Kritik & Refleksi diri terhadap G30S PKI

22

Novandi* – Mungkin saat ini sudah banyak kita ketahui dalam sejarah bagaimana bengis dan kejam nya PKI pada saat itu. Di sisi lainnya, mungkin juga saat ini banyak simpatisan PKI yang baginya merasa tidak adil atas dasar kemanusiaan. Namun, semua itu adalah sebuah sejarah yang telah terjadi. Dari mana kita memandangnya, dari situ kita juga akan merasakanya.

Gus Baha bilang, “Yang terpenting dari sesuatu itu (untuk ketahui/diselidiki) adalah ajarannya, begitupun PKI (komunisme)”. Kita ketahui PKI yang berbasis ajaran komunis memang mempermasalahkan kelas sosial. Dan itu pada kenyataannya berlawanan dengan kondisi negara ini yang majemuk. Upaya PKI menghapus kelas sosial, sama rata, sama rasa yang ujung nya tanpa agama menimbulkan tragedi tersendiri dalam lintasan sejarah. Agama mengajarkan sosial tapi tidak sosialis karena di dalam agama pun kita berhak menentukan hidup lewat jalur mana pun karena kita manusia mempunyai kreatifitas, inovasi dan kreasi bukan robot yang hanya mengikuti tuannya.

Lucunya, banyak simpatisan yang merasa iba atas pembantaian PKI sampai menuntut negara meminta maaf segala. Teringat Cak Nun, “Kita harus saling memaafkan, bukan menuntut meminta maaf.. Karena secara aturan ya salah semua tapi secara adat yang mulai duluan itu yang salah” ujar-nya dalam sebuah majelis maiyah.

Memang begitu, karena kita hanya penikmat sejarah tidak merasakan diantara kedua belah pihak baik yang dirugikan ataupun yang merugikan, tapi jika terus saling gontokan tidak akan selesai, toh saling memaafkan lebih baik. Dan, apakah selama ini keturunan PKI tidak boleh menjadi warga negara Indonesia ? Tidak juga kan ? Tapi jangan keliru, itu bukan berarti mendukung gerakkan PKI dan jangan sampai mendukung gerakkan PKI.

Namun, lucu juga ketika kita tidak pro dengan PKI kemudian diplintir pro Soeharto yang menjadi lawan politik PKI. Padahal mungkin memang terjadinya tragedi G30S PKI menjadi moment tepat untuk Soeharto saat itu.

Sudahlah, rakyat saat ini harus hidup tenang, tentram dan sejahtera, biarkan sejarah menjadi pelajaran dengan tidak menghilangkan sejarah itu sendiri. Baik PKI, Soeharto dan semuanya punya masa kejayaan lalu tumbang, dan kita hadirkan kedamaian dengan tidak menuntut merasa paling benar.

*) Penulis adalah Sekretaris PAC IPNU Kec. Karangampel

Previous articleKyai Yayan, JRA dan Ujian NU Menghadapi Orang yang “Kerasukkan”
Next articlePerkuat Silaturahmi,Kopri Pangandaran Ajak Anggotanya Kembangkan Hobi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here