Mencari Dalang (di Balik) Peristiwa G30S1965 ?
Siapa Letkol Untung sebenarnya?
Tentara kesayangan Soeharto itu kelahiran Kedungbajul Kebumen dan dibesarkan oleh Samsuri, pamannya yang di Solo sejak kelas 3 SR (SD). Menikah dengan Hartati anak Sukandar pengusaha di Kebumen yang berasal dari Kedungbajul.
Letkol Untung termasuk pemuda yg terlambat menikah dan baru berumah tangga setelah menjadi Danyon. Ketika pernikahan dilangsungkan di Kedungbajul, ada surprise dalam perjalanan hidupnya, karena Mayjen Soeharto yang Panglima Kostrad beserta istri hadir di pesta pernikahan itu. Biasanya seorang jendral menghadiri acara seperti itu ada sesuatu yg istimewa, pertanda apakah? Tidak lain indikasi kedekatan hubungan seorang Untung Sutopo dengan sang Jenderal.
Letkol Untung ditetapkan sebagai pelaku dan dihukum mati, mesti tidak jelas di mana kuburannya. Boleh jadi dia sebagai “pelaku” atau malah tidak mustahil sebagai korban atau orang yang dikorbankan oleh sebuah konspirasi yang rumit dan pelik. Itulah ceritra Zaenaldi ZA. seorang kolektor buku2 sejarah.
Menurut orang Bandung itu, dari rangkaian prolog dan epilog peristiwa G30S (1 Oktober) yang juga telah memakan beberapa orang Jenderal menjadi korban. Pasca peristiwa G30S Resimen Cakrabirawa dibubarkan dengan membawa nama cacat dan cemar karena dianggap terlibat G30S. Peristiwa G30S sendiri sungguh berbelit, siapa memanfaatkan siapa dan siapa mengorbankan siapa?
Sementara Untung yg disebut dalang PKI dari tentara, juga ada orang kedua di dalam CC PKI (terakhir) itu, adalah M.H. Lukman. M.H.-nya apa? Apakah Mochamad Hatta, karena M.H. Lukman itu anak angkat Bung Hatta.
Semasa Ketua Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) Cabang Yogyakarta 1965 BRA Moertiningrum. Dia dipenjarakan di kamp Plantungan Kendal hampir 12 tahun. Moertiningrum ini adik dari Sultan Hamengkubuwono IX. Sedangkan Sakirman pentolan CC PKI adalah kakak kandung Mayjen Siswondo Parman, yang dikenal dengan nama S.Parman Pahlawan Revolusi korban G30S. Mereka dari keluarga kaya di Wonosobo. Ayahnya pemilik perkebunan tembakau.
Ini yang lebih miris, Ki Hajar Dewantara, sebagai Bapak Pendidikan nasional memiliki Anak bungsu Bambang Soekowati Dewantara yang dulu redaktur Koran Harian Rakyat milik PKI. Begitulah setiap manusia membawa lakonnya sendiri.
Ada juga hal yang sepertinya musykil, yaitu Adik bungsu H. Agus Salim (Pahlawan Nasional) bernama Chalid Salim yang dulu dibuang ke Digul oleh Belanda. Chalid Salim terlibat pemberontakan PKI 1926. Setelah dibebaskan entah mengapa dia pindah ke Belanda dan menikah di sana, tentu dengan perempuan Belanda. Tidak hanya itu, Chalid Salim kemudian berganti agama, menjadi Kristen sampai matinya. Pernah H. Agus Salim ditanya seseorang tentang adiknya, Haji Agus Salim yang pandai bersilat lidah menjawab: “Ooh si Chalid sekarang sudah lebih baik dia sekarang dan sudah punya Tuhan” (Biografi Chalid Salim terbit pada 1980-an).
Penulis tidak mengarahkan siapa aktor intelektual peristiwa September kelabu, juga bisa jadi pembaca memiliki penilaian berbeda.
Pashovi dari sumber utama Zainaldi ZA
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



