NU Jalan Gus Dur

29

Oleh: Toufik Imtikhani al Kalimasi*)

            KALAU Ustadz Abdul Somad dalam beberapa ceramahnya, seperti dapat kita saksikan dalam laman Youtube menggunakan istilah NU jalan lurus, dengan menyebut ulama NU tertentu, yaitu  Bashori Alwi, Idrus Romli, dan Buya Yahya sebagai ulama NU yang katakanlah benar, maka Munas Alim Ulama NU di pondok Pesantren Miftahul Huda Al-azhar, Banjar, 27 Pebruari s/d 1 Maret, saya sebut sebagai NU Jalan Gus Dur. Mengapa demikian?

Sebetulnya bukan hanya masalah munas. PBNU sekarang pun adalah PBNU yang mengikuti garis pemikiran dan garis keyakinan Almagfurlah KH. Abdurahman Wahid. Baik peserta dan hasil Munas, atau PBNU dan segala projek pemikirannya, adalah tipologi Gus Dur  sekali.

Hasil Munas tentang terminologi “ kafir” misalnya. Apa yang menjadi landasan epistimologinya, falasafahnya dan panutannya, tentu embrionya atau “ gen” pemikirannya adalah lahir dari tokoh-tokoh “ pembaharu” seperti Ahmad Wahib, Johan Effendi, Nurcholis Madjid, dan tentu saja Gus Dur.

Ahmad Wahib, misalnya, dalam buku Pergolakan Pemikiran islam ( 1976 ) mengatakan dan mempertanyakan, apakah Tuhan akan tega untuk memasukan sahabatnya, seorang pendeta yang baik itu, ke dalam neraka?

Suatu hal yang manusiawi jika siapa saja mempunyai teman yang baik, tidak akan senang jika temannya menderita. Gus Dur bahkan pernah mengatakan, jika engkau menjadi orang baik, maka orang tidak akan mempertanyakan asal usul dan agamamu.

***

Jauh sebelum masalah “kafir” tadi, NU telah menyampaikan sebuah paradigma dan konsep Islam Nusantara, yang juga diterima secara  beragam oleh masyarakat. Bahkan di kalangan NU sendiri mempunyai reaksi yang berbeda-beda, pro dan kontra. Salah satu yang keras menentang, dan karena di upload oleh media TV swasta nasional, sehingga mempunyai resonansi yang kuat adalah penceramah kondang, Mamah Dede.

Mamah Dede notabene adalah seorang NU. Tetapi ia menentang konsep Islam Nusaantara. Entah karena gagal paham atau  tergesa-gesa di dalam menarik kesimpulan, hal itu sedikit banyak menyakiti NU, sehingga keluarganya pun meminta maaf atas statemen Mamah Dede.

“ Idola” pemikiran yang menghasilkan kristalissasi “ Islam Nusantara “ dan terminologi “ Kafir”, yang jauh dari pemahaman umum, dapat dilacak dengan mudah. Semuanya berporoos kepada sosok yang sangat sulit dicari gantinya di NU atau di Indonesia sekalipun, yaitu Gus Dur.

Pemikir-pemikir pembaharu dan kontroversi tersebut di atas pada umumnya tidak mempunyai pengaruh perubahan yang kuat, kecuali sosok Gus Dur. Gus Dur jelas berbeda dengan Ahmad Wahib, Cak Nur, Johan effendi, atau yang lainnya. Sebabnya Gus Dur mempunyai hal-hal yang komplicated dan komplikasi. Gus Dur adalah lokomotif yang menarik berpuluh-puluh gerbong dengan penumpang yang bermacam-macam.

Kekuatan lain yang dimiliki Gus Dur dibanding lainnya, disamping kekuatan pada originalitas pemikirannya, Gus Dur adalah tokoh kharismatis  dan mempunyai pengikut yang sangat banyak, dari berbagai kalangan dan tingkatan, serta segmentasi yang luas. Semua jaringan ulama dan kyai di Jawa khususnya dan Nusantara, berhubungan dengan dan berporos pada klan Gus Dur ( Zamachsari Dofier, Tradisi Pesantren, 1983 ).

Facri Aly di masa lalu menyebut Gus Dur sebagai darah biru NU. Sebab dia lahir dari nasab NU yang sangat baik. Dari garis bapak dia berasal dari Hadratusysyaikh Hasyim As’ary, dari garis ibu dia keturunan KH.Bisry Sansyuri. Keduanya adalah pendiri NU, dan kyainya para kyai, di masa lampau hingga sekarang. Posisi Gus Dur dalam masayarakat NU bahkan sampai dinilai oleh Fachri Aly, pada maqam can do no wrong. Apa yang dilakukan dan disampaikan Gus Dur, tidak pernah keleru.

Hal yang lebih dasyat lagi dari figur Gus Dur adalah, bahwa dia dianggap sebagai waliyullah. Testimoni dan ungkapan sudah terlalu banyak untuk membuktikan bahwa Gus Dur adalah wali. Dan itu datang dari berbagai kalangan, kaum santri/kyai, intelektual, bahkan kaum profesional yang pernah dekat dengan Gus Dur. Perkataan dan ungkapan Gus Dur yang nyleneh di masa lampau yang  kemudian menjadi kenyataan setelah beberapa tahun berlalu, menjadi argumen kuat bahwa Gus Dur adalah wali yang “ ngerti sakdurunge winarah”, Pandangannya jauh ke depan ( futuristik ).

Gus Dur juga figur yang tidak membatasi pergaulan. Pergaulannya tanpa batas. Rileks, santai, non-formil, egaliter. Dia adalah figur yang genial. Cerdas dalam bergaul, mempunyai skill sosial yang baik, tetapi tetap andhap asor atau rendah hati. Namun keras kepada kedloliman dan kuat dalam membela kaum minoritas yang tertindas.

Efek lebih Gus Dur ini menyebabkan dia dapat diterima banyak kalangan. Maka ketika pemikiran dia disampaikan ke publik, hal itu akan menimbulkan resonansi yang besar, efek yang luas, dan impact yang masif.

Ia menjadi idola kaum muda intelektual NU. Sampai kemudian muncul istilah Gus Dur-ian. Hal ini seperti menyandingkannya dengan para pengikut Karl Marx dengan istilah Marxian.

Pemimpin NU sekarang mayoritas adalah generasi yang bersentuhan dengan hidup dan pemikiran Gus Dur, baik secara langsung atau pun tidak. Maka wajar jika saat ini ide-ide besar dan kontroversial muncul dari NU, karena itu sesungguhnya mewarisi style dan kecerdasan cara berfikir sosok Gus Dur. Sebut misalnya: Said Aqil Siradj, Alwi Shihab, Nadhirsyah Husen, Abdul Maqsid Ghozali, Ulil Abshar Abdalla, Afif Muhajir, Zuhairi Misrawi, Ngatawi al Sastrow, Khairussalim, Jadul Maula, Mu’nim Sirry, Gus Muwafiq, Kyai Zahid Ponorogo dan intelektual serta ulama muda lainnya.

***

GAGASAN Islam Nusantara, misalnya. Ini adalah kristalisasi dari praktek-praktek beragama yang telah berabad-abad di lakukan oleh masyarakat Islam indonesia. Jadi sudah menjadi sistem nilai dalam masyarakat Islam Nusantara, seperti adanya bedug dankenthongan di masjid, ziarah kubur, menabur bunga di makam, membayar zakat dengan beras atau jagung, yaasin dan tahlil, patang wulan dan mitung wulan bagi ibu hamil, peringatan tujuh hari, empat puluh hari, seribu hari atau khaul bagi orang yang meninggal. Itu semua adalah rutinitas dan hal yang biasa sekali dilakukan oleh umat Islam Indonesia. Bahwa itu sebagian warisan budaya lokal ( kearifan lokal ), iya, tetapi kecerdasan para ulama tempo dahulu adalah, memberi nilai tambah dengan nilai-nilai islami dan membuang yang tidak Islami. Inilah kemudian yang disebut sebagi pendekatan dakwah bil hikmah walmau’idlotil khasanah wajaadilhum billati hiya ahsan. Dalam konteks masyarakat nusantara itulah terjadi proses islamisasi, enkulturasi, akulturasi, bahkan sinkretisasi.

Bukan Islam aliran atau gaya baru. Hanya kemudian hal itu, dirumuskan dalam konsep pemikiran dan paradigma Islam Nusantara, agar dijadikan role model dan manhaj yang lebih mudah dipahami secara konseptual dan praktek, sehingga tidak hanya menjadi objek yang abstrak.

Gus Dur sedari dulu telah menyampaikan ide tentang pribumisasi Islam dan fiqih yang bercorak ke-indonesiaan. Jadi gen pemikiran Islam Nusantara secara paradigmatis dan konseptual telah dicanangkan oleh Gus  Dur.

***

Sekarang muncul kontroversi baru tentang terminologi kafir, setelah Munas Ulama NU yang lalu. Apa yang menjadi latar belakang masalah ini, tentu bukan persoalan yang sederhana secara akademis, artinya hal itu telah melalui konsiderans perangkat keilmuan dan pengkajian terhadap kitab-kitab yang telah disusun oleh para ulama salaf dan khalaf, serta pemahaman yang mendalam terhadap sumber utama hukum Islam, yaitu Qur’an dan hadist ( sunah ). Juga pembelajaran yang baik terhadap sejarah, yang menjadi ruang lingkup terjadinya suatu peristiwa, dimana dalam keadaan tertentu menjadi asbab an-nuzul dan asbab al-wurud sebuah surat, ayat Al Qur’an  dan hadist Nabi disampaikan.

Ormas Islam sebesar NU, yang mempunyai umat yang banyak sebagai tanggung jawabnya, tentu tidak sembarangan dalam memberikan pandangan-pandangan, rekomendasi dan fatwa. Sebab rekomendasi, fatwa dan pandanggan apapun, tentu akan mempunyai impact yang luas dalam kehidupan beragama dan berbangsa.

Namun justru itu sebagai wujud tanggunng jawab besar, NU memberikan pandangan, setidaknya untuk waktu kontemporer ini, mengenai dua hal, yaitu konsep Islam Nusantara dan terminologi kafir, yang berisi kearifan-kearifan dalam menempatkan agama-negara dalam konteks yang seharusnya.

Konsep atau manhaj Islam Nusantara dapat berfungsi untuk melawan dan menangkal gerakan tran-nasional berupa fundamentalisme, radikalisme dan terorisme, Penghalusan sebutan kafir dengan istilah non-muslim dalam kehidupan bernegara  untuk  memperkuat ukhuwah wathoniyah, basyariah dan insaniyah di tengah acaman besar, dari dalam dan luar, terhadap persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Keduanya dilakukan melalui suatu upaya pencerahan, terutama kepada generasi muda yang karena kecanggihan teknologi komunikasi, mereka mudah untuk menerima informasi  yang bermacam-macam tanpa filter. Hal ini dapat berakibat fatal, sebab secara intelektual, perangkat keilmuan mereka belum siap untuk melakukan “proses pelurusan sendiri”.

Jadi,ini adalah gagasan besar Gus Dur dan NU, yang  ditafsiri, diterapkan, dan diajarkan oleh generasi NU saat ini.***

*) penulis adalah pengasuh Ponpes Bumi Aswaja Daaruttaubah wa Tarbiyah Cilacap.

Penulis
Toufik Imtikhani, SIP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here