Ketika Agama (Kaum Radikal) Menjadi Musuh Pancasila

72
Ketika Agama (Kaum Radikal) Menjadi Musuh Pancasila

Pecihitam.org – Dua kali agama dan Pancasila seolah-seolah mengalami “benturan”, pertama, saat tujuh kata pada Piagam Djakarta yang berbunyi “kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” direvisi menjadi empat kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang menjadi sila pertama dari Pancasila. Kemudian “benturan” kedua, ketika Pancasila ditetapkan menjadi asas tunggal bagi setiap organisasi melalui Nomor 3/1985 oleh pemerintah Orde Baru.

K.H. A.N Firdaus tokoh Syarikat Islam dalam bukunya “Dosa-dosa Yang Tak Boleh Berulang Lagi”, memasukkan revisi tujuh kata sebagai salah satu dosa politik umat Islam Indonesia. Dalam buku tersebut diurai sila per sila kesalahan Pancasila.

Kesalahan Pancasila yang diuraikannya, terkesan maksa dan mengada-ngada. Uraian K.H. A.N Firdaus tentang Pancasila lemah, bisa disanggah. Akan tetapi sebenarnya, perasaan kalah secara politik dari non-muslim yang melatarbelakangi uraiannya tersebut.

Iklan Layanan Masyarakat

Apakah revisi tujuh kata menjadi empat kata sila pertama Pancasila itu merupakan kekalahan atau kemenangan politik umat Islam? Sangat debatable. Tergantung sudut pandang. Tujuh kata tersebut berorientasi kepada syariah. Sepintas lalu dari sudut pandang formalisasi syariah, penghapusan tujuh kata tersebut adalah suatu kekalahan politik umat Islam dari non-Muslim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here