Radikalisme Ideologi dan Ibnu Muljam Milenial

12

Oleh Muhammad Faizin

Radikalisme bisa menjangkiti siapa saja. Bukan hanya orang berpendidikan menengah ke bawah. Mereka yang mengenyam pendidikan tinggi juga bisa terpapar radikalisme. Seseorang terkena radikalisme bisa disebabkan banyak faktor di antaranya faktor pemikiran (ideologi), ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dan psikologis.

Di antara faktor tersebut, radikalisme yang disebabkan oleh faktor ideologi menjadi yang paling berat untuk diatasi. Ideologi identik berhubungan dengan keyakinan sehingga orang yang radikal, akan cenderung menolak apa yang tidak sesuai dengan pemikiran dan keyakinannya tersebut.

Lebih dari itu, radikal ideologi juga bisa memunculkan efek negatif bukan hanya kepada yang bersangkutan, namun juga kepada orang lain. Radikal ideologi akan terus berupaya menyebarkan pahamnya dan ‘menyerang’ baik secara fisik maupun non fisik.

Sudah ada contoh nyata sejarah yang mempertunjukkan efek negatif dari radikalisme yang dilakukan oleh orang yang seharusnya tidak melakukannya. Ada sosok yang tidak terpikir sebelumnya akan melakukan tindakan yang sangat brutal akibat berideologi radikal. Ia adalah Ibnu Muljam yang memiliki nama lengkap Abdurrahman bin ‘Amr bin Muljam al-Muradi.

Berdasarkan beberapa referensi di antaranya kitab al-A’lam karya al-Zarakly ia sempat hidup pada masa-masa jahiliyah dan berhijrah pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Ibnu Muljam juga ikut serta dalam pembebasan Mesir (Fath Misra).

Ibnu Muljam adalah orang yang hafal Al-Qur’an, rajin mejalankan puasa sunah, istiqomah menjalankan shalat malam, dan seorang ahli fikih. Keshalihan amaliahnya ini ternyata tidak sebanding dengan keshalihan sosial sehingga karena berbeda pandangan dengan sahabat Ali, Ibnu Muljam dengan gampangnya membunuh Ali bin Abi Thalib.

Alasan Ibnu Muljam melakukan tindakan ini karena ia merasa kecewa dengan keputusan politik Ali yang menurutnya tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam Al-Qur’an. Mekanisme yang dilakukan Ali bin Abi Thalib dalam mengambil keputusan, yakni dengan sistem musyawarah, dianggap sebagai keputusan dari manusia. Bukan dari Allah SWT.

Ia lebih sepakat dengan jargon terkenal kaum khawarij yakni La hukma illa Allah (tidak ada hukum yang harus ditaati kecuali hukum Allah). Berdasar pada inilah ia menolak kebijakan Ali.

Bukan hanya kepada Ali, Ibnu Muljam juga menjadi aktor rencana jahat bersama dua orang temannya, Barak bin Abdillah at-Tamimi dan Amr bin Bukair at-Tamimi untuk membunuh tiga orang dalam waktu yang sama. Ibnu Muljam membunuh Ali, Barak membunuh Muawiyah, sedangakn Amr membunuh Amr bin ‘Ash.

Pada tanggal 17 Ramadhan, sebagian riwayat menyebutkan tanggal 22 Ramadhan, saat Ali bin Abi Thalib ruku’ dalam shalatnya, Ibnu Muljam yang sudah terasuki paham radikal ini membunuh Ali dengan tebasan pedang.

Menunjukkan perasaan bahwa ialah yang paling benar, Ibnu Muljam melakukan aksinya sambil berteriak, “Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”. Ia juga tidak henti mengucapkan ayat 207 surat Al Baqarah: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Akibat perbuatannya ini Ibnu Muljam mendapat balasan hukuman qishas (dibunuh) dan tercatat dalam sejarah sebagai ahli ibadah yang berideologi radikal sampai tega membunuh sahabat sekaligus sepupu tercinta Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib.

Kisah pedih ini harus menjadi pelajaran bagi kita umat Islam di era saat ini, khususnya di Indonesia. Kita harus sadar Ibnu Muljam milenial sudah mulai nampak. Generasi muda, melalui fasilitas kecanggihan teknologi dan informasi, berpola pikir seperti Ibnu Muljam.

Penelitian Badan Intelijen Negara (BIN) pada 2017 mencatat sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi terpapar radikalisme. Penelitian juga merilis hasil meningkatnya peningkatan paham konservatif keagamaan. Pasalnya, dari penelitian diperoleh data 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad demi tegaknya negara Islam.

Fakta ini nampak seperti sinyalemen Rasulullah dalam haditsnya: “Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.” Hal ini menunjukkan kesalehan dalam ibadah tidak mesti berbanding lurus dengan kesalehan sosial.

Belum terlambat, masih bisa untuk diperbaiki selama mereka diberikan pemahaman agama yang benar, pemahaman moderat, mengedepankan toleransi dan tidak gampang terayu dengan paham transnasional yang tidak cocok dengan budaya Indonesia. Saatnya mencontoh para ulama Indonesia yang jelas sanad keilmuannya dan mengajarkan sikap moderat. Bukan kepada orang yang tiba-tiba jadi ulama. Saatnya mereka kembali kepada U-lama, bukan U-baru.

Penulis adalah Redaktur NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here