Ramadhan Produktif

48

Oleh: Adi Supardi

Pada umumnya umat Muslim menyambut bulan Ramadhan dengan penuh suka cita. Geliat ini terlihat dari persiapan fisik, ilmu dan doa. Mereka berbondong-bondong mengecek kesehatan dan mengikuti pola hidup sehat dengan olah raga teratur serta mengikuti anjuran dokter. Sementara secara keilmuan, kita temukan beberapa kegiatan keagamaan dan kajian mempelajari materi khusus tentang fiqh shaum secara intensif. Tak ketinggalan umat Muslim mempertajam busur anak panah dengan senjata doa, doa yang masyhur diajarkan nabi S.a.w adalah “Allohuma barik lana fi rojaba wa sya’bana wa ballighna romadhona”. Artinya semoga Allah memberkahi kita di bulan Rajab dan Sya’ban serta semoga Allah mengizinkan kita masuk bulan Ramadhan.

Fakta di atas merupakan deskripsi bahwa Ramadhan merupakan bulan yang dinantikan kedatangannya. Sejatinya, ramadhan tidak lagi bermakna ibadah seremonial tiap tahun, tetapi hampir telah melewati titik puncak standarisasi manusia di sisi Tuhan-Nya. Berdasarkan informasi Allah ta’ala dalam QS. [2] : 183, bahwa Ramadhan merupakan sekolah kehidupan melalui tes seperti puasa, tadarus, tarawih, i’tikaf, sedekah, ta’lim dan amal sholeh lainnya. Ibadah yang amat sakral pada saat Ramadhan adalah puasa. Puasa Ramadhan hanya dianjurkan untuk orang-orang beriman kepada Allah, karena pada faktanya sebagian kecil umat Muslim tidak melaksanakan puasa yang mungkin saja iman mereka lemah atau bahkan sedang hilang dalam dirinya.

Standarisasi manusia dapat tercermin dari kualitas ibadah puasa. Argumentasi ini senada dengan tujuan pokok ibadah puasa yakni menguji dan mengapresiasi tingkat ketaqwaan umat Muslim yang berpuasa. Dipenghujung ayat, Allah mendedikasikan orang-orang yang berpuasa agar menjadi pribadi yang bertaqwa. Namun, terkadang tidak banyak Muslim yang berhasil meraih kriteria ini. Sebagian besar memenuhi kewajiban puasa ini sebatas kewajiban saja dan rutinitas tiap tahun menjelang hari raya Idhul Raya Idhul Fitri.

Sangat ironi, nilai ibadah bulan Ramadhan yang besar dibandingkan bulan lain tapi tidak banyak umat Muslim yang mampu memenangkan kontestasi kualitas ibadah puasa ini. Bersandar pada keterangan agama, bahwa nilai ibadah sunat itu sebanding dengan nilai pahala wajib dan nilai ibadah wajib dilipat gandakan pahalanya hingga 700 kali lipat. Awal bulannya sebagai rahmat, tengahnya maghfirah dan pada penghujungnya adalah pembebasan dari siksa neraka. Lagi-lagi kita menekuk muka dengan peran serta umat Muslim yang terkadang kualitas ibadahnya masih saja sama dengan 11 bulan lainnya. Sejauh ini umat Muslim memandang Ramadhan baru sebatas kegiatan ibadah yang bersifat ritual dan belum membekas pada sanubari.

Ramadhan sejatinya bulan untuk meningkatkan kualitas ibadah, sehingga umat Muslim terpanggil untuk berbuat baik dan memperbaiki diri serta lingkungannya. Ramadhan yang diharapkan oleh Tuhan adalah yang mampu merubah prilaku. Ilustrasi sederhana bahwa Ramadhan seperti sekolah, hanya saja perbedaan paling mendasar terdapat dalam prosesnya, sekolah Ramadhan tes terlebih dahulu, kemudian paham lalu akan mendapat pelajaran yang amat berharga. Kita seolah mendapat teguran bahwa semua rangkaian ibadah bulan Ramadhan sebagai tes atau ujian untuk mengukur tingkat keimanan, diharapkan kita akan paham dengan nilai-nilai penting dalam tes tersebut sehingga puncaknya kita mendapat pelajaran hidup yang luar biasa.

Fakta yang mencuat bahwa sebagian umat Muslim bersemangat dan penuh totalitas dalam mengisi kegiatan Ramadhan. Namun, penulis tidak dapat menutup mata bahwa sebagian besar Muslim di Indonesia belum sepenuhnya mengerti esensi berpuasa sebagai ibadah yang mulia. Hal ini ditandai dengan prilaku mereka dalam menyikapi puasa, puasa baru dimaknai sebatas menahan lapar dan dahaga, etos kerja menurun, prilaku malas-malasan, berprilaku statis, berdiam diri tidak produktif, juga alibi tidur orang berpuasa sebagai ibadah masih menjadi senjata ampuh mereka untuk mengamini hal tersebut.

Pada tulisan kali ini, penulis hendak menyoal sudut pandang lain dibalik peristiwa tersebut bahwa sepatutnya umat Muslim harus produktif dalam segala hal, harus mematahkan argumentasi bahwa Ramadhan menurunkan tingkat produktifitas umat dalam berbagai kegiatan. Kritik yang sejatinya mengarah pada kemampuan mengelola waktu, memanfaatkan kesempatan dan mengoptimalkan amal sholeh agar Ramadhan ini tidak hanya berakhir secara hitungan bulan, tapi hikmahnya tetap kita perolah sebagai bahan bakar menempuh perjalanan 11 bulan selanjutnya.

Sudut pandang yang disoroti adalah etos kerja sebagai cermin produktifitas umat. Ramadhan tidak menghalangi orang untuk bekerja sesuai mata pencahariannya, hanya saja harus dibekali iman yang kuat dan toleransi yang baik. Selama ini kita menyaksikan bahwa karena melaksanakan ibadah puasa etos kerja cenderung menurun. Ini sangat tidak diharapkan. Setiap muslim dapat berkreasi sesuai bakat dan minatnya untuk mengisi kegiatan positif di bulan Ramadhan. Dengan meningkatkan produktifitas dalam bekerja akan membuka peluang mendapatkan pahala yang besar dan terpenuhinya kebutuhan hidup.

Dugaan kuat penyebab menurunnya tingkat produktifitas pada Ramadhan karena tidak menyadari beberapa prinsip dalam beramal (bekerja), sehingga dipandang penting mereaktualisasi prinsip dasar dalam bekerja. Berikut penulis sampaikan beberapa prinsip bekerja untuk meningkatkan produktifitas umat terlebih saat melaksanakan ibadah puasa.

Pertama, bekerja adalah ibadah. Tidak dapat dipungkiri bahwa Islam sangat mengapresiasi kinerja umatnya, karena semua yang bernilai kebaikan dihargai sebagai ibadah. Menurut Syekh Ali at-Thanthowy dalam Ta’rif ‘Aam bi diin al-Islam bahwa ibadah adalah setiap amal bermanfaat yang tidak dilarang oleh syara’ yang dilakukan oleh seorang mu’min dengan mengharapkan pahala dari Allah ta’ala. Terlebih wilayah ibadah itu sangat luas, seperti seorang suami mencari nafkah untuk keluarganya, seorang pelajar bekerja sebagai pencari ilmu, dan semua pihak yang bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya dapat bernilai ibadah. Sehingga dengan prinsip ini umat kembali sadar, usahanya tidak sia-sia semua bernilai ibadah dan berpeluang besar mendapat pahala dari Allah swt.

Kedua, bekerja dengan efektif dan efisien. Secara sempit prinsip ini berdasarkan informasi dalam QS. [94] : 7,  faidza farogta fanshob, apabila telah selesai satu pekerjaan maka kerjakan yang lain. Seorang muslim dituntut untuk untuk bekerja secara sistematis dan disiplin. Prinsip ini dapat tercermin dengan kemampuan seseorang untuk memanfaatkan waktu, kesempatan dan kepercayaan yang diterimanya. Isyarat penting pada ayat ini tercermin pada sikap seseorang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang lain apabila telah luang (selesai), prinsip ini juga mengajarkan kode etik bekerja dengan penuh tanggung jawab dan disiplin yang tinggi.

Ketiga, bekerja secara optimal. Prinsip ini mencerminkan sebuah ungkapan bahwa Allah hanya menerima amal yang terbaik. Nabi bersabda: “Allah amat menyukai apabila hamba-Nya yang bekerja, maka ia bekerja dengan profesional” (HR. Shohih Muslim). Sehingga menjadi penting kita memperhatikan kualitas pekerjaan kita agar mendapat perhatian dari Allah S.w.t. bersandar pada QS. [67] : 2, bahwa Allah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kita siapa yang lebih baik amalnya. Sungguh ini menjadi cita-cita yang tinggi nilainya, bekerja bukan hanya untuk memperoleh materi atau upah kerja tapi mendapatkan pahala serta berkah hidup yang tak terhingga nilainya.

Semoga tiga prinsip dasar di atas cukup menjawab masalah yang menimpa hampir semua lapisan umat saat Ramadhan ini. Masalah kesadaran untuk bekerja meningkatkan tarap hidup dan kualitas pekerjaan bukan hanya untuk memeroleh upah tapi mendapat apresiasi dari Allah ta’ala. Umat Muslim tetap produktif bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tetap berpuasa, serta mengindahkan prinsip-prinsip bekerja dalam Islam tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here