Renungan dari Menara Kembar : Tawadlu

72
Renungan dari Menara Kembar : Tawadlu

H. Muhtar Gandaatmaja*) – ”Zayyin nafsaka bilma’shiyati wa laa tuzayyin nafsaka biththoati.” : Hiasi dirimu dengan kemaksiyatan dan jangan hiasi dirimu dengan ketaatan. (Dari kitab atau buku apa sumber ungkapan ini, saya lupa, sedang dicari. Diterima ketika kelas 1 Tsnawiyah dari guru pelajaran Mahfuzhot, 1972 lalu).

Analogi amal dan pelakunya ibarat baju dengan pemakainya. Baju yang dipakai tidak akan pernah dicuci kalau pemakainya beranggapan masih bersih. Manusiapun tidak akan pernah bertobat kalau dirinya merasa bersih.

Sekurang-kurangnya dua hal penting yang harus melekat pada diri manusia, yaitu “merasa” dan “tahu diri”. Merasa, atau “rasa karumasaan”, kata orang Sunda, ”Roso rumongso”, kata orang Jawa, adalah pengakuan tulus bahwa dirinya tidak steril dari dosa. Banyak kekurangan dan merasa tidak punya kelebihan apa-apa. Sedangkan “tahu diri” merupakan kesadaran diri terhadap martabat dan posisinya: siapa saya, sebagai apa dan punya kehebatan apa-apa. Dalam terminologi akhlak, merasa dan tahu diri disebut “tawadhu” yaitu rendah hati.

Iklan Layanan Masyarakat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here