The news is by your side.

Masa Depan Manusia Setelah Corona

Dunia yang Bersalin Rupa

Sebagai Muslim yang baik, tentu kita sudah sama-sama tahu bahwa di balik kesulitan ada kemudahan, setelah kemudahan muncul kesulitan. Sabar, tawakal, jangan takut dan bersedih, serta tetap berdoa dan ikhtiar, adalah senjata pamungkas yang kita punya. Belum lagi khazanah warisan leluhur yang masih ada hingga kini. Sebut saja gotong-royong, tepo seliro, mangan ora mangan asal kumpul, ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Semua itu bisa kita gunakan untuk bahu membahu menyelamatkan kehidupan bernegara.

Namun tengoklah dengan lebih saksama kondisi dunia kita sekarang. Paling tidak, usai Corona mereda—paling lambat awal tahun 2021 dalam skala global, ada empat hal yang sudah mulai berlangsung sejak dari sekarang, yaitu: deindustrialisasi, definansialisasi, diskoneksi fisik, dan pelokalan global. Sebagian besar industri manufaktur sudah mematikan mesinnya sedari tiga bulan terakhir. Dampaknya, laju ekonomi pun terancam terjun bebas ke titik nadir. Diskoneksi fisik akibat penjarakan sosial membuat kita harus berpikir keras bagaimana cara menanam padi di sawah, dari rumah.

Pemutusan hubungan sosial antarmanusia, terutama karena moda transportasi yang akan sulit digunakan, tentu memaksa kita kembali masuk ke desa yang tak lagi mengglobal. Tenang saja. Anda masih bisa bermedsos ria, tapi secara fisik, cara kita hidup terpental ke zaman merkantil. Nilai mata uang yang hancur, jelas menjadikan barang hanya bisa ditukar dengan barang. Pasar liar perdagangan kian sulit dikendalikan—terutama oleh negara.

Sebagai penutup, kami juga sangat ingin sedulur sedanten tetap semangat merayakan panggung kehidupan ini. Pemerintah Indonesia jangan pula terlampau bergantung pada cadangan devisa yang pasti akan menyusut drastis. Masih ada praktik moneter modern yang bisa dikaryakan. Gelontorkan suntikan bantuan ke pelaku ekonomi mikro yang tak bergantung pada impor. Bentuk satuan kerja khusus, agar proses penyalurannya tak harus melalui jasa perbankan. Terbitkan rupiah dalam edisi terbatas, yang hanya diperuntukkan untuk itu.

Roda perekonomian pasar global yang belum bisa berputar maksimal sampai akhir 2020, setidaknya tak membawa ekonomi negara kita runtuh secara dramatis. Indonesia yang notabene berpenduduk Muslim terbesar sedunia, berpeluang maju ke garda terdepan sebagai tolok ukur ketahanan sebuah bangsa, dalam menghadapi zaman baru yang ufuknya sudah terbit bersama pandemi. Mari kita buktikan dengan segenap jiwa-raga, bahwa negeri gemah ripah loh jinawi ini dihidupi manusia pemberani.

Ren Muhammad, pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas; Ketua Bidang Program Yayasan Aku dan Sukarno, serta Direktur Eksekutif di Candra Malik Institut.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.