Menyingkap Tabir Muharam; Duka Rasul dan Ulama Dunia

45

Menyingkap Tabir Muharam; Duka Rasul dan Ulama DuniaDalam rangka menyambut datangnya tahun baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriyah, ratusan warga komplek Permata Nusa Indah, Situ Sari, Kec. Cileungsi, Kab. Bogor Jawa Barat melakukan Gema Muharaman Sabtu (16/9) malam.

Acara yang cukup semarak itu dirangkai dengan kegiatan Yasinan bersama, membaca Ratib Al Haddad, shalawatan pada Nabi Muhammad Saw, penampilan santri dan Jamaah pengajian Ummahat serta Tausiyah oleh Wakil Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama PC. Pergunu Depok, H Abdul Hadi Hasan

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid DKM Al Muhajirin, Ustadz Khoirul dalam sambutannya menjelaskan hebatnya tali persaudaraan antar warga di Kompleks Permata Nusa Indah.

Iklan Layanan Masyarakat

“ Kami baru memulai pembangunan Masjid Al Muhajirin sejak 4 bulan lalu, Alhamdulillah berkah giroh dan kuatnya tali persaudaraan warga disini, kami bisa laksanakan pengajian, yasinan dan ratiban.” Ucap Kang Khoirul.

Sementara Ustadz Abdullah turut menyambut dan menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah Swt dan terima kasih pada Jamaah dan warga. “ Berkat kerjasama kita semua, kita dapat melaksanakan syiar Muharam dan menyantuni anak-anak yatim, Alhamdulillah.” tegas Kang Abdullah yang dipercaya sebagai ketua panitia.

Dalam acara yang bertema, “Dengan Semangat Hijrah Kita Tingkatkan Ukhuwah Islamiyyah Menghadirkan Pendidikan Islam Bagi Generasi Muda” pihak panitia mengundang Muharrik dakwah blusukan dari Pergunu Depok.

H Abdul Hadi Hasan mengatakan bahwa Muharam adalah Bulan tarbiyah, bulan sakral dan bulan yang diagungkan oleh Allah SWT. “ Muharam menjadi Sakral dan membumi di Nusantara karena memiliki landasan ayat-ayat Al Quran, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Surat At Taubah Ayat 36.” Tegas Kang Hadi yang juga aktif sebagai Muharrik Masjid.

Menurutnya Allah SWT memerintahkan muslimin menghormati, memuliakan bulan tersebut dan dalam sejarah Islam Nusantara bulan itu biasa dikenal dengan Suro. “ Suroan, dinisbatkan pada kata Asyuro artinya kesepuluh, dimana pada 10 Suro salah satu Cucu Rasul yang bernama Sayidina Husein meraih kesyahidan.” Papar Kang Hadi

Dia melanjutkan, Muharam dikenal sebagai bulan duka Rasul yang membumi, Ulama sejak dahulu mengejawantahkan Hikmah Muharam dengan berbagai acara, diantara ada Lebaran anak yatim, ada pembuatan bubur merah dan putih, ada pembacaan epos Sayidina Husein, pencucian senjata dan peralatan pusaka di keraton-keraton, dan Peringatan Tabot seperti di Bengkulu. Semua itu hal baik dan memiliki landasan filosofis, jangan heran Muslimin Nusantara sejak dahulu begitu menghormati Muharam dan menghidupkan syiarnya.

Akar Sejarah Muharam ini jarang sekali disingkap dan diungkap, padahal tertulis rapih dalam lembaran kitab para alim ulama Dunia dan Nusantara. Yang mengherankan, ada sebagian kelompk yang menolak peringatan Muharaman, padahal jika diteliti, ada para Ulama yang ketika memasuki Muharam, mereka akan membahas kronologis tragedi kemanusiaan terbunuhnya Pemimpin Pemuda Ahli Surga, Sayidina Al Husein. “ Makanya aneh jika ada yang berteriak peringatan Haul dan Muharaman itu bid’ah.” Tegas Kang Hadi.

Kang Hadi menuturkan, para Alim Ulama mengekpresikan duka Muharam dengan berbagai kegiatan dan cara, seperti Al Imam Syafi’i dalam kitab diwannya Menulis tentang Sayidina Husein sebagai berikut

Menyingkap Tabir Muharam; Duka Rasul dan Ulama DuniaHatiku mengeluh, karena hati manusia sedang merana…
Kantuk tak kunjung tiba, sulitnya tidur membuatku pusing….
Wahai siapakah yang bisa menyampaikan pesanku kepada Sayidina Husain.
Yang disembelih, dibantai, padahal tak berdosa.
Bajunya seakan-akan direndam basah dan hingga memerah.
Senjata, pedang pun meratap, dan tombak menjerit
Dan kuda yang kemarin meringkik, kini meratap duka.
Bumi pun Goncang karena keluarga suci Muhammad.
Demi mereka, gunung-gunung yang kokoh niscaya meleleh.
Benda-benda langit rontok, bintang-bintang gemetar.
Wahai tenda, pakaian tercabik robek, demikian juga hatiku!
Manusia bershalawat untuk yang diutus dari kalangan Bani Hasyim
Di sisi lain, dia juga memerangi anak keturunan Nabi.Duhai alangkah anehnya!
Jika aku dianggap berdosa karena kecintaan kepada Muhammad dan keluarganya.
Maka aku tidak akan pernah bertaubat dari dosaku itu.

( Kitab Diiwan al-Imam assyafii ra, at-Thab’ah Muasassah Al a’lami, Beirut- Lebanon, halaman: 27)

Syair indah Imam Syafi’i menjelaskan bahwa Islam eksis diatas perjuangan Rasul, Keluarganya dan Para sahabat. Mereka berjuang hingga tetes darah penghabisan, “ Ini pelajaran penting agar kita selalu semangat memperjuangkan agama, kepentingan bangsa dan mencipta kedamaian di Negeri Indonesia, kita akan berani berjuang ketika tahu sejarah Suka Duka Rasul dan Keluarganya.” Papar Kang Hadi.

Sejarah kelam, Muharam nan penuh duka seakan dilupakan karena sebagian orang secara sistematis meneriakan, “ Jauhi bidah dan acara yang mengarah pada kesesatan! Itu Syiah!”. Tapi Habib Luthfi bin Yahya pernah menjelaskan, Cintai Rasul dan Keluarganya juga para Sahabat.

Habib Luthfi dalam ceramahnya pernah menyatakan, para pecinta keluarga Rasul akan dituduh Syiah dan Ulama NU dituduh Syiah karena melaksanakan maulidan dan tahlilan. Ini metode musuh dalam melemahkan Ahlisunnah wal jamaah Annahdliyah.

“Tugas kita berat, Sampaikanlah hakikat sejarah dan hidupkan bulan mulia Muharam ini dengan berbagai acara, ingat Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu beranjak dari hati yang bersih.” Lugas Kang Hadi.

Dia melanjutkan, Kita pasti mengenal Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Al Jufri Dubai, mereka ulama panutan muslimin dunia. “ Coba Chek di YouTube terkait ceramah mereka yang membahas keutamaan dan pengorbanan Sayidina Husein di Bulan Muharam.” Ucap Kang Hadi.

Zaman berubah, beragam cara menghormati Muharam dilakukan umat. Tentu semua peringatan dan aktifitas doa serta menyantuni yatim ada berkat arahan para Alim Ulama. “ Inilah Islam Nusantara, Islam yang membumi dengan seluruh akhlak dan kearifan lokalnya.” Tegas Kang Hadi

Acara ditutup dengan bertawasul dan mengucapkan salam pada Rasul saw, Keluarganya dan Para Sahabatnya, juga bermunajat, memohon kepada Allah SWT agar seluruh hadirin dan bangsa dapat meraih hikmah dari berbagai sepak terjang perjuangan dan hijrah Nabawiyah yang diikuti oleh Dzuriyatnya dan para Sahabatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here