Mencari Jalan (Siger) Tengah

58

Rudi Sirojudin Abas – Perjalanan hidup berbangsa dan bernegara penuh dengan dinamika. Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 5 Mei 2021, publik dikejutkan dengan peristiwa gagalnya 75 orang pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menjalani tes wawasan kebangsaan (TWK). Pemicunya adalah instrumen soal TWK. Dalam soal tersebut, pegawai KPK dihadapkan pada pertanyaan dilematis yang harus memilih salahsatu di antara dua hal yang sifatnya tendensius. Pancasila atau Al-Qur’an?

Pejabat yang menjadi tulang punggung negara dalam memerangi kejahatan korupsi harus rela mempertaruhkan jabatannya karena suatu pilihan yang membingungkan. Alih-alih dapat mempertahankan eksistensinya sebagai orang yang terdepan dalam memberantas korupsi, justru terperangkap oleh suatu pilihan pertanyaan yang tidak dibenarkan siapa pun.

Sebagaimana diketahui, Pancasila merupakan dasar dan ideologi negara Indonesia. Semua aktivitas masyarakat Indonesia dalam hidup berbangsa dan bernegara diatur oleh hukum dan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Sementara Al-Qur’an merupakan sumber utama, norma, serta pijakan masyarakat Islam Indonesiadalam mengatur kehidupan keberagamaannya.

Iklan Layanan Masyarakat

Sejatinya, Pancasila sebagai asas bernegara dan Al-Qur’ansebagai asas beragama tak elok untuk dipertanyakan. Mana dari keduanya yang paling terbaik? Pancasila dan Agama telah menjadi bagian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Keduanya saling melengkapidan tidak bertentangan.

Betul apa yang dikatakan Mohammad Natsir dalam ceramah Apakah Pancasila Bertentangan Dengan Ajaran Al-Qur’an? Pancasila adalah dasar hidup umat Islam dan induk dari lima sila dalam Pancasila yang memberi nilai-nilai hidup yang menghidupkan. Pancasila tidak boleh dipertentangkan dengan Al-Qur’an disebabkan Al-Qur’an membawakan tauhid kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan induk dari sila-sila dalam Pancasila.

Siger Tengah

Penulis ingin melihat permasalahan etika sosial kenegaraan di atas dari ajaran Sunda yang semestinya menjadi pijakan kita dalam menjalani kehidupan berbangsa dan beragama. Etika sosial itu adalah kearifan lokal Siger Tengah (Jalan Tengah). Hakikatnya, ajaran Siger Tengah adalah perilaku sosial masyarakat yang berasal dari identitas bangsa Indonesia secara keseluruhan yang bercirikan cinta damai, toleran, dan moderat.

Semakin dekat kepada ajaran Siger Tengah, maka kehidupan akan semakin beradab dan terarah. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk diharmoniskan. Namun sebaliknya, jika perbedaan dipertentangkan, maka yang terjadi adalah disharmoni. Dan yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya potensi konflik. Jika potensi konflik dibiarkan maka akan menimbulkan kelemahan dari salah satu atau dari kedua-duanya.

Jakob Sumardjo dalam Struktur Filosofis Artefak Sunda (2019) menyebutkan Siger Tengah merupakan inti dari kearifan lokal Sunda. Pemikiran Siger Tengah bersifat moderat. Pemikiran moderat memperlakukan segala sifat atau kualitas segala sesuatu yang saling bertentangan sebagai keberadaan yang saling mengeksistensi, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan.

Kesempurnaan adalah mengharmonikan segala sesuatu yang bersifat kontradiktif dalam suatu entitas (keberadaan) baru yang mengandung sifat-sifat yang saling bertentangan itu yang dengan sendirinya bersifat paradoks. Paradoks disini harus diartikan positif, yakni saling melengkapi kekurangan masing-masing oleh kelebihan masing-masing.

Siger Tengah adalah jalan perdamaian, harmoni, terbuka, toleran, saling membenarkan, menyadari kodrat perbedaan, hidup saling mengasihi (silih asih), saling mengingatkan (silih asah), dan saling melindungi atau memelihara perbedaan masing-masing (silih asuh).

Kaitannya dengan permasalahan Pancasila dan Agama, yang mesti diketahui adalah perjalanan historis bangsa Indonesia sehingga kini menjadi bangsa yang berdaulat dengan keberagaman etnis, bahasa, budaya, maupun agama.

Sebelum berdaulat,kerberagaman etnis, bahasa, budaya, dan agama lokal (primordial) menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Sementara agamaIslam, Hindu, Budha, Kristen, dan agama besar lainnya baru datang kemudian.

Sebelumnya, bangsa Indonesia mempunyai agama lokal masing-masing seperti animisme dan dinamisme (bisa dikategorikan al shabi’in). Di sinilah karakter Siger Tengah masyarakat Indonesia muncul yang mengakibatkan agama baru (Islam, Hindu, Budha, Kristen, Kong Hu Cu) diterima dengan baik sesuai dengan pilihan masing-masing meskipun agama lokal seperti Sunda Wiwitan, Kejawen, Aliran Kebatinan, dan kepercayaan yang lainnya masih berkembang.

Sementara Pancasilatelah menjadi sebuah kesepakatan (konsensus) sebagai pijakan dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Pancasila dapat diterima dengan baik oleh para pendiri bangsa disaat mereka merumuskan ideologi negara pada tahun 1945. Meskipun saat itu masih ada teks normatif agama tertentu (Islam) dalam sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknyayang kemudian diubahmenjadi Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi momen penting dalam usaha menjalin rasa persatuan satu bangsa dan negara tanpa mempertentangkan Pancasila dan Agama.

Pancasila sebagai produk ideologi bangsa Indonesiasebagai wadah untuk mengikat keberagaman perbedaan menjadi satu kesatuan perlu dijaga dan dipelihara. Nilai-nilai esensial agama pun sejatinya telah terkandung dalam keseluruhan butir-butir Pancasila. Oleh karena itu, maka tidak berlebihan jika penulis berpendapat bahwa Pancasila merupakan jalan (siger) tengah yang dijadikan asas bernegara dalam mengakomodir setiap perbedaan-perbedaan dengan tujuan utamanya yaitu menciptakan keselarasan (harmoni) hidup berbangsa, bernegara, dan beragama.

Dalam praktik sosial keberagamaan, pada masyarakat Sunda (umumnya pada masyarakat Indonesia primordial) telah memiliki hukum adat tersendiri. Masyarakat Sunda mengenal tiga kesatuan hukum, yakni kesatuan buhun (adat Sunda), nagara (pemerintahan nasional), dan sarak/syariat (Islam). Tiga kesatuan Sunda-Nagara-Islam asal muasalnya dua entitas, yakni Sunda (lama) dan Islam (baru). Keduanya dapat harmoni dalam satu kesatuan yaitu melalui mediasi Nagara. Jadi Nagara (negara) atau pemerintahan di sini adalah Siger Tengah yang dimaksud. Maka peran pemerintah akan menjadi sangat sentral keberadaannya sebagai penyeimbang (penengah) dua entitas yang berbeda, yakni adat dan agama. Dengan demikian,jika dibawa pada konteks keindonesiaan, negara sendiri itu adalah Pancasila sehingga Pancasila sendiri adalah sebagai Siger Tengah.

Siger Tengah dalam konteks beragama senapas dengan kaidah ushul fikih “al-muhafadzah alal-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah” (melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik).Jika merujuk pada penjelasan tersebut, maka yang lama adalah Adat. Yang baru adalah Agama. Sementara Siger Tengahnya  adalah Pancasila.

Mengutip pendapat Bung Karno tentang Pancasila, maka Siger Tengah dalam konteks kenegaraan senapas dengan pidatonya pada 1 Juni 1945 bahwalima sila dalam Pancasila bisa dipadatkan menjadi tiga (trisila). Dan yang tiga itu itu bisa dirampingkan menjadi satu (ekasila). Dengan demikian ekasila sendiri yaitu Pancasila sebagai Siger Tengah itu sendiri.

Penulis adalah Nahdliyin tinggal di Kabupaten Garut

Previous articleMUI Tanjungkerta Resmi Dilantik, Kiai Sanusi : Pengurus MUI Harus Mempersatukan Umat Islam
Next article[SALAH] Resep Obat Untuk Pasien Covid-19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here