Islam, Pancasila, dan Harmonisasi Kehidupan Berbangsa
Bagaimana dengan Indonesia? Seperti apa Pancasila dipraktikkan? Sesungguhnya Pancasila dan Islam sama-sama memuat nilai-nilai yang sangat universal sebagaimana yang telah diungkapkan di atas. Pancasila tidak sedikitpun membeda-bedakan bangsa karena bangsa Indonesia terdiri atas berbagai macam SARA. Sehingga sudah semestinya yang mengaku dirinya Indonesia harus menghargai dan menghormati berbagai macam keyakinan, budaya, dan tradisi dengan tujuan mewujudkan perdamaian, persatuan, dan kesatuan bangsa.
Diblantika perpolitikan Indonesia sering terjadi konflik misal masalah gugat-menggugat pasca pemilihan umum oleh pihak yang kalah. Atau penyusunan dan pengesahan UU atau kebijakan di parlemen (baca: DPR) yang berkaitan dengan permasalahan rakyat yang pada akhirnya diputuskan melalui mekanisme voting juga. Ironisnya, sepertinya mekanisme tersebut selalu menimbulkan perpecahan, perdebatan, konflik berkepanjangan. Jika sudah seperti ini, mana paradigma musyawarah mufakat yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945? Hal ini hanya menunjukkan bahwa mereka hanya gila kekuasaan semata.
Pada dasarnya, Islam juga sangat menentang segala bentuk kekerasan. Karena hal tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam yang sangat mulia. Islam juga mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia yang terdiri dari bangsa-bangsa dan suku-suku agar saling mengenal dan mengasihi satu sama lain. Jadi jika ada orang Islam melakukan bom bunuh diri yang sungguh mencelakakan orang/bangsa lain ia sesungguhnya bukan orang Islam yang menganut nilai-nilai kebaikan yang universal.
Islam juga mengajarkan berkompetisi dengan sehat, saling nasihat-menasihati dalam kebaikan, bermusyawarah dengan baik, dan membantah sesuatu dengan baik pula. Sehingga dengan nilai-nilai ini akan tercipta persatuan dan perdamaian dalam menghadapi setiap perbedaan pendapat. Berdasarkan hal-hal itu, semestinya bangsa Indonesia yang sebagian besar Islam harus kembali ke khittah Pancasila. Wallahu a’lam bisshawab.
Fathoni Ahmad, Redaktur NU Online
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



