikir, kaidah penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, tidak jarang terjadi perbedaan, bahkan benturan karena perbedaan penafsiran. 

“Memang semua bicaranya menggunakan Al-Qur’an sebagai sumbernya, tapi tidak jarang terjadi perbedaan, bahkan benturan,” kata Kiai Ma’ruf pada peringatan Nuzulul Qur’an di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (23/5).

Padahal menurutnya, perbedaan penafsiran bukan menjadi persoalan ketika semua pihak dapat menyikapinya dengan toleran.

Ia mencontohkan bagaimana dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 10 yang berbunyi

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا 

Artinya “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya”.

Ia mengatakan, ayat tersebut terjadi perbedaan penafsiran. Ada yang menafsirkan langit tidak ada tiangnya, sementara pihak yang lain menafsirkan ada tiangnya. “Jadi satu ayat beda penafsiran,” ucapnya.

Begitu juga dalam kasus penerapan ayat Al-Qur’an yang dinilai tidak sesuai dengan situasinya, seperti Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 191.

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ 

Artinya, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka (orang-orang kafir), dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah)”.

Menurutnya, ayat tersebut sangat berbahaya jika diterapkan dalam kondisi damai karena ayat itu terkait dalam situasi perang. “Situasi perang itu kalau tidak membunuh ya dibunuh. Pilihannya membunuh atau dibunuh. Tapi ketika dalam suasana damai, ayatnya bukan itu,” ucapnya.

Oleh karena itu, menurutnya, untuk kondisi damai, seharusnya ayat yang dipakai adalah Surat Al-Mumtahanah ayat 8.

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ 

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu”.

“Jadi Indonesia negara damai maka tidak boleh menggunakan ayat-ayat perang. Ini juga perlu diluruskan,” jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here