Mengenang Gus Dur Sepanjang masa: Nilai Strategis Gus Dur
Gus Dur sebagai kyai
Penghormatan kepada kyai oleh warga NU juga terjadi pada diri mendiang Gus Dur. Melihat relasi antara warga NU dan Gus Dur haruslah dilihat sebagai relasi antara santri dan kyainya. Secara kebetulan, dari aspek genealogis, Gus Dur merupakan keturunan kyai-kyai besar di Jawa ( Zamachsari Dhofier, Tradisi Pesantren 1981 ). Dari garis ayah, ia anak KH. Wahid Hasyim. Tokoh NU pada jaman pergerakan, dan cucu Hadratussyaikh Hasyim as’ary, pendiri NU. Dari garis ibu, ia cucu KH. Bisry Sansury, tokoh pendiri NU yang lain. Zamachsari Dofier juga menyebutkan, bahwa kekerabatan antar kyai besar di Jawa, terutama melalui ikatan perkawinan, juga melibatkan klan nenek moyang Gus Dur. Sehingga tepat kata Fahry Ali, bahwa dalam diri Gus Dur mengalir darah biru NU ( GATRA, 26/11/1994 ). Dalam pandangan NU, ia adalah bagian the sacred teritory. Eksistensinya bahkan sampai kepada posisi dan tahapan can do no wrong. Apa yang dilakukan oleh Gus Dur, meskipun aneh, nyleneh, dan membingungkan, selalu benar tak pernah salah dan dapat diterima oleh warga NU.
Sebenarnya tindakan kontroversial bukan hanya dilakukan oleh Gus Dur. Para anak kyai, yang biasanya dipanggil “gus”, bertindak aneh dan nyleneh adalah hal yang biasa, bagi warga NU, bukan hal yang tabu lagi. Keanehan Gus Dur dalam pandangan warga NU, dipandang sebagai suatu tindakan yang telah sampai kepada gradasi spiritual tinggi. Karena warga NU menganggap Gus Dur adalah wali. Ia dipercaya mempunyai ilmu ladunni, ilmu pertolongan Tuhan. Ilmu sangkan paraning dumadi, ngerti sak durunge winarah ( Mahrus Irsyam, GATRA, 26/11/1994 ).
Bagi ulama NU dan warga NU, Gus Dur adalah jimat. Bagi generasi muda NU, Gus Dur adalah simbol perjuangan. Pemikiran keagamaannya yang progresif, melangkah jauh ke depan, menempatkan Gus Dur pada selera dan citra intelektual yang tak tertandingi. Umarudin Masdar dalam buku Membaca Pikiran Gus Dur dan Amien Rais tentang Demokrasi ( 1999 ), dapat menjadi rujukan, mengapa warga NU dan generasi muda NU, sangat mengagumi sosok Gus Dur. Ia mencontohkan kejadian Muktamar NU Cipasung 1994. Bagaimana Gus Dur memenangi pertarungan dengan eksternal NU yang hendak meminggirkan dirinya ( lihat pula Badrun Ngalaena, NU, Kritisisme, dan Pergeseran Makna Aswaja, 2000 ). Kemenangan Gus Dur digambarkan sebagai kemenangan arus bawah ( rakyat ) yang menghendaki demokrasi dan arus atas ( pemerintah ), yang bersikap sewenang-wenang.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



