Dari Buku “Islam Radikal” : Hakimiyah [Selesai]

62

Keenam: Berkesimpulan bahwa risalah agama ini telah mengalami keterputusan. Pendapat ini sangat aneh dan tidak pernah diungkapkan oleh siapa pun. Secara jelas pendapat ini sangat melukai umat Islam yang merupakan umat moderat serta umat ilmu pengetahuan, agama, peradaban, kebaikan dan hidayah. Ia berpindah dari satu kesalahan ke kesalahan yang lain hingga berujung pada perkara yang sungguh sangat aneh, yaitu bahwa eksistensi umat Islam sudah tidak ada sejak beberapa abad lalu.

Dalam kitabnya “Ma’alim fi al-Thariq” Sayyid Qutb berkata: “Sesungguhnya eksistensi umat Islam sudah terputus sejak beberapa abad yang lalu.” Dan ia terus mengulang hal senada dalam kitab-kitabnya yang lain. Ini merupakan inti dari permasalahan hakimiyah menurut pandangannya.

Penyebab semua itu, karena Sayyid Qutb berpaling dari pengalaman para ulama sepanjang sejarah umat Islam dalam memahami wahyu. Ia tidak mau menggunakan metodologi mereka dalam memahami wahyu. Bahkan ia mengatakan bahwa produk pemikiran umat Islam adalah sebuah wawasan jahiliah, ia berkata: “Bahkan banyak yang kita anggap sebagai wawasan Islam, rujukan Islam, filsafat Islam, dan pemikiran Islam, adalah produk dari masyarakat jahiliah ini.”

Iklan Layanan Masyarakat

Sayyid Qutb menjauhkan dirinya dari metodologi para ulama dalam memahami Al-Quran. Ia berusaha untuk memahaminya dengan asumsi, perasaan, dan paradigmanya sendiri. Bahkan di bagian awal kitabnya al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an ia berkata ;

“Aku masuk ke dalam lembaga-lembaga pendidikan, lantas aku membaca tafsir Al-Quran di kitab-kitab tafsir. Aku pun mendengar penafsirannya dari penuturan para guru. Akan tetapi dari apa yang telah aku baca dan dengar, aku belum menemukan Al-Quran yang lezat dan indah itu sebagaimana yang pernah aku rasakan saat masih kecil. Duh, sayang sekali, simbol-simbol keindahan Al-Quran telah tertutup, sehingga Al-Quran kehilangan kelezatan yang selalu mengundang rindu. Kamu melihat dua Al-Quran ? Al-Quran di masa kecil yang enak, mudah, dan mengundang rasa rindu untuk senantiasa membacanya, dan Al-Quran di masa muda yang susah, rumit, dan membosankan ? Ataukah ini hanyalah buruknya metodologi yang dipakai dalam menafsirkan Al-Quran ? Kemudian aku kembali membaca Al-Quran dari mushaf, bukan dari kitab-kitab tafsir. Di sini aku kembali menemukan keindahan Al-Quran. Aku mendapati sebuah deskripsi indah yang mengundang rasa rindu….dst.”

Ini sebuah teks pernyataan yang sangat berbahaya yang mengungkap akan metode pemahaman, analisa, dan interaksinya dengan teks Al-Quran. Sayyid Qutb benar-benar tidak menggunakan metodologi yang telah dibangun oleh para ulama Islam sepanjang sejarah, dalam berkhidmah kepada Al-Quran dan memahaminya. Ia menjadikan produk ilmiah para ulama itu sebagai produk jahiliah. Baginya, dasar dalam memahami Al-Quran adalah rasa estetika, yang parameternya tidak jelas dan sifatnya masih universal, yang ia rasakan di masa kecilnya, bukan sebuah metodologi ilmiah yang detail dan jelas, yang menjadi pegangan para ulama Islam sepanjang sejarah dalam menggali makna dan hukum dari teks-teks Al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” (QS. An-Nisaa: 83)

Dari keterangan di atas dapat kita pahami bahwa ada sebuah dorongan yang kuat dari kelompok-kelompok takfiri sepanjang zaman untuk mendistorsi penafsiran ayat 44 dari surah al-Maaidah ini. Mereka muncul di dalam sejarah umat Islam bak gelombang ombak takfir yang datang silih-berganti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here