Wajah NU di Ponpes Mubarokulhuda Banjaran

55
Wajah NU di Ponpes Mubarokulhuda Banjaran - WhatsApp Image 2019 07 07 at 1 - Wajah NU di Ponpes Mubarokulhuda Banjaran

Era globalisasi dan era digitalisasi memberikan dampak tersendiri bagi tumbuh dan kembangnya anak-anak Indonesia. Arus informasi yang tidak terbendung, baik informasi yang positif maupun negatif bisa menjadi efek domino dalam pergaulan para penerus bangsa.

Kehidupan yang heterogen. Banyaknya aliran yang mengatasnamakan Islam. Pergaulan yang mulai bebas. Menjadi tantangan tersendiri bagi Nahdlatul Ulama di kabupaten Bandung.

Ponpes Mubarokulhuda kec. Banjaran menjawab tantangan itu dengan elegan. Melalui pendidikan yang berkarakter dan berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah dalam naungan Nahdlatul Ulama, berhasil memikat masyarakat untuk memesantrenkan anaknya ke ponpes Mubarokulhuda.

Jumlah santrinya sekarang mencapai 1.300 orang. Jumlah yang fantastis bagi Pesantren yang berada di sebuah kota. Dimana pola pikir orang kota agak mengesampingkan pendidikan agama.

Pesantren yang berada dalam asuhan KH. Undang Mukhlas, KH. Abdul Halim dan KH. Ahmad Hariry ini, sering menyarankan santrinya untuk melanjutkan mendalami ilmu agama ke pesantren yang lebih besar seperti Buntet pesantren, Ponpes Cintawana Tasikmalaya, Ponpes Sukahideng Tasikmalaya, Ponpes Sukaguru Tasikmalaya, Ponpes Cipasung Tasikmalaya, Ponpes Lirboyo Kediri, Ponpes Ploso Kediri dan Ponpes Al-anwar Sarang serta pesantren lainnya.

Bagi 3 pengasuh ini Ponpes Mubarokulhuda hanya memberi dasar ilmu agama saja sedangkan keberkahan ada di pesantren yang lebih besar. Ngalap berkahlah kepada kyai sepuh.

Dari sisi akademik pesantren ini sering mengirimkan santrinya untuk mengikuti Musabaqoh Qira’atul Kutub. Dan 3 kali mencapai tingkat nasional.

Alumninya pun banyak yang berkiprah di masyarakat mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah dalam wadah NU. Dan banyak pula yang telah mendirikan pesantren.

Karakter yang dibangun kepada santri adalah cinta kepada ulama dan kyai, menghormati orang tua dan guru. Karakter ini berhasil ditumbuhkan kepada santri ditengah-tengah terjadinya krisis moral terhadap terhadap orang tua dan guru. Dan hilangnya kecintaan kepada ulama.

Diakhir tulisan ini, semoga pesantren Mubarokulhuda semakin berkah dan terus maju dalam mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah ditengah sengitnya paham menjauhkan ulama dan masyarakat dengan semboyan kembali kepada Al-quran dan Hadits.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here