The news is by your side.

Kesunnahan Ketika Mendengar Adzan

Kesunnahan Ketika Mendengar Adzan | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Riski Firman Ramadhan – Tahukah anda tentang adzan dan iqamah? Beliau, Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan dalam kitabnya:

فصل في الأذان والإقامة هما لغة: الإعلام وشرعا: ما عرف من الألفاظ المشهورة فيهما.

Adzan dan iqamah secara bahasa adalah pemberitahuan. Sedang secara syara’ adalah lafad-lafad yang telah masyhur dalam adzan dan iqamah.

Kemudian, Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatho Ad-Dimyathi menambahi:

فيه أن الاذن فقط لغة: الإعلام وأما الإقامة فهي لغة: مصدر أقام، أي حصل القيام فهما مختلفان لغة، كما في

التحفة والنهاية والمغنى

Bahwasannya ketika adzan saja, secara bahasa adalah pengumuman. Sedangkan iqamah secara bahasa adalah akan terlaksananya salat. Keduanya ini berbeda secara bahasa saja, seperti penejelasan dalam kitab Tuhfah, Nihayah, dan Mughni.

Zaman sekarang banyak masjid yang sudah memiliki speaker luar yang saling sahut-menyahut. Ketika kita mendengar adzan dan iqamah, ada beberapa kesunnahan lho, mau tahu? Yuk kita bahas.

Kesunnahan bagi pendengar adzan dan iqamah.

Mengucapkan setiap ucapan orang adzan dan iqamah juga mengucapkan tarji’ meskipun tidak mendengarnya. Bagi orang yang mendengar adzan dan iqamah dengan pendengaran yang dapat membedakan huruf-hurufnya. Jika tidak, maka apa yang telah didengar itu tidak dianggap. Ada suatu pendapat yang masih menghukumi sunnah meskipun tidak dapat
membedakan huruf-huruf yang didengar.

Jika terjadi adzan beruntut maka menjawab semuanya walaupun setelah salat. Hukumnya makruh meninggalkan menjawab adzan yang pertama. Begitu juga makruh bagi orang yang sedang bersetubuh dan orang yang sedang buang hajat, akan tetapi menjawabnya setelah melakukannya seperti orang yang salat. Jika waktu pemisahnya masih tidak terlalu lama.

Adzan subuh

Ketika muadzin membaca حيعلات , maka orang yang mendengar menjawab dengan lafad:

لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Yang artinya: “tidak ada daya untuk meningaalkan maksiat kepada Allah dan tiada kekuatan melakukan ketaatan kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya.

Ketika muadzin membaca tatswib, yakni الصلاة خير من النوم, maka orang yang mendengar membaca dua kali kalimat:
صدقت وبررت

Yang artinya: “jadilah engkau yang memiliki banyak kebagusan”

Kesunnahan bagi yang adzan, iqamah, dan yang mendengarkan keduanya. 

Membaca sholawat kepada nabi setelah selesai keduanya. Dalam kitab Fathul Mu’in
dijelaskan:

أن يصلي ويسلم على النبي صلى الله عليه وسلم بعد فراغهما أي بعد فراغ كل منهما إن طال فصل بينهما وإلا
فيكفي لهما دعاء واحد. ثم يقول كل منهم رافعا يديه: اللهم رب هذه الدعوة أي الأذان والإقامة إلى آخر.

Membaca shalawat setelah selesai keduanya. Jika waktu pemisah di antara keduanya lama, dan jika sebentar maka cukup bagi keduanya membaca satu doa.

Doa yang dibaca ialah:

اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت محمدا الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته

“Ya Allah, Tuhan seruan yang sempurna dan shalat yang berdiri, berikanlah wasilah (tempat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad saw. Bangkitkan ia pada kedudukan terpuji (hak syafa’at) yang Kau janjikan. Sungguh, Engkau tidak akan menyalahi janji. Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku”.

Setelah selesai adzan maghrib, disunnahkan membaca doa:

اللهم هذا إقبال ليلك وإدبار نهارك وأصوات دعاتك فاغفر لي

Yang artinya: “Ya Allah, kini malam-malamMu telah tiba, siang-Mu telah berlalu dan suara-suaraMu telah diperdengarkan, maka ampunilah aku”

Beberapa pendapat ulama tentang membaca shalawat setelah iqamah Imam Nawawi, dalam kitab Syarah Wasith telah mengungkapkan bahwa hukumnya sunnah. Ibn Ziyad memakai pendapat Imam Nawawi sebagai pedoman, dan berkata:

أما قبل الأذان فلم أر في ذلك شيئا

“sedangkan membaca shalawat sebelum adzan, maka aku tidak tahu satu pendapat pun.”

Sebelum adzan dan iqamah

Syekh al-Bakri berpendapat sunnah membaca shalawat dan tidak disunnahkan lafad محمد رسول الله di setelah adzan dan iqamah.

Di antara adzan dan iqamah

Imam Rauyani menjelaskan dalam kitab al-Bahr, disunnahkan untuk membaca ayat kursi karena adanya hadis nabi yang berbunyi:

إن من قرأ ذلك بين الاذان والاقامة لم يكتب عليه ما بين الصلاتين.

“Sesungguhnya barang siapa yang membaca ayat kursi di antara adzan dan iqamah, maka tidak akan ditulis baginya dosa yang terjadi di antara dua salat.”

Bagaimana jika setelah wudhu langsung selesai adzan? Mengambil keterangan Syekh Zainuddun al-Malibari dalam kitabnya, Imam Bulqini berfatwa dalam masalah orang selesai wudhu bertepatan dengan selesainya adzan. Maka orang tersebut, membaca dzikir wudhu sebab ia ibadah wudhu terlebih dahulu kemudian membaca dzikir adzan. Beliau berkata lagi, maka bagus ketika seseorang membaca dua syahadat wudhu kemudian doa adzan. Sebab sehubungan dengan nabi dan lalu berdoa untuk dirinya sendiri.

Semoga bermanfaat.

Penulis
Riski Firman Ramadhan
Leave A Reply

Your email address will not be published.