Indonesia, antara Islam dan Barat

92

Gejala ekstremisme, baik kanan mupun kiri, justru terbaca jelas sejak reformasi begerak dan bergulir menyentuh setiap sendi kehidupan bangsa kita. Transisi dan konsolidasi demokrasi yang berjalan lambat pada satu sisi, dan hilangnya kekuatan dominan yang dapat menjadi kelompok penekan terhadap idiologi tunggal, telah menyemai tumbuhnya gerakan radikal dan ekstrem. Establishme idiologi dan sistem ketatanegaraan mulai diusik oleh kelompok ekstremisme dan hendak digantikan dengan idiologi mereka yang berwatak singularisme. Artinya, keragaman dan kebhinekaan yang secara faktual diakomodir oleh idiologi Pancasila, akan diberangus oleh kelompok radikal. Keragaman itu akan diubahnya atau setidaknya tidak diakuinya, dan hanya satu jalan mencapai cita-cita melalui keimanan yang tunggal.

Harus diakui, kelompok Islam radikal adalah bagian yang penting dari kelompok-kelompok yang hadir ingin menggeser konsensus nasional kepada Islam yang mereka pahami dan pedomani. Di tahun 1945, para pemimpin muslim, yang ikut merumuskan Pancasila, demi menjaga perasaan non-muslim, yang juga merupakan bagian integral dari bangsa kita, rela menghapus butir …” kewajiban menjalankan syareat Islam bagi pemeluknya..” pada sila  pertama Pancasila, seperti terumuskan dalam Piagam Jakarta.

Tetapi kemudian, sekarang, ada beberapa kelompok muslim yang seperti terjaga dari mimpi dan tidurnya, kemudian mendapatkan dirinya berada pada negara nasional-modern yang jauh, menurut mereka, dari sifat-sifat ke-Islaman (  Abdul Wahab El Effendi, 1993 ). Kelompok ini seperti mengalami dis-orientasi, frustasi, anomie, karena apa yang mereka dapatkan dalam mimpi hidup di negara Madinah era kenabian, tak kunjung mereka dapatkan.

Iklan Layanan Masyarakat
Penulis
Toufik Imtikhani, SIP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here