The news is by your side.

Tahun Baru Islam dan Catatan Diri

Tahun Baru Islam

LTN NU Jawa Barat, Bambang Melga Suprayogi M.Sn. – Tahun baru Islam, akan hadir beberapa saat kedepan. Ya, kita akan menginjak tahun tahun baru Islam 1 Muharram 2022, atau 1444 H dalam kalender Hijriah, yang akan jatuh pada hari ini, Jumat malam, 29 Juli hingga malam 30 Juli 2022.

Lantas apa yang bisa kita telaah dari adanya Tahun baru Islam ini ?
Ramai-ramai, memadati jalan, pawai obor dan mengalunkan sholawat kah? Atau buat acara memperingatinya, dengan mendatangkan Ustad, Kyai, dan mendengarkan tausiahnya !

Lalu bagusnya buat kita secara pribadi apa ?

Ingat, peristiwa apa yang melatari hingga kita memiliki tahun penanggalan sendiri ?

Itu yang mesti kita kaji !

Saat peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, dengan membawa serombongan besar umat Islam yang sudah mengakui kerosulan dan kenabian Muhammad, serombongan itu pergi dari Kotanya, Makkah, menuju Madinah, suatu negeri yang mereka datangi, dengan membawa harapan, rasa cinta, dan semangat tauhid tinggi yang menempel dalam dada setiap sanubari umat nabi itu, dan itu terjadi pada tahun 622 Masehi.

Inilah Peristiwa bersejarah itu, terjadi pada 1 Muharam, yang ditetapkan sebagai awal tahun baru bagi Kalender Hijriah.

Hijrah para sahabat Nabi yang di jadikan patokan pada penanggalan tahun baru Islam, sangat jauh saat itu dari hingar bingar kebahagiaan, keceriaan, dan sorak Sorai, seperti apa yang kita lihat saat ini, hampir di seluruh pelosok negeri.

Ada keperihan, ada kenestapaan, ada kepahitan, dan keprihatinan yang harus menjadi sebuah perenungan besar.

Islam kuat setelah berhijrah. Madinah menjadi penguat kekompakan, dan persaudaraan umat muslim. Di Madinah antara dua kaum muslimin Anshar dan Muhajirin saling bersatu. Istilah ringan sama di jinjing, berat sama di pikul, telah mendarah daging, menyatu dalam keseharian kaum muslim ini.

Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk memulai awal baru bagi kita di tahun baru Islam ini?

  1. Perkuat lagi semangat bertauhid, dan berIslamnya.
  2. Bangun kekuatan Islam bersama, dengan berjamaah atau berkelompok, bukan dengan berasik masyuk, lewat kesendirian dan memagari diri, dengan semangat individualismenya, bukan itu yang diinginkan Nabi.
  3. Gali capaian individu, dengan memperbanyak pemahaman akan ilmu-ilmu yang diperlukan, dan bermanfaat bagi umat, dan masyarakat luas.
  4. Lakukan pendekatan dengan masyarakat umum, disegala lapisan, untuk lintas agama.
  5. Ulama, Kyai, para ustad, jangan memiliki ego yang merasa ia berstatus sosial tinggi, hingga ia selalu harus didatangi, dan masyarakat harus menyembah. Hilangkan kejumawaan itu, karena ini akan menjauhkan dari simpati, dan malah mendatangkan antipati.
  6. Sudah saatnya para pembenci, penebar fitnah, pembuat konten hoax yang selalu menebar fitnah kita panggil, kita klarifikasi maksudnya, sehingga umat dibuat tidak terpecah, tapi akan teredukasi dan cerdas pada saatnya.
  7. Kita buat tenang para jamaah, umat Nabi ini, untuk ustad, Khyai yang seringkali membuat resah, dan mencari sensasi negatif, dengan berkedok agama Allah yang mulia ini, organisasi keagamaan dengan bermitra dan bekerjasama dengan aparat, wajib memanggil, dan menegur secara keras, sosok Khyai, atau ustad tersebut, sehingga bisa diluruskan, dan andai sudah tak bisa dibenahi, wajib ia di bawa ke ranah hukum, ketika perbuatannya sudah mencederai dan mencoreng Marwah agama kita.
  8. Terus bangun kesadaran spiritual, optimisme manusia unggul, sehingga kita akan selalu merasa penuh syukur.

Banyak yang bisa kita siapkan untuk masuk ke tahun baru Islam yang kita tunggu-tunggu itu.
Saatnya kita berintrospeksi diri, saatnya kita memperbaharui semangat dan gairah ke Islaman kita.

Tahun baru Islam adalah lembar awal, untuk buku catatan diri kita yang akan kita tulis isinya dengan tinta kiprah hebat yang akan kita buat.

Niatkan untuk melakukan semangat perubahan, revolusi mental spiritual kita, sehingga kita bisa membacakan ikrar pembebasan diri dari kejumudan dan kejahiliyahan diri.

Mari semangat memasuki jalan terbentang lebar dan lurus, untuk membuat diri kita berarti, ketika memasuki tahun baru Islam nanti.

Niat kita adalah niat suci.
Tekad kita adalah menjadi para kesatrianya Allah.
Para kesatria adalah orang-orang cerdas dan ahli strategi.
Maka, cerdaskan diri kita, dan jadilah kita andalan umat, yang juga akan menjadi andalan Allah yang Dia banggakan, aamiin.
Alhamdulillah

Semoga bermanfaat
Bambang Melga suprayogi M.Sn.

Leave A Reply

Your email address will not be published.