Nepotisme dalam Pengangkatan Pejabat di masa Khilafah Umayyah dan Abbasiyah

28

Saat Hisyam menjadi Khalifah kesepuluh Umayyah, dia mengangkat pamannya dari jalur ibu: Ibrahim bin Hisyam bin Ismail sebagai Gubernur di Madinah dan memilihnya sebagai Amirul Hajj (pemimpin jamaah haji). Imam al-Thabari menceritakan beberapa anekdot bagaimana Ibrahim yang tidak mengerti apa-apa memimpin jamaah haji.

Misalnya, pada tahun 105 Hijriah, Ibrahim (paman Khalifah Hisyam) membuat kehebohan karena berkhutbah sebelum zuhur di hari tarwiyah. Padahal tradisi saat itu berkhutbah setelah matahari tergelincir. Ulama Mekkah saat itu, Atha bin Abi Rabah, sudah mengingatkan Ibrahim akan waktu berkhutbah namun Ibrahim salah paham dan akhirnya gagal paham.

Pada tahun 109, Ibrahim bin Hisyam membuat kehebohan lagi saat kembali memimpin jamaah haji. Pada 11 Zulhijjah, dia memberi khutbah dengan membanggakan keturunanya, “Tanyalah apa saja kepadaku, aku akan bisa menjawabnya karena aku lebih tahu dari kalian. Akulah keturunan seorang yang tersendiri dan sangat unik (al-wahid).”

Nepotisme keluarga membuat Khalifah Hisyam memilih pamannya ketimbang memilih orang terbaik sebagai gubernur Madinah dan amirul hajj.

Sadar bahwa banyak desas-desus akan kebodohannya, maka Ibrahim bin Hisyam ingin membuktikan pada khalayak bahwa dia orang yang sangat pintar. Bahkan dengan mengandalkan menyebut keturunannya, yaitu al-Walid bin al-Mughirah, yang disebut dalam Surat al-Mudatssir ayat 11 sebagai “wahidan”.

Celakanya, Ibrahim yang sangat bodoh ini tidak paham bahwa konteks ayat 11 Surat al-Mudatssir menyebut a-Walid bin al-Mughirah itu dengan kehinaan bukan dalam konteks membanggakan atau memuliakannya. Karenanya menjadi tambah lucu ketika Ibrahim justru membanggakan “kepandaian”-nya dengan menunjukkan “ketidaktahuannya” atas kecaman al-Qur’an terhadap kakeknya.

Kembali kepada Ibrahim bin Hisyam yang diangkat Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Selepas dia menantang khalayak untuk mengajukan pertanyaan, seseorang bangkit dan kemudian bertanya kepada Ibrahim mengenai kewajiban berkurban. Ibrahim tidak menyangka akan ada yang akhirnya berani menyambut tantangannya. Ibrahim terdiam dan kemudian duduk kembali karena dia tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu.

Demikianlah kalau kekhilafahan berdasarkan nepotisme kekeluargaan, sehingga orang bodoh pun bisa diangkat menjadi Gubernur Madinah dan diserahi tanggung jawab untuk memimpin jamaah haji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here