Nasihat Sayyid Abdul Aziz al-Darani tentang Tobat di Bulan Ramadhan

13

Dalam kitab Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, di bab “fî al-Isti’ânah wa Dzikr Ramadhân”, Sayyid Abdul Aziz al-Darani (w. 697 H) memberikan nasifat kontemplatif agar manusia lekas bertobat. Berikut nasihatnya:

يا مذنبين هذا وقت الإنابة, يا غافلين عن الحق وقد فتح بابه, تعرضوا للقبول فهذا وقت الإجابة, بكي أبوكم آدم علي ذنب واحد ثلثمائة سنّة (فَاعْتَبِرُوا يَا أُوْلِي الْأَبْصَار) ـ

يا أصحاب الذنوب اخذروا زلة يقول الحبيب منها (هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَينِكَ) أكبر البلايا سفر الركب إلي بلاد الحبيب عند مسيرهم يودعون الزمن

با من كان له قلب معافي فمرض, أذكر خطيئتك, ما كان أحسن قلبك وكان أصفي شربك, فأكثر علي المصاب ندبك لم يبق لك الآن حيلة إلّا ملازمة باب الطبيب فإن لم تقدر علي الدواء فابك, فالبكاء رأس مال الفقير

“Wahai hamba-hamba pendosa, inilah saatnya inabah (tobat). Wahai hamba-hamba yang lalai dari kebenaran, padahal telah dibukakan pintunya. Bersiaplah kalian untuk diterima, karena sekarang (Ramadhan) adalah waktunya pengijabahan (dikabulkan). Adam, ayah kalian, menangis karena satu dosa selama tiga ratus tahun (maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai mata [QS. Al-Hasyr: 2]).”

“Wahai hamba-hamba yang melakukan dosa, waspadalah atas ketergelinciran. Sebab, (sebuah kesalahan) bisa membuat orang yang mencintai mengatakan: (inilah perpisahan antara aku dan kau [QS. Al-Kahf: 78]). Bencana terbesar adalah perjalanan kendaraan menuju negeri Sang Kekasih (Allah yang Maha Mencintai) sementara dalam perjalanan mereka telah menyia-nyiakan waktu.”

“Wahai orang yang dahulu punya hati yang sehat lantas sakit. Ingatlah kesalahanmu! Dulu, alangkah bagusnya hatimu dan begitu jernihnya minumanmu, maka perbanyaklah kesedihan atas musibah. Tidak ada alasan lagi bagimu kini selain menetapi pintu dokter (penyembuh). Jika kau tidak dapat berobat, menangislah! Karena tangisan adalah modal manusia yang fakir.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 154-155)

****

Sayyid Abdul Aziz al-Darani menggunakan bahasa yang keras tapi indah dalam nasihatnya. Beliau tak ragu menyebut para pembacanya sebagai orang yang penuh dosa dan berhati sakit. Penyebutan itu—jika dipahami dengan seksama—merupakan cambuk yang digunakan olehnya untuk membangunkan tidur manusia. Karena dalam lanjutan nasihatnya, beliau memberikan banyak harapan pengampunan, menyuruh kita mempersiapkan diri menyambut “ijabah” (pengabulan) Tuhan atas permohonan kita.

Nasihatnya juga mendorong kita agar bergegas memohon ampunan-Nya (bertobat). Beliau membandingkan dosa-dosa kita yang super banyak dengan dosa bapak kita, Adam ‘alaihissalam yang hanya satu, tapi tangisan penyesalannya lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Perbandingan ini seharusnya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang memiliki mata.

Baginya, penyia-nyiaan waktu seorang muslim yang sedang berjalan menuju kekasihnya, Allah SWT, adalah bencana yang sangat besar. Menyia-nyiakan waktu atau berleha-leha dalam menuju kekasih menunjukkan ketidak-tulusan dalam menggapainya. Bagaimana mungkin itu bisa disebut cinta, jika kerinduannya tak cukup kuat mengantarkan hasratnya untuk segera bertemu kekasih. Karena itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menyarankan untuk bergegas, jangan sampai penyia-nyian itu menghasilkan ungkapan dalam al-Qur’an (QS Al-Kahfi: 78), “hadza firâq bainî wa bainik—inilah perpisahan antara aku dan kau.”

Selanjutnya beliau mengingatkan bahwa manusia pada mulanya “fitrah” atau suci. Rasullullah bersabda, “kullu mauludin yuladu ‘ala al-fitrah—setiap kelahiran dilahirkan dalam keadaan suci.” Kemudian, dengan melakukan maksiat dan dosa, hati yang semula sehat berubah sakit. Beliau menyarankan agar manusia menyesali perbuatan-perbuatannya, menangisi musibah moral yang menimpanya, dan memohon ampunan-Nya. Bila perlu menangislah dalam penyesalan, karena tangis adalah ekspresi penyesalan yang paling tulus, paling tidak untuk orang-orang yang fakir akan amal baik.

Dengan sisa bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, masih belum terlambat untuk memulainya sekarang. Di bulan maghfirah (ampunan) dan ijabah (pengabulan) ini, akan sangat rugi jika kita hanya berdiam diri tanpa menuju atau berusaha untuk menggapai ampunan dan ridha-Nya. Dan tobat adalah tangga pertama untuk memulainya. Lalu, bagaimana cara dan ciri-ciri tobat yang benar? 

Sayyid Abdul Aziz al-Darani menggambarkan tobat yang benar dengan kalimat sebagai berikut:

والتوبة الصادقة تقطع آثار الذنب, إذا صدق التائب أنسي الله تعالي الملائكة ذنوبه وأنسي بقاع الأرض عيوبه ومحا من أم الكتاب زلاته ويحاسبه يوم القيامة عليها 

“Tobat yang benar adalah memutus bekas pengaruh-pengaruh dosa. Jika benar tobat seseorang, Allah akan membuat malaikat lupa akan dosa-dosanya dan membuat penduduk bumi lupa akan aib-aibnya. Allah akan menghapus kesalahan/dosa-dosanya dari umm al-kitab dan menghisabnya secara langsung di hari kiamat kelak.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 155)

Sederhananya, tobat yang benar adalah usaha sungguh-sungguh dalam memutus rantai kesalahan sekaligus bekas-bekasnya, dan membersihkan pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan dari kesalahan-kesalahan itu. Jika kesalahan itu berkaitan dengan orang lain, dia harus meminta maaf dengan sungguh-sungguh agar orang itu memaafkannya. Inilah alasan kenapa dalam ciri-ciri benarnya tobat seseorang ditandai dengan “Allah menjadikan para malaikat lupa akan dosa-dosanya dan menjadikan penduduk bumi lupa akan aib-aibnya.” 

Sebab, jika seseorang sungguh-sungguh bertobat, dia akan menyelesaikan dua tanggungannya sekaligus. Pertama, tanggungannya kepada Allah, dan kedua, tanggungannya kepada makhluk-makhluk Allah. Tanggungan kepada Allah relatif mudah dilakukan, karena ampunan Allah jauh lebih besar dari murkaNya. Pintu tobatnya selalu terbuka untuk hamba-hamba-Nya yang membutuhkan, bahkan yang telah bermaksiat berulang kali sekalipun.

Beda halnya dengan tanggungan kepada makhluk-makhluk Allah. Misal dengan sesama manusia. Orang yang pernah berbuat salah kepada sesama manusia harus mendapatkan maaf secara langsung darinya. Jika tidak, di akhirat kelak hal itu akan menjadi penghalang baginya. Belum lagi makhluk Allah non-manusia, seperti alam, binatang dan lain sebagainya. Ketika seseorang pernah melakukan kerusakan alam, tobatnya tidak cukup hanya dengan memohon ampunanNya, tapi juga harus turut berperan aktif dalam penjagaan lingkungan dan pelestariannya, serta komitmen kuat tidak akan melakukan tindakan yang bisa menyebabkan kerusakan lingkungan lagi.

Oleh karena itu, jika seseorang melakukan tobat dengan benar, Allah akan menjadikan lupa para malaikat akan dosa-dosanya dan menjadikan lupa penduduk bumi akan aib-aibnya. Dan Ramadhan adalah momen terbaik untuk memulainya. Semoga kita bisa melakukannya. Amin. Wallahu a’lam bish shawwab.

Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here