The news is by your side.

Mengusut Hadis Maudhu’

Mengusut Hadis Maudhu’ | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Johan Ahmad Fauzan – Pada permulaan kurun kedua tahun hijriah atau masa mulai munculnya banyak perbedaan pendapat ini mempunyai banyak pengaruh yang dapat kita rasakan sampai hari ini. Salah satunya adalah kemunculan hadis maudhu’ (hoax) yang disebarkan oleh para oknum hadis ini. Hal ini juga menjadi kecemasan dalam berbagai aspek, baik dalam bidang hukum atau selainnya.

Hadis maudhu’ adalah perkataan bohong dan dibuat-buat yang disandarkan kepada Rasulullah Saw. Hadis Ini adalah termasuk lebih buruk dan lebih jelek dari hadis dhaif. Bahkan, sebagian ulama menganggapnya sebagai kategori tersendiri, dan bukan termasuk dari kategori hadis dhaif. (Mahmud At-Thahan, Taisir Musthalah Al-Hadits, Maktabah Syamilah, hal. 111)

Kitab Taisir Musthalah Al-Hadits juga menjelaskan: “Para ulama sepakat bahwa hadis maudhu’ tidak boleh bagi siapapun yang mengetahui keadaannya dalam makna apapun untuk meriwayatkannya, kecuali dengan penjelasan keadaannya”, berdasarkan hadits Muslim:

‌مَنْ ‌حَدَّثَ ‌عَنِّي ‌بِحَدِيثٍ ‌يُرَى ‌أَنَّهُ ‌كَذِبٌ ‌فَهُوَ ‌أَحَدُ ‌الْكَاذِبِينَ

“Barangsiapa menyampaikan dariku suatu hadits yang diketahui bahwa hadits itu dusta,
maka ia adalah salah seorang dari orang-orang pendusta”
(Imam An-Nawawi, Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, Maktabah Syamilah, Vol. 1, hal. 71)

Dalam kitab Mudzakkiraat fi Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, Dr. Ahmad Ali Thaha Rayyan menyebutkan bahwa latar belakang dari hadis maudhu’ ini muncul karena tidak adanya kodifikasi hadis, rasa cukup sahabat terhadap hafalannya, dan sulitnya menjaga apa yang disampaikan dan yang dilakukan Rasulullah Saw dalam rentan waktu 23 tahun mulai awal mula turunnya wahyu sampai wafatnya Rasulullah saw.

Mengenai latar belakang ini, Dr. ‘Alawi bin Hamid bin Muhammad dalam kitab Muqaddimah fi Musthalah Al-Hadis wa ‘Ulumihi sudah menjelaskan bahwa dulu pada zaman Rasulullah Saw para sahabat sudah ada larangan untuk penulisan hadis nabawi. Buktinya ditunjukkan dengan adanya hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al-Khudri dalam Shahih Muslim dan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah dalam Musnad Ahmad. Kendati demikian karena khawatir akan tercampurnya penulisan Al-Qur’an.

Namun, disisi lain juga terdapat hadis yang memperbolehkan penulisan hadis pada zaman Rasulullah Saw tersebut. Yakni, hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash dalam Sunan Abi Dawud dan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat dari Yaman bernama Abu Syaat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari riwayat Abu Hurairah.

Adapun sebab dari hadis maudhu’ adalah bersumber dari beberapa sebab, yaitu:
Pertama, Berhasilnya misi penyusupan musuh islam di antara umat muslimin yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam, Yakni: orang Yahudi, Nasrani, Persia, dan romawi pada zaman itu. Yang tak lain tujuan misi tersebut adalah ingin merusak agama Islam.

Kedua, Terbaginya politik dalam Islam. Politik menjadi salah satu sebab hadis maudhu’ karena masing-masing dari golongan tersebut memalsukan hadis hanya untuk keuntungan dan kepentingan kelompoknya belaka. hal inilah yang pernah dilakukan golongan Syi’ah dan Khawarij.

Ketiga, Terbujuknya sebagian Ulama’. Mereka berani melakukan pemalsuan dan mengatas namakan hadis tak lain dan tak bukan adalah karena suka terhadap hal duniawi yang ada pada Khulafa’ (pemerintah), baik berupa: harta, tahta, wanita, atau yang lain.

Keempat, Ulama’ terlalu toleran. Yakni, sebagian ulama’ terlalu meremehkan adanya pembahasan tentang bab fadhilah (fadhail) dan bab intimidasi (tarhib) dalam ranah syariat.
Wallahu a‘lam.

Nama: Johan Ahmad Fauzan
Status: Mahasantri Ma’had Aly An-Nur II

Penulis
Johan Ahmad Fauzan
Leave A Reply

Your email address will not be published.