Kiai Ma’ruf: Sikapilah Perbedaan Penafsiran Ayat Al-Qur’an dengan Toleran

Jakarta, NU Online
Mustasyar PBNU yang juga Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin mengemukakan tentang pentingnya penyikapan secara toleran terhadap terjadinya perbedaan penafsiran ayat Al-Qur’an.
Kiai Ma’ruf menyatakan bahwa semua pihak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, sumber inspirasi, landasan berpikir, kaidah penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, tidak jarang terjadi perbedaan, bahkan benturan karena perbedaan penafsiran.
“Memang semua bicaranya menggunakan Al-Qur’an sebagai sumbernya, tapi tidak jarang terjadi perbedaan, bahkan benturan,” kata Kiai Ma’ruf pada peringatan Nuzulul Qur’an di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (23/5).
Padahal menurutnya, perbedaan penafsiran bukan menjadi persoalan ketika semua pihak dapat menyikapinya dengan toleran.
Ia mencontohkan bagaimana dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat 10 yang berbunyi
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا
Artinya “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya”.
Ia mengatakan, ayat tersebut terjadi perbedaan penafsiran. Ada yang menafsirkan langit tidak ada tiangnya, sementara pihak yang lain menafsirkan ada tiangnya. “Jadi satu ayat beda penafsiran,” ucapnya.
Begitu juga dalam kasus penerapan ayat Al-Qur’an yang dinilai tidak sesuai dengan situasinya, seperti Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 191.
وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ
Artinya, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka (orang-orang kafir), dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah)”.
Menurutnya, ayat tersebut sangat berbahaya jika diterapkan dalam kondisi damai karena ayat itu terkait dalam situasi perang. “Situasi perang itu kalau tidak membunuh ya dibunuh. Pilihannya membunuh atau dibunuh. Tapi ketika dalam suasana damai, ayatnya bukan itu,” ucapnya.
Oleh karena itu, menurutnya, untuk kondisi damai, seharusnya ayat yang dipakai adalah Surat Al-Mumtahanah ayat 8.
لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ
Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu”.
“Jadi Indonesia negara damai maka tidak boleh menggunakan ayat-ayat perang. Ini juga perlu diluruskan,” jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



