Pendidikan : Hukuman dan Disiplin Positif

190
Pendidikan : Hukuman dan Disiplin Positif
Mobile

Srie Muldrianto, Purwakarta – Penerapan hukuman di lembaga pendidikan, sekarang ini dianggap sudah tidak relevant. Pendidikan karakter yg dikembangkan di era global ini harus berbasis kekuatan internal peserta didik. Motivasi internal lebih efektif dalam membangun karakter siswa. Jane Nelsen menyarankan pola didik yg tepat di era Kiwari adalah disipline positif. Apa itu disipline positif? Disipline positif adalah suatu cara mendidik karakter siswa berbasis kekuatan internal siswa. Berbeda dengan hukuman yg berbasis tekanan eksternal. Siswa tidak melakukan tindakan salah karena takut dihukum bukan atas kesadaran sendiri.

Jane Nelsen memberikan kriteria disiplin positif sebagai berikut:

  1. Membantu anak merasakan keterhubungannya dengan komunitas. Memisahkan anak dengan komunitas dapat mendorong anak untuk melakukan perbuatan jelek. Riset membuktikan bahwa anak-anak yang memiliki perasaan terhubung dengan komunitas, keluarga, atau sekolah, kecil kemungkinan untuk melakukan perbuatan tercela. Pendidikan di sekolah harus berbasis pada nilai-nilai sosial ini, oleh karena itu buly dan tindakan kekerasan di sekolah harus secara tegas dilarang sebab kalau tidak alih-alih sekolah sebagai lembaga pendidikan malah dapat menjerumuskan siswa pada stres, penderitaan, dan terputusnya hubungan siswa dengan lingkungan sekolah dan teman-temannya. Bully dapat dibagi pada tiga bagian bully fisik, bully lisan dan bully yang memisahkan siswa dengan lingkungan atau atau teman-temannya yang lain. Guru sebaiknya bertutur kata yang baik dan hati-hati jangan sampai merendahkan martabat manusia, baik kepada sesama guru atau kolega yang lain maupun kepada siswa. Hukuman kepada siswa kadang menjadi bully oleh karena itu sebaiknya dihindari.
  2. Ciri kedua dari disiplin positif adalah tetap menghargai, memuliakan siswa dan tidak mempermalukan di depan umum. Guru dalam menindak bersikap ramah sekaligus tegas. Pada usia sekolah, siswa masih berusaha untuk menemukan jati dirinya. Tingkat labilnya sangat tinggi oleh karena itu siswa harus diajarkan untuk belajar mandiri untuk menghargai dirinya juga menghargai orang lain. Latar belakang siswa yang beragam dapat menyebabkan guru kesulitan dalam menggunakan pendekatan yang cocok. Mungkin saja style guru satu dengan yang lain berbeda , mungkin juga cocok kepada siswa ini tapi belum tentu cocok kepada siswa yang lain. Tapi memuliakan dan menghormati siswa pasti akan sesuai dengan fitrah manusia.
  3. Mendidik dengan disiplin positif dapat berdampak pada perubahan karakter siswa dalam waktu panjang. Pembiasaan sikap dan perilaku dapat membangun jati dirisiswa. Siswa diajak berfikir, merasa, belajar, dan memutuskan tindakannya bagi dirinya dan dunianya. Siswa dididik pada masa depan agar dapat survive atau tumbuh. Dalam returning to education kita mengenal dua kembalian pendidikan yaitu yang bersifat konsumtif (jangka pendek) dan yang bersifat investatif (jangka panjang). Yang bersifat konsumtif seperti lapangan pekerjaan, keterampilan, karya ilmiah, keahlian dan lain-lain. Kembalian pendidikan yang bersifat investatif seperti ketaatan warga pada hukum, ketertiban, pajak, toleransi, kesejahteraan, kebahagiaan dan lain-lain. Jadi keberhasilan pendidikan sebuah negara dapat diukur juga pada tingkat kesejahteraan, kebahagiaan dari warga negaranya. Makin terdidik warganya maka makin bahagia dan sejahtera warganya.
    Proses pendidikan karakter berbasis disiplin positif hendaknya membelajarkan siswa berfikir, merasa, dan bertindak (pembiasaan). Siswa diajak untuk cinta pada karakter baik. Sehingga melakukan sesuatu atas dasar pengetahuan, pembiasaan dan cinta. Membangun empati siswa dapat dibelajarkan dengan cara siswa hadir dan merasakan penderitaan kaum papa. Seperti pembelajaran siswa melalui in field camp di SMA Islam Lazuardi. Pada pembelajaran tersebut siswa tinggal di rumah penduduk tinggal selama beberapa hari merasakan dan melaksakan kehidupan keseharian kaum papa. (seperti di acara tv “bila aku menjadi”).
  4. Siswa diajarkan tentang pentingnya kehidupan sosial dan life Skills. Menghormati dan peduli pada orang lain, berbasis pada penyelesaian masalah, dan belajar bekerja sama antar siswa dan diajarkan bagaimana keahliannya dapat berkontribusi di lingkungan rumah, sekolah, dan komunitas yang lebih besar. Pendidikan karakter di sekolah harus berbasis penyelesaian masalah. Pembelajaran lebih bersifat kontekstual. Sebagaimana pernyataan john dewey “Pendidikan adalah bukan persiapan untuk hidup, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri”. Ketika siswa melanggar hendaknya diberi solusi agar siswa dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
  5. Anak-anak diajak untuk menemukan potensi dirinya. Anak didorong untuk menggunakan potensi dirinya secara otonom. Tujuan disiplin positif adalah menumbuh kembangkan kesadaran di dalam diri. Siswa bertindak baik bukan karena pujian atau hukuman tapi karena tuntutan dirinya bahwa ia perlu melakukan tindakan yang baik. Tindakan baik bermanfaat bagi dirinya juga bagi orang lain. Berbuat tercela merugikan dirinya juga merugikan orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here