NUZULUL QUR’AN, INSPIRASI PARA PENCINTA AL-QUR’AN

22

K.H. Sa’dulloh, SQ, M.MPd. – “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yg didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjukbagi manusia dan penjelasan2 mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan ygbathil), karena itu, Barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) dibulkan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari2  lain. Allah SWT menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petungjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqarah: 185)

                Menurut para ulama, puasa Ramadlan itudibagi tiga jenjang yang mengikuti pembagian persepuluh hari. Sepuluh hari pertama, adalah jenjang fisik (jasmani). Dimana kita masih terlibat dalam usaha menyesuaikan diri secara jasamani  kepada kebiasan baru, menyangkut makan, minum dll. Disinilah shiyam dalam arti menahan diri itu diwujudkan dalam tindakan2 lahiriah yang menjadi bidang kajian fiqih yang meliputi persoalan batal atau tdk batalnya puasa.

                Jenjang kedua, disebut sebagai jenjang nafsani (psikologis kejiwaan). Kalau pada jenjang pertama bersifat keragaan, maka disini shiyam menahan diri itu sudah sampai pada sesuatu yang bersifat nafsani, yakni menahan diri dari hawa nafsu. Secara fiqih memang tidak membatalkan puasa, misalnya membicarakan kejelekan  orang lain, marah-marah atau bermusuhan. Tetapi dalam berpuasa batinnya perbuatan itu bias membatalkan  puasa. Disinilah kita diingatkan oleh hadits Nabi :

Iklan Layanan Masyarakat

“ Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Barangsiapa yang tidak bias meninggalkan perkataan kotor dan tidak bisa meninggalkan perbuatan kotor, maka Allah tidak punya kepentingan apa apa meski orang orang itu meninggalkan makan minum” (HR. Bukhari)

Pada konteks lahiriah, melakukan perbuatan tersebut puasanya tetap dianggap sah. Tetapi dalam konteks nafsani, orang yang berpuasa seperti tidak mendapat hikmah apa-apa. Hal ini juga diingatkan oleh shabat Umar RA :

“Banyak sekali orang berpuasa namun tdak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar”.

                Jenjang ketiga adalah sepuluh hari terakhir Ramadlan. Jenjang ketiga ini disebut sebagai jenjang ruhani. Dalam ranah ini kita sudah memasuki sesuatu yang susah sekali diterangkan, karena memang masalah ruhani tidak ada ilmunya. Kita mengetahuinya hanya dari berita atau yang dalam bahasa Arab disebut naba’un. Dan pembawa berita itu adalah Nabi SAW. Dari Nabi kita mengetahui apa yang bisa kita peroleh dari puasa jenjang ketiga ini. Karena memang tidak bisa diterangkan. Oleh karena itu kemudian diungkapkan melalui symbol-simbol, metofor2, termasuk masalah lailatul qadar. Hal itu sebenarnya adalah sebuah perlambang dari suatu capaian ruhani yang tidak bisa diterangkan.

                Lailatul Qadar (malam ketetapan) adalah suatu malam penting yang terjadi ada bulan Ramadlan, yang dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an. Sebagaimana firman Nya :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadr: 1).

                Di Indonesia, setiap bulan Ramdlan ada semacam perayaan Nuzulul Qur’an. Tidak ada tanggal pasti kapan Al-Qur’an diturunkan. Al-Qur’an hanya menerangkan bahwa wahyu turun pertama kali pada bulan Ramadlan.

                Imam Ibnu Katsir menjelaskan “Allah Swt memuji Ramadlan diantara bulan-bulan lainnya karena Dia telah memilih Ramadlan diantara bulan semua bulan sebagai bulan diturunkanna Al-Qur’an yang agung. Jika Allah mengkhususkan Ramadlan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, maka hadits juga menyatakan bahwa pada bulan Ramadlan pula kitab Allah lainnya diturunkan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw”. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dalam musnadnya :

“Lembaran-lembaran (shuhuf) Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadlan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadlan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadlan, sedang Al-Qur’an diturunkan pada tangal duapuluh empat Ramadlan” (HR. Ahmad).

                Didalam ayat lain dijelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dibulan yang penuh keagungan dan kemuliaan. Pada malam itu juga ditentukan takdir segala apa yang terjadi pada tahun tersebut, yang berkaitan dengan orang yang masih hidup, yang akan mati, yang berkaitan dengan rizki dan lain-lain. Allah Swtberfirman :

“Haa miim. Demi kitab (Al-Qur’an ) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kamilah yang member peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar disisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ad-Dukhan: 1-6).

                Malam yang diberkahi adalah malam Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Menurut Imam At-Thabari, yang dimaksudkan dengan malam yang diberkahi adalah malam Lailatul Qadr.

                Disebutkan dalam tafsir At-Thabari bahwa Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia secara utuh dalam satu kesatuan pada malam Lailatul Qadr. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oeh Ibnu Abbas bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia secara utuh dalam sekali waktu pada bulan Ramadlan, tepatnya pada malam Lailatul Qadr.Kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara terperinci pada saat itu selama kurang lebih 22 tahun.

                Ayat surat Al-Qadr menyatakan bahwa turunnya Al-Qur’an jelas pada malam Lailatul Qadr. Ayat surat Ad-Dukhan menguatkan turunnya AL-Qur’an pada malam yang diberkati. Dan ayat surat Al-Baqarah menunjukkan turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadlan.

                Sedangkan mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadr sendiri, terdapat beberapa riwayat hadits yang menjelaskannya, diantaranya:

  1. Lailatul Qadr itu terjadi pada sepuluh malam terakhir dibulan Ramadlan, sebagaimana hadits Nabi SAW:

“Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir daribulan Ramadlan”(HR. Bukhari-Muslim).

  • Kemungkinan terjadinya Lailatul Qadr dimalam-malam ganjil itu lebih besar daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi SAW dari Ibnu Umar , Rasulullah bersabda :

“Carilah disepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tuuh hari sisanya” (HR. Bukhari-Muslim).

Hikmah Lailatul Qadar

        Suatu saat, ketika Nabi SAW bersabda kepada umatnya yang tengah berkumpul dimasjid menunggu-nunggu Lailatul Qadr, karena memang Nabi memang tidak pernah menerangkan apa yang dimaksud Lailatul Qadr dan kapan terjadinya, maka beliau hanya mengatakan” Apa yang kamu tunggu-tunggu Insya Allah mala mini dating, karena aku telah melihat dalam visi (rukyat) bahwa akan terjadi hujan lebat kemudian aku belepotan lumpur dan basah kuyup oleh air”. Kemudian umat yang berkumpul itu pun membubarkan diri.

        Pada malam itu memang terjadi hujan lebat. Karena bangunan Masjid Madinah pada zaman Nabi sangat sederhana, atapnya terbuat dari daun kurma, maka dengan sendirinya air hujan pun masuk ke lantai masjid yang terbuat dari tanah. Umat yang pada saat kejadian tersebut melihat apa yang dikatakan Nabi itu benar. Karena beliau sembahyang dalam keadaan basah kuyup. Sementara muka dan sekujur badannya berlumur tanah liat.

        Lalu apa yang dimaksud dengan lailatul qadar itu oleh Nabi? Karena Nabi hanya mengatakan “Itulah yang kau tunggu-tunggu”. Sekali lagi, karena memang persoalan ini adalah persoalan ruhani maka tidak ada kata-kata yang cukup untuk bisa menjelaskannya. Hal itu adalah symbol atau perlambang. Kemudian disinilah terkandung hikmah, bahwa belepotannya Nabi dengan lumpur dan basahnya Nabi dengan air sebenarnya adalah suatu peringatan kepada kita bahwa jenjang paling tinggi dari pengalaman ruhani itu adalah kalau kita sudah kembali ke asal kita.  Dari mana kita berasal? Dari tanah dan air, sebagaimana firman-Nya:

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani)” (QS. As-Sajdah: 7-8)

        Maka dengan belepotannya Nabi oleh lumpur dan basah oleh air itu, sebenarnya merupakan simbolisme bahwa kita harus kembali menyadari siapa diri kita. Maka kita haruslah menjadi orang-orang yang rendah hati. Karena itu, sifat pertama yang disebutkan dalam Al-Qur’an tentang hamba2 Allah Yang Maha Kasih adalah :

“ Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengatakan kata-kata yang baik” (QS. Al-Furqan: 63).

Sikap menyadari siapa diri kita, akan melahirkan sikap-sikap terpuji lainnya, diantaranya:

  1. Tidak sombong (takabbur). Karena pintu surge akan tertutup rapat bagi orang-orang yang takabbur. Sebagaimana Sabda Nabi SAW :

“Tidak akan masuk Surga orang yang dalam hatinya ada seberat atom dari perasaan sombong” (HR. Muslim)

  • Sikap Thuma’ninah (ketenangan hati). Sebagaimana firman Allah :

“Ketahuilah bahwa dengan ingat kepada Allah, maka hati akan mengalami ketenangan” (QS. Ar-Ra’du: 28)

  • Pasrah dan berserah diri kepada Allah (salaam). Salaamah adalah ketentraman, karena kita diajari untuk pasrah kepada Allah. Dengan pasrah kepada-Nya kita menjadi aman (salam). Maka orang yang iman kepada Allah adalah orang-orang yang bakal mendapatkan ketenangan dan keamanan.

                                Dengan demikian apa yang dikatakan Nabi dengan simbolisme belepotan lumpur dan basah kuyup oleh air adalah bahwa kita harus kembali ke asal. Mengapa adadorongan kita kembali ke asal? Hal ini karena memang sebenarnya kita sudah terikat perjanjian primordial dengan Allah Swt bahwa kita akan mengakui bahwa Dia adalah sebagai Rabbun(Tuhan kita).

“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, kami bersaksi” (QS.Al-‘Araf: 172).

Karena kita mengakui bahwa Allah Rabbun, maka konsekwensinya adalah kita kemudian  harus menyembah-Nya. Pada waktu kita dalam alam ruhani, dalam perjanjian tersebut, kta menjawab” Ya, kami bersaksi”.

                Karena itu kenapa kemudian kita rindu kepada Allah Swt dan ingin kembali pulang kepada-Nya. Pulang kepada Allah itu kemudian dimulai dengan pulang ke tanah. Oleh karena itu, ketika Nabi Saw menguburkan seseorang, maka beliau bersabda. Allah berfirman :

“Dari tanah Kami ciptakan engkau, kepada tanah Kami kembalikan engkau dan dari tanah pula nanti Kami akan keluarkan engkau pada waktu lain(hari kiamat)” (HR. Ahmad)

                Itulah yang harus kita cari dalam tahap ruhani puasa ini, yang kita alami melalui suatu simbolisme dari lailatul qadar. Tetapi semuanya memang harus dimulai dengan tanah dan air. Dengan kata lain, kesadaran tentang diri kita yang sesungguhnya. Sebab dengan rendah hati kita akan mencapai keikhlasan, dalam arti tidak hanya melihat diri kita sendiri sebagai orang yang selalu berbuat baik, tetapi karena perbuatan baik itu juga digerakkan oleh Allah Swt.

Lailatul Qadar Menginspirasi Para Pencinta Al-Qur’an

                Diatas sudah dijelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada suatau malam, yaitu malam Lailatul Qadar. Sedangkan malam lailatul qadar yang dialami oleh seorang hamba adalah suatu capaian ruhani yang tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu jalan untuk mencapai derajat ruhani yang tertinggi adalah dengan selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an, kemudian melakukan tadabbur yaitu merenungkan dan memahami maknanya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

                Al-Qur’an adalah firman Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Saw selama kl 22 tahun. Ia adalah kitab suci umat Islam yang merupakan sumber petunjuk dalam beragama dan embimbing dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

                Oleh karena itu, merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk selalu berinteraksi aktifdenganAl-Qur’an, menjadikannya sebagai sumber inspirasi, berpikir dan bertindak. Membaca Al-Qur’an adalah  merupakan langkah pertama dalam berinteraksi dgn Al-Qur’an. Kemudian dilanjutkan dengan menghafalnya, melakukan  tadabbur, yaitu dengan merenungkan dan memahami maknanya sesuai dengan petunjukpara salafus shaleh, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkannya.

                Banyak sekali anjuran dan keutamaan membaca al-Qur’an, baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi, diantaranya :

“dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an) tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya, dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindungselain daripadanya. (QS. Al-Kahfi: 27)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasulullah supaya beliau membacakan Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya, serta mengamalkan isinya, menyampaikan kepada umat manusia dan mengikuti perintah dan larangan-Nya yang tercantum dalam Al-Qur’an.  Adalah tugas Rasul untuk menyampaikan wahyu Allah tsb kepada manusia, sebagaimana firman-Nya :

“Hai Rasul, samapaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak member petunjuk kepada orangorang yang kafir” (QS. Al-Maidah: 67).

                Ada banyak perintah membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Hadits Nabi Saw mengatakan :

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkanya” (HR. Bukhari).

Alasan Nabi Saw bersabda bahwa orang yang selalu membaca dan mempelajariAl-Qur’an adalah seabik-baik manusia adalah, pertama, karena orang yang selalu membaca Al-Qur’an akan mendapatkan phala yang berlipat. Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa yang membaca satu hurup dari Al-Qur’an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat, Saya tidak mengatakan alif laam miiim itu satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miiim satu huruf”. (HR. Tirmidzi).

Alasan kedua adalah, karena orang yang selalu membaca dan mempelajari Al-Qur’an akan menjalani kehidupannya selalu mengacu dan berpijak kepada Al-Qur’an. Juga karena Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Allah berfirman :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadlan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yangbatil).” (QS. Al-Baqarah : 185).

                Inilah sebagian dari annjuran dan keutamaan membaca Al-Qur’an dan yang perlu diingat bahwa pahala membaca Al-Qur’an diperoleh bagi siapa saja yang membacanya, walau tidak memahamai makna dan tafsirnya. Kendati kalau bisa memahaminya pahalanya tentu lebih baik dan lebih banyak pahalanya.

Dalam ayat lain Allah berfirman :

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang seupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang tkut kepada Tuhannya, kemdian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakin-Nya, dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak adabaginya seorang pemimpinpun”.(QS. Al-Zumar: 23)

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu AL-Qur’an yang mulia, sebagian ayat-ayatnya menyerupai ayat yang lain baik dalam menjelaskan hokum, kebenaran, pelajaran, mengemukakan hujjah, hikmah-hikmah dll. Sebagaimana beberapa bahagian air menyerupai beberapa bagian udara, beberapa bagian negeri menyerupai negeri yang lain. Karena ada suatu kisah diulang-ulang menyebutnya dibeberapa tempat demikian pula perintah-perintah, larangan-larangan dll. Orang-orang yang beriman, bila mereka mendengar bacaan Al-Qur’an maka berdiri bulu romanya, dan berguncang hatinya karena takut kepada Allah. Hal itu mendorong hati mereka mengikuti semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jiwa mereka menjadi hidup, semangat mereka bertambah untuk melaksanakan amal-amal yang saleh dan berjihad di jalan-Nya.

                Untuk itu, bacalah Al-Qur’an setiap hari dan setiap menit. Karena Al-Qur’an akan menjadi penolong (syafaat) kita di hari kiamat kelak. Perbanyak membaca Al-Qur’an terutama dihari-hari terakhir Ramadlan. Dan terus membacanya secara istiqmah (kontinyu) pada hari-hari lain di luar Ramadlan. Niscaya kita akan menjadi orang yang paling dicintai oleh Allah Swt. Amin

Previous articleMENGGAPAI DERAJAT PUASA RUHANI
Next article[SALAH] Foto “Allahuakbar Sajadah Di Temukan Utuh Dan Tidak Hancur Di Serpihan Kapal Selam KRI Nanggala 402. Subhanallah”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here