The news is by your side.

Islam: Kebenaran, Keyakinan, dan Tindakan

Banyak ayat al qur’an dan Hadits yang meminta umat Islam untuk menuntut ilmu dan berpikir atau mencari kebenaran. Harusnya dengan berbagai dalil tersebut penelitian dan keilmuan menjadi kebudayaan Umat Islam sebagaimana tradisi para ulama dan ilmuan Islam.

Keyakinanlah yang sesungguhnya menjadi landasan kita untuk bergerak dan melakukan sesuatu. Ada tiga kenyataan tentang tindakan berdasarkan keyakinan dan kebenaran :

  1. Menjadikan kebenaran sebagai keyakinan baru melakukan tindakan,
  2. Keyakinan didasarkan pada dugaan atau kemungkinan benar atau mungkin salah kemudian bertindak,
  3. Walaupun yakin tidak benar tapi tetap dilakukan. Contoh yang pertama “api dapat membakar dan panas” pernyataan ini sebuah kebenaran dan kita menjadi yakin hingga kita tidak mau memegang api. Yang kedua “lompat dari atap rumah yang tinggi dapat menyebabkan kematian” pernyataan ini sebuah kemungkinan benar atau mungkin salah, tapi kita tetap tidak melakukannya. Contoh yang ketiga “merokok dapat membahayakan kesehatan” atau “kita tahu bahwa orang mati tidak akan bangun lagi dan mengganggu orang lain” pernyataan ini sebuah kebenaran tapi keyakinan kita tidak sesuai dengan kebenaran itu, buktinya kita masih merokok atau kita takut kalau berdua dengan mayat.

Dalam beragama paling tidak kita bisa temui dua sikap:
Pertama, keimanan dipahami menerima secara langsung wahyu atau teks agama tanpa melalui proses berpikir benar dan salah. Setiap teks harus diterima begitu saja. Iman pada Allah SWT tanpa harus mempertanyakan dan mengujinya apakah benar Allah itu ada? Pokoknya harus iman(yakin). Paham iman seperti ini biasanya mempertentangkan agama dengan akal. Agama tak dapat dicerna akal, Jika ada pernyataan agama yang bertentangan dengan akal maka wajib ikuti agama dan lain-lain. Narasi ini kerap muncul dikalangan awam juga ilmuan Islam. Sering kita temui seorang sarjana bahkan doktor yang sering meneliti dan paham prosedur ilmiah tapi ketika beragama Ia menerima begitu saja. Taat pada ustadznya tanpa mengujinya. Contoh seorang doktor dosen perguruan tinggi ternama yang terlibat kasus bom.

Keimanan yang kedua Keimanan yang didasarkan pada pengetahuan (kebenaran). Sikap kedua ini menuntut adanya upaya seseorang untuk mencari dan memperjuangkan kebenaran. Sesungguhnya keimanan model ini adalah keimanan ideal seorang Muslim karena orang seperti ini tidak akan mudah dikelabui dan dibohongi. Untuk meraih keimanan model ini biasanya dilalui oleh berpikir, merasa, merenung, dan kemudian dicintai dalam hati, dengan kata lain yakin didapat melalui akal dan masuk ke dalam hati.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.