Mengenang Gus Dur Sepanjang masa: Nilai Strategis Gus Dur
Dalam komunitas NU, nama kyai dilekatkan kepada seseorang yang mempunyai kelebihan dalam bidang agama. Jadi, gelar kyai merupakan bentuk pentasbihan sekaligus pengakuan, karenanya mengandung nilai legitimasi dari masyarakat kepada seseorang. Gelar ini tidaklah diperoleh secara Cuma-Cuma, apalagi ada pengakuan secara sepihak. Maka tidak salah jika ada orang yang mengatakan bahwa gelar kyai merujuk kepada proses mistifikasi atau sakralisasi. Linier dengan pernyataan tersebut, maka tidak salah pula jika ada individu atau kelompok yang melakukan kultus secara individu kepada kyai.
Namun demikian, anggapan bahwa warga NU terlalu mengkultus-kan kyainya, tidak tepat. Penilaian semacam itu terlalu menggeneralisir, meskipun diakui bahwa ketaatan warga NU kepada kyainya sangat mendalam. Kyai dalam tradisi NU menempati posisi yang sangat sentral, sebagaimana seorang imam dalam solat. Sebab pada dasarnya NU merupakah sebuah jamaah ( lebih bernuansa kultural ) dari pada bersifat jamiyyah ( organisasi formal ), meskipun langkah untuk membangun organisasi yang lebih baik terus dilakukan.
Kemantapan jamaah NU dalam menerima dan mengikuti fatwa dari para kyai, didukung oleh suatu penghormatan jamaah yang menempatkan kyai sebagai contoh atau role model yang baik ( uswah hasanah ) dalam setiap ucapan dan tindakan mereka. Apa yang dikatakan kyai, difatwakan dan dilakukan, dilihat sebagai sesuatu yang baik untuk diikuti dan diteladani ( Faisal Ismail dalam, NU, Gusdurisme, dan Politik Kyai, 1999 ).
Ketaatan warga NU kepada kyainya juga tidak terlepas dari apresiasi yang mendalam kepada ilmu agama. Sebab ketika warga NU berhadapan dengan kyainya, maka ia menempatkan dirinya sebagai santri-murid dihadapan kyai-guru agamanya. Dalam kitab Ta’limul Muta’alim, suatu kitab yang wajib dipelajari oleh para santri, diajarkan suatu etika bagaimana seorang santri terhadap gurunya, termasuk sikap hormat kepada kyai ( guru agama ). Sikap penghormatan kepada kyai, dianggap bagian syarat agar ilmu yang diperoleh dapat barokah dan bermanfaat. Perasaan hormat kepada guru/ kyai ini tetap ditunjukkan oleh warga NU, meskipun mereka telah meninggal dunia, dengan cara mengadakan kegiatan ziarah dan upacara haul. Inilah bagian dari tradisi NU yang tidak dimiliki oleh kelompok lain.Bukan sebuah pengkultusan terhadap individu.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



