Indonesia, antara Islam dan Barat

92

Karena dipandang bermasalah, preferensi antara Islam dan sekuler tersebut, oleh individu dan kelompok tertentu, hendak di tarik ke salah satu atau kedua sisi ekstrem yang ada, antara islam dan sekularisme. Ada yang ingin menariknya kepada sisi Islam, dan atau sekularisme. Misal, ingin menerapkan syareat Islam sebagai hukum negara. Disisi yang lain, ada kelompok yang ingin menghapuskan peran agama ( Islam ) dalam kehidupan negara.

Keadaan polaritas ini akan semakin menajam jika sudah memasuki wilayah politik. Wilayah politik sesungguhnya merupakan gelanggang konflik, yang secara rasional legal dan dibenarkan. Menjadi tidak benar jika kemudian, karena pengaruh idiologi keagamaan, konflik dapat bersifat emosional.

Karena politik secara definitif adalah segala upaya untuk memperoleh, mengelola, dan mempertahankan kekuasaan. irasionalitas yang dilandasi emosi idiologi keagamaan atau aliran, maka politik sangat rentan menjadi media perpecahan. Bergeraknya konsensus kepada sisi ekstrem antara agama dan sekuler, berarti pula berkurangnya political equalibrium ( keseimbangan politik ) yang dapat dibuktikan dengan menguatnya primordialisme politik, sosial, ekonomi, dan budaya terutama di kalangan umat Islam.

Iklan Layanan Masyarakat
Penulis
Toufik Imtikhani, SIP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here