Internalisasi Karakter Cinta di Lembaga Pendidikan
Pengetahuan: Panca Indera, akal, dan hati
Mungkin dapat diajukan satu pertanyaan, berpengetahuan dulu kemudian mencinta atau mencinta dulu baru berpengetahuan? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan ilustrasi cerita Zulaikha dengan Nabi Yusuf A.S. Zulaikha mencintai Yusuf karena melihat dan mengetahui Yusuf.
Para Ibu kerajaan mengiris tangannya dan tidak merasakan sakitnya karena melihat ketampanan Yusuf. Yusuf tidak melakukan dosa untuk menuruti permintaan Zulaikha karena Yusuf AS mengetahui Tuhannya secara mendalam.
Pengetahuan diraih melalui panca indera dengan melihat, mendengar, merasakan, mencium,dan mengecap. Jenis pengetahuan ini merupakan jenis pengetahuan terendah tapi juga dapat menjadi awal untuk pengetahuan selanjutnya.
Setelah melihat dan mendengar sesuatu seseorang jadi terstimulus untuk mengetahui, memaknai sebuah peristiwa. Oleh karena itu ada sebuah pepatah Arab yang mengatakan “Barang siapa yang kehilangan salah satu panca inderanya maka dia telah kehilangan satu pengetahuan”.
Ada juga jenis pengetahuan yang tidak hanya didapat melalui panca indera tapi melalui proses merenung, berpikir, dan membanding-bandingkan.
Pengetahuan yang dicerap panca indera kadang tidak benar, misalnya pengetahuan panca indera tentang tongkat yang dimasukkan ke dalam air akan tampak bengkok padahal senyatanya lurus. Begitupun tentang fatamorgana yang dilihat dari jauh tampak ada air padahal kering. Akal mengatakan kayu tersebut tidak bengkok walaupun indera melihat kayu itu tampak bengkok. Kaum materialis yang lebih mengutamakan pengetahuan panca indera dan akal, kini mulai menyadari bahwa pengetahuan yang didapat melalui panca indera dan akal adalah relative. Mereka mulai memikirkan tentang pengetahuan absolut, adakah itu ?
Pengetahuan yang didapat melalui panca indera kemudian diolah oleh akal melalui berpikir. Dengan berpikir pengetahuan yang didapat melalui panca indera dapat diolah menjadi pengetahuan yang tersusun secara sistematis, analitis, dan sintesis.
Dalam Islam pengetahuan tidak hanya didapat lewat dua alat tersebut tapi ada alat lain yang kadang lebih tajam dan akurat. Bahkan para Ulama yang juga ilmuan seperti Ibn Sina, Alfarabi, Al Ghazali dan lain-lain sering mendapatkan ide dan gagasan cemerlangnya melalui intuisi setelah mereka melakukan tazkiyatun nafs.
Sebenarnya hal inipun pernah dialami oleh ilmuan Barat yang menemukan rumus Benzene oleh Kekule, teori Gravitasi oleh Newton dan Archimedes ketika mereka sedang mengantuk dan bermimpi. Dalam hal ini Albert Einstein pernah mengatakan “Imagination is more important than knowledge”. (Bagir, 2019: 90)
Islam dan Pengetahuan melalui Hati
Dalam surat An Nahl ayat 78 Allah berfirman “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”. Ayat ini mengajarkan pada kita bahwa Islam mengakui bahwa panca indera dan hati merupakan alat (epistemology) kita untuk mengetahui realitas (kebenaran).
Tradisi keilmuan Islam yang kaya nilai spiritualitas memiliki metode tertentu. Metode tersebut diajarkan oleh Rosulullah yang kemudian diidentifikasi dan disistematisasikan oleh para Ulama. Dan di antara metode tersebut adalah Takholli (mengosongkan), Tahalli (menghiasi), dan Tajali (memanisfestasi). Jalaludin Rumi mengumpamakan hati ibarat sebuah cermin. Semakin bening dan bersih sebuah cermin maka akan semakin jelas pantulan gambar yang ada dalam cermin.
Oleh karena itu Jika kita ingin mencerap ilmu dengan benar para Ulama mengajarkan pada kita melalui tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa).
Metode kaum sufi lewat mengosongkan diri dari dosa, menghiasi diri dengan akhlaq terpuji adalah upaya untuk mendapatkan pengetahuan sejati (tajalli).
Namun sayangnya ada saja orang yang salah mengira atau bersikap berlebihan sehingga ada yang mengabaikan alat epistemology lain seperti panca indera dan akal. Padahal tidak seharusnya begitu karena Allah SWT telah menciptakan panca indera dan akal adalah juga agar kita bersyukur.
Bersyukur bukan berarti hanya mengucapkan atau mengungkapkan rasa terima kasih melainkan memanfaatkan pemberian sesuai dengan kehendak dan tujuan pencipta.
Apa tujuan dan kehendak Allah menciptakan panca indera, akal, dan hati ? Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi! (QS. Yunus: 101).
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



