Penutupan Haji, Adakah Hubungannya dengan Tanda Kiamat?

102
Penutupan Haji, Adakah Hubungannya dengan Tanda Kiamat?

Penutupan Masjidil Haram oleh Pemerintah Saudi belakangan ini sebagai langkah antisipasi penyebaran virus Corona (Covid-19) menyebabkan area sekitaran Ka‘bah menjadi kosong dan tak ada yang thawaf. Jika wabah akibat virus ini tak kunjung bisa ditanggulangi, kemungkinan besar Pemerintah Saudi akan memperpanjang masa penutupan Masjidil Haram hingga musim haji. Walhasil, tidak ada ibadah haji tahun ini. Sayangnya, kondisi ini dihubung-hubungkan oleh sementara pihak dengan tanda-tanda Kiamat, salah satunya yang disebutkan dalam hadits yang satu ini:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُحَجَّ البَيْتُ

Artinya, “Tidak akan terjadi Kiamat sampai Baitullah tak jadi tempat berhaji.”

Tak tanggung-tanggung hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab hadits yang paling otoritatif di tengah kaum Muslimin. Secara harfiah, hadits ini memang menunjukkan satu peristiwa yang akan terjadi sebelum Kiamat. Namun, tidak serta merta ketiadaan orang berhaji di Baitullah mengantarkan peristiwa Kiamat. Selain itu, peristiwa penutupan Ka‘bah juga terjadi bukan kali ini saja. Dan perlu diingat bahwa sebelum menyampaikan hadits ini, al-Bukhari menyampaikan hadits lain yang secara harfiah maknanya bertolak belakang, yaitu:

لَيُحَجَّنَّ البَيْتُ وَلَيُعْتَمَرَنَّ بَعْدَ خُرُوجِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ

Artinya, “Baitullah benar-benar akan jadi tempat berhaji dan berumrah setelah keluarnya Ya’juj-Ma’juj.”

Menurut Mushthafa al-Bagha, Ya’juj-Ma’juj sendiri adalah suku bangsa yang banyak sekali warganya, aneh tingkah akhlaknya, masif keburukannya, dan kemunculannya jadi salah satu tanda Kiamat kubra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here