Dari Buku “Islam Radikal” : Hakimiyah [Selesai]

62

Semuanya berporos pada pemahaman yang salah terhadap ayat ini. Pemahaman mereka ini bertentangan dengan ijmak (konsensus) ilmiah di kalangan ulama sepanjang abad dalam memahami ayat tersebut dengan benar.

Bahkan al-Khatib al- Baghdadi meriwayatkan dalam Tarikh al-Baghdad bahwa Ibnu Abi Dawud pernah berkata: “Ada seorang Khawarij dibawa menghadap Khalifah al-Makmun, lantas al-Makmun bertanya, “Apa hal yang menyebabkanmu berbeda dengan kami?” Ia menjawab, “Satu ayat di dalam Kitab Allah Ta’ala.” AI-Makmun bertanya lagi, “Apa itu?” Ia menjawab, “Firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Allah maka mereka adalah orang- orang kafir. ” (QS. Al-Maaidah: 44). Lantas al-Makmun bertanya lagi, “Apakah kamu mengetahui bahwa ayat itu benar-benar diturunkan oleh Allah ?” Ia menjawab, “Iya.” Al-Makmim bertanya lagi, “Apa dalilmu?” la menjawab, “Ijmak umat Islam.” Al-Makmun berkata, “Sebagaimana ijmak mereka kamu terima dalam penetapan ayat, maka terimalah ijmak mereka dalam penafsiran ayat.” Ia berkata, “Anda benar. Semoga keselamatan senantiasa tercurah kepada Anda wahai Amirul Mukminin.”

Nabi SAW. telah memperingatkan akan bahaya sikap takfiri ini. Diriwayatkan dari Huzaifah r.a. ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah seseorang yang membaca Al-Quran, hingga terlihat kebesaran Al-Quran pada dirinya. Dia senantiasa membela Islam. Kemudian ia mengubahnya, lantas ia terlepas darinya. Ia mencampakkan Al’Quran dan pergi menemui tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya syirik. Saya (Hudzaifah) bertanya: “Wahai Nabi Allah, siapakah diantara keduanya yang lebih berhak atas kesyirikan, yang dituduh ataukah yang menuduh?” Beliau menjawab: “Yang menuduh.” (HR. Bazzar)

Iklan Layanan Masyarakat

Hadis ini diriwayatkan olah Bazzar di dalam Musnad-nya. Status sanad (mata rantai periwayatan) Bazzar ini dianggap hasan (bagus) oleh al Haitsami dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya serta Abu Ya’la dalam Musnad-nya. Sanad ini juga dikomentari oleh Ibnu Katsir; “Ini sanad yang (baik)”. Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Thahawi dalam Syarh Musykil al-Atsar, al-Harawi dalam Dzammu al-Kalam wa Ahlihi, dan Ibnu Asakir dalam Tabyin Kadzih al-Muftari.

Hadis ini juga diriwayatkan dari jalur Mu’adz bin Jabal sebagaimana diriwayatkan oleh al-Thabari dalam Musnad al-Syamiyyin, Ya’qub bin Sufyan dalam al-Ma’rifah wa al-Tarikh, Ibnu Abi Ashim dalam Kitab al-Sunnah, al-Harawi dalam Dzammu al-Kalam wa Ahlihi, dan Abu al- Qashim al-Ashbabani dalam al-Hujjah. Terkait hadis ini, nanti akan kami kupas lebih dalam.

Umat Islam tidak akan tersesat. Selamanya mereka tidak akan tersesat secara keseluruhan kepada kekufuran sebagaimana dibayangkan oleh Sayyid Qutb dan kelompok-kelompok saat ini yang mengikutinya. Nabi SAW. telah memberitahu bahwa umat ini akan senantiasa terjaga dari kesyirikan dan kekufuran. Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahih-nya dari hadis Uqbah bin Amir bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya aku tidak khawatir kalian berbuat kesyirikan. Akan tetapi aku khawatir kalian berlomba-lomba mengumpulkan dunia.” (HR. Bukhari).

Bahkan Imam al-Hafidz Abu Umar bin Abdil Barr di dalam al-Tamhid berkata: “Barangsiapa mengkhawatirkan umat Islam apa yang tidak dikhawatirkan oleh Nabi SAW. maka ia telah memaksakan diri terhadap sesuatu yang sudah jelas.”

Ini merupakan satu contoh nyata tentang penyimpangan dalam memahami Al-Quran. Ketika seseorang tidak memiliki kapasitas untuk berinteraksi dengan teks wahyu, maka akal akan mengaitkan hawa nafsu dan pemikiran yang menyimpang kepada firman Allah. Akhirnya agama Allah yang semula penuh rahmat dan kasih sayang berubah menjadi pertumpahan darah. Dan para ulama harus senantiasa menunaikan kewajiban mereka dalam menjelaskan kesalahan pemahaman yang dikaitkan kepada teks-teks wahyu. Hal itu demi membersihkan dan menjaga agama Allah dari pemahaman pemahaman yang keliru dan absurd, serta dengan segera menerangkan cara-cara yang benar dalam berinteraksi dengan wahyu.

[Selesai tentang hakimiyah]

Diringkas dari buku karya Syaikh Usamah yang  berjudul Al-Haqqul Mubin fi Raddi ‘ala man Tala’aba bid-Din yang menelaah secara kritis radikalisme mengatasnamakan ajaran Islam. Membedah dan mengkritisi asal-muasal radikalisme yang diambil dari sumber-sumber teks Islam yang ditafsiri Sayyid Qutb, dan kemudian dijadikan dasar pijakan hakimiyah, takfiri hingga seperti apa yang kita saksikan saat ini. Syaikh Usamah menyebut penafsiran Sayyid Qutb sebagai “Tafsir marah”.

Buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh M. Hidayatulloh dengan judul “Islam Radikal : Telaah Kritis Radikalisme dari Ikhwanul Muslimin hingga ISIS” yang diterbitkan di Dar al-Faqih Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 2015 lalu. Versi digital buku sudah lama beredar, bahkan versi full text juga tersedia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here