Agama, Akal, dan Perubahan Jaman.

61

Kehidupan sosial inilah yang menjadi hak wilayah manusia untuk di urusnya. Tuhan  telah mendelegasikan kekuasaan kepada manusia ( QS. 2 :30 ). Dalam hal-hal tertentu, Tuhan tidak mencampurinya. Setiap kebaikan dan kerusakan, telah sepenuhnya tanggung jawab dan resiko manusia itu sendiri.

Pada awalnya manusia tidak mempunyai agama. Allah pun tidak tergesa-gesa menurunkan syareat. Allah menurunkan syareat, dalam pengertian lengkap. Dimulai pada Nabi Ibrahiem AS. Oleh karena itu, para ahli antropologi agama menyebut agama-agama yang ada sekarang sebagai agama keturunan Ibrahiem ( Ibrahiemic religious ).

Manusia mempelajari alam pada awalnya secara otodidak, dan menemukan proses-proses alam yang tidak dikuasainya, diluar batas kemampuannya. Proses-proses itu membawa kepada konklusi, bahwa ada kekuatan di luar dirinya dan alam yang mengendalikan semua kejadian yang terjadi. Manusia kemudian meng-asosiasikan kepercayaannya tersebut kepada kekuatan alam sendiri dan roh-roh yang gaib. Lahirlah kemudian agama primitif, animisme dan dinamisme. Kemudian kepercayaan itu mengalami evolusi yang panjang, sebelum agama diturunkan, menjadi polyteisme, dan puncaknya adalah monoteisme.

Penulis
Toufik Imtikhani, SIP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here