Iman : Kebenaran dan Kebaikan

130
Iman : Kebenaran dan Kebaikan

Kehidupan manusia tidak terlepas dari kehidupan yang bersifat teoritis dan praktis. Pengetahuan (teori) merupakan merupakan landasan awal manusia untuk bertindak. Kehidupan tanpa pengetahuan ibarat perjalanan tanpa peta yang jelas, kadang ke barat, ke timur, ke selatan, dan ke utara tak jelas arah. Pengetahuan itu ibarat cahaya yang dapat menerangi kehidupan agar terlihat jelas, semakin tinggi ilmunya (semakin terang) jalannya maka semakin jelas jalan kehidupannya. Sebaliknya kebodohan adalah ibarat kegelapan. Pengetahuan saja tak cukup dalam menempuh kehidupan tanpa mempraktikannya. Ilmu atau pengetahuan itu bermanfaat bagi manusia sebagai penerang dan etika (tindakan baik) diperlukan agar manusia meraih kebutuhan materi dan kebutuhan ruhani (kebahagiaan).

Kehidupan teoritis atau konsep tentang seharusnya itu disebut kehidupan manusia dalam mencari kebenaran. Jadi kebenaran merupakan tujuan pencarian manusia dalam kehidupan teoritisnya. Sedangkan tindakan manusia (kehidupan praktis) adalah mencari nilai kebaikan. Masalahnya kadang ada perbedaan antara seharusnya(teoritis) dengan senyatanya (kehidupan praktis)? Apakah itu kebenaran? Dan apa itu kebaikan?

Standar kebenaran menurut ahli, paling tidak dapat digolongkan pada tiga aliran pemikiran yaitu korespondensi, koherensi, dan pragmatis. Kebenaran korespondensi yaitu kesesuaian antara pernyataan dengan realitas, kebenaran ini bersifat empiris. Seperti pernyataan Perempuan dapat mengandung dan melahirkan anak, faktanya yang melahirkan hanya perempuan. Kebenaran koherensi yaitu pernyataan pertama dan seterusnya koheren (bersesuaian), kebenaran ini bersifat rasional. misalnya Setiap manusia akan mati, Iwan adalah manusia maka Iwan akan mati. Ketiga adalah kebenaran pragmatism yaitu kebenaran yang bersifat fungsional seperti fungsi handphone adalah alat komunikasi maka berkomunikasi dengan Hp itu disebut benar.

Iklan Layanan Masyarakat

Dalam kehidupan praktis (kebaikan dan keburukan) paling tidak ada tiga pendapat yaitu aliran teleology, aliran deontology, dan aliran virtue (keutamaan). Tapi dalam kesempatan ini kita akan bahas dalam perspektif yang lebih praktis. Standar kebaikan lebih bersifat subyektif tergatung situasi dan kondisi subyek.

Tidak semua kebenaran harus diungkap sebab mungkin saja kebenaran yang diungkap kadang merugikan subyek atau obyek yang kita tuju. Misalnya pada kasus sebuah keluarga yang mengalami kecelakaan lalu lintas, anaknya meninggal dunia, ibunya sakit parah dan ayahnya luka ringan. Ketika si ibu siuman pasti bertanya tentang anaknya. Kemudian timbul masalah antara harus disampaikan kebenaran atau tidak? Demi kebaikan si Ibu, tentu seorang dokter tidak akan menyampaikan kebenaran kepada si ibu, sebab kalau tidak, bukan tidak mungkin sakitnya si Ibu tambah parah. Kebaikan itu juga dapat juga disebut tindakan terpuji sebaliknya keburukan adalah tindakan tercela. Di sini dapat kita pahami bahwa tidak semua kebenaran dapat disebut kebaikan atau sebaliknya. Kebaikan itu berbasis pada cinta diri yang mana sesuatu disebut baik karena menguntungkan diri si pelaku. Hakekat cinta diri dapat berupa cinta Allah SWT karena cinta Allah pada hakekatnya cinta kepada diri sendiri.

Iman : Kepercayaan, keteguhan, dan tindakan

Keyakinan (Iman) didapat melalui proses kepercayaan. Mengapa orang percaya pada sesuatu? Karena memiliki pengetahuan, pengetahuan didapat melalui akal dan indera. Kerja akal adalah fikir Jadi dapat dikatakan untuk mempercayai sesuatu harusnya melalui proses berfikir. Yaitu berfikir untuk menemukan kebenaran. Seperti kepercayaan kita kepada Allah SWT. Setelah kita berfikir kita paham bahwa Allah itu pasti ada. Kepercayaan pada Allah melalui berfikir filosofis maupun berfikir logis, misalnya segala sesuatu yang ada pasti ada yang mencipta (sebab segala sebab adalah Allah SWT). Setelah kita percaya Allah itu ada, kemudian kita teguhkan kepercayaan itu ke dalam hati hingga kita mencintai kebenaran tersebut dan melahirkan tindakan. Bukti cinta adalah melakukan sesuatu untuk yang dicintai. Tindakan amal sholeh merupakan bukti iman.

Tindakan orang yang memiliki keyakinan yang teguh pasti berbeda dengan tindakan orang yang tidak yakin dan ragu-ragu. Keyakinan memiliki tiga tingkatan yaitu Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Ilmul yaqin terkait yakinnya seseorang dengan akalnya seperti ketika kita melihat asap pasti ada api. Jadi kebenaran adanya api melihat tanda-tanda (ayat), Yang kedua ainul yaqin yaitu yakin karena melihat fakta secara langsung melihat api melalui api itu sendiri. Dan yang ketiga yakin ada api bukan hanya melihat api langsung tapi merasakan panasnya juga. Subyek merasakan kehadiran api dalam dirinya.

Kebenaran seharusnya menjadi patokan dalam bertindak. Walaupun kadang tidak semua kebenaran dapat dilakukan, Karena teori atau kebenaran hasil pemikiran yang hanya ada dalam fikiran sedangkan praktik adalah kenyataan yang melibatkan banyak dimensi. Oleh karena itu semua tindakan kita harus didasarkan pada nilai fungsional yang disebut kebaikan. Kebaikan yang hakiki adalah milik Allah SWT.Ukuran kebaikan bagi manusia adalah tujuannya kebenaran yaitu Allah, caranya baik, hasilnya baik, dan efeknya baik. Al Ghozali mengibaratkan perbuatan baik yang dilakukan dengan cara tidak baik, ibarat mencuci baju menggunakan air kencing atau air kotor. Jadi berbuat baiklah dengan cara baik agar hasilnya baik. Jadi dapat dikatakan untuk mengajak ma’ruf dan mencegah munkar tidak cukup dengan niat baik tapi juga perlu cara baik, tidak menghina, menghujat, memfitnah dan lain-lain.

Kesimpulan:

Kebenaran (Pengetahuan) harusnya menjadi dasar seseorang untuk yakin. Keyakinan atau iman didapat melalui pengetahuan yang didapat akal dan indera, kemudian disimpan dalam hati yang melahirkan cinta untuk melakukannya. Jadi dapat dikatakan bukti iman itu amal sholeh. Kebaikan yang kita lakukan harus berdasarkan iman tanpa keimanan maka kebaikan yang kita jalankan tidak bernilai di sisi Allah SWT, walaupun tetap merupakan kebaikan. Keyakinan merupakan landasan orang untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Untuk mengkaji kebenaran memerlukan alat yaitu rasio, hati, dan indera. Ilmu yang membahas kebenaran adalah logika, filsafat (ontology), sains, dan agama sedangkan ilmu yang membahasas kebaikan disebut etika, akhlaq, dan tasawuf (aksiologi). Untuk menjalankan kebenaran perlu lingkungan yang kondusif sebab kalau tidak, akan berdampak pada keburukan.

Penulis: Dr.H. Srie Muldrianto, MPd (Pengurus HIPAKAD (Himpunan Putra-Putri Keluarga TNI AD) Purwakarta, Ketua PC MATAN (Mahasiswa Ahlu Thariqoh An-Nahdliyah) NU Purwakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here