Nepotisme dalam Pengangkatan Pejabat di masa Khilafah Umayyah dan Abbasiyah

27

Ketika khalifah pertama Umayyah, Mu’awiyah, berkuasa, beliau mengangkat pejabat sesiapa yang dikehendakinya, tanpa melalui proses seleksi yang ketat sesuai kapasitas pejabat tersebut. Kitab Tarikh at-Thabari melaporkan ketika Sayyidina Hasan meninggalkan Kufah dan kembali ke Madinah sebagai rakyat biasa, Mu’awiyah mengangkat Abdullah putra Amru bin ‘Ash sebagai Gubernur Kufah.

Al-Mughirah bin Syu’bah datang dan berkata kepada Mu’awiyah: “Anda berada di dua geraham singa yang siap menerkam kekuasaan anda. Abdullah sebagai Gubernur di Kufah, sedangkan sebelumnya Ayahnya, Amru bin ‘Ash sudah menjabat sebagai Gubernur Mesir.”

Mu’awiyah terpengaruh ucapan al-Mughirah. Maka Abdullah langsung dicopot dari Gubernur Damaskus, dan digantikan oleh al-Mughirah. Ketika Amru bin ‘Ash mengetahui anaknya telah dicopot, maka dia mendatangi Mu’awiyah dan berkata: “Anda berikan kekuasaan kepada al-Mughirah? Maka dia akan mengeruk harta kekayaan Kufah dan lantas menghilang. Taruh orang lain yang takut pada anda.” Mu’awiyah lantas mencopot al-Mughirah dan menempatkannya dalam urusan ibadah.

Mu’awiyah mengangkat sepupunya, Marwan bin al-Hakam, sebagai Gubernur Madinah. Ketika Gubernur Mesir, Amru bin ‘Ash wafat tahun 43 H, Mu’awiyah mengangkat Abdullah anaknya Amru bin ‘Ash, yang semula dicopot dari posisi di Kufah, sebagai penguasa Mesir. Begitulah masalah pengangkatan pejabat dilakukan sesukanya penguasa saat itu, dan penuh dengan nepotisme, persis seperti kerajaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here