The news is by your side.

Mengalah Pintu Rahasia Menuju Kemulian Diri

Mengalah Pintu Rahasia Menuju Kemulian Diri | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa BaratNabi kita Muhammad SAW merupakan type manusia yang menghindari permasalahan. Beliaunya lebih baik mengalah, dari pada mencari masalah.

Yaa, hampir dari awal kehidupan berkeluarganya dengan Siti Khodijah, selama 25 tahun, ia hidup dengan menjalankan prinsip mengalahnya itu, bahkan prinsip mengalah yang Nabi lakukan, ia pertahankan hingga sampai tutup usianya.

Bagaimana Nabi punya karakter mau mengalah ?
Kenapa ia mau mengalah ?
Apakah benar mengalah ini, cocok untuk prinsip di umat kita ?
Apa kehebatan dari sikap mau mengalah ?


Follow Channel LTNNU Jabar di Whatsapp untuk mendapatkan update artikel terbaru. Klik Link ini >> Channel LTNNU Jabar


 

Jika di cermati dari sikap Nabi, berkaitan dengan karakter mau mengalah…itu di sebabkan seorang Nabi, harus terjaga hatinya.
Bagi para Nabi, mengalah merupakan cara meredam ego, dan nafsu, yang datang pada saat kita tertekan, dan bila tak dapat di tahan, maka dikhawatirkan penyesalan yang datang kemudian.

Mengalah merupakan bentuk kedewasaan dalam bersikap.
Mengalah menjadikan manusia bisa berpikir lebih bijak, lebih dalam dan lebih berpresfektif maju ke depan.
Mengalah adalah sikap elegan seorang manusia hamba Tuhan, yang mampu membaca situasi untuk dirinya, hingga nantinya, itu menjadi modal kita, dalam mendapatkan karakter handal, terpuji, dan mulia.

Mengalah itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita, dan kebingungan untuk yang lainnya.

Coba perhatikan intisari dari sikap Nabi yang mau mengalah, yang sudah sering kita dengar di bawah ini, namun langka di kupas para alim ulama.

Dari mulai ia di benci oleh kaumnya, ia diam, membiarkan.
Di tuduh macam-macam dan di fitnah keji sebagai seorang yang gila dan hilang ingatan, ia tak bereaksi, tak mencoba menjawab fitnah tersebut, dan tetap membiarkan fitnah itu hingga viral di tengah kaumnya, hingga akhirnya, malah mereka kaum Quraisynya sendiri, yang kebingungan menghadapi sang Nabi.

Sampai pada kaum Quraisy itu, para pemukanya membujuk Nabi, agar mau Sadar kembali, bahkan mereka siapkan harta berlimpah, agar mau menerima apa yang mereka bawa, asal Nabi kembali ke kepercayaan asli kebanyakan kaum Quraisy saat itu, kisah ini seperti yang banyak di kisahkan.

Belum lagi cerita Nabi dijahili, beliaunya sengaja di jebak, di cari-cari untuk di aniaya, bahkan hendak di bunuh pula.

Hal ini dapat kita kita telisik dari beberapa kejadian, bagaimana sikap mengalahnya itu, bahkan mengharuskan ia untuk lebih baik bersembunyi, dari pada melakukan perlawanan, hal ini tergambar dari kejadian Nabi saat ia harus bersembunyi di gua Tsur, yang jaraknya 7 Kilometer dari kota Mekkah.

Belum lagi saat ia di lempari batu, di lempari kotoran oleh penduduk Thaif hingga berdarah-darah, ia lebih baik membesarkan rasa sabar, dan mengalah pergi, sambil tak henti mendoakan kebaikan untuk penduduk Thaif yang melemparinya.

Ini sungguh suatu hal yang di luar logika akal manusia kebanyakan, tak ada manusia yang sekuat itu rasa kesadaran dirinya, sampai harus mengalah, bahkan malaikat Jibril pun sampai geram, inginnya memusnahkan, bahkan mau mengazab penduduk Thaif.

Menghindari marah, mau mengalah, dan malah mendoakan kebaikan untuk mereka yang menyakitinya, merupakan cara menjauhkan kita dari masalah berkelanjutan yang lebih besar lagi.

Adakah masih ada manusia semacam itu di jaman sekarang ?
Bagaimana kesadaran kita untuk bisa mengalah itu tumbuh ?

Nabi Muhammad SAW, merupakan manusia dengan tingkat daya kesadaran, dalam hal mengalah, telah mencapai puncak yang maha tinggi, dan malaikat Jibrilpun tak bisa memahaminya.

Nabi sudah bagai pribadi selembut embun, ia ringan bagai kapas yang tak berbeban. Kasih sayangnya seluas ujung barat sampe ke timur, dimana dendam tak bisa menempel padanya walaupun hanya sebutir atom, dan sekecil dzarrah sekalipun.

Dia sangat mencintai kehidupan mahluk !
Malah yang jahat aniaya ia cintai, yang kasar ia doa kan.
Dan yang pernah menyakitinya ia maafkan.
Tak ada dendam yang menggelayut dalam hatinya.

Sehingga dengan pribadi Nabi yang demikian.
Setiap mahluk yang memiliki naluri, akan tumbuh kesadaran dengan sendirinya, walaupun Nabi sudah tiada.

Dan inilah yang terus terjadi, ada kebarokahan dari sifat Nabi yang mau mengalah, yang terasa sampai sekarang, hingga getar kekuatan daya mengalah itu, mampu menyentil kesadaran manusia dari generasi ke generasi, hingga sampai akhir nanti.

Tidakkah kita sadar akan pentingnya mau mengalah ?
Selain bisa menyelamatkan diri kita, kitapun akan mampu menyelamatkan keselamatan orang lain di luar diri kita.

Bahkan peristiwa dasyat dari cerita hidup Nabi kita, yang patut kita tiru adalah, mau terus berbuat baik, pada orang yang menjahatinya.
Apakah ini pernah, atau sering dilakukan oleh kita ?
Bukan kah kita mengaku umat Nabi !
Pernahkah kita mau mengalah, dan menyelamatkan kehidupan orang lain, dari sasaran kemarahan kita !

Nabi melakukan hal yang mustahil seperti itu, untuk dijadikan sebagai pedoman, pelajaran bagi umatnya, tentunya bagi mereka yang mau berpikir, dan mau mendapatkan rahasia dari kemulian !

Mengalah merupakan satu pintu rahasia yang Nabi Ajarkan, di mana keistimewaannya, hanya akan di dapatkan oleh mereka yang mau melakukannya…dan bagi mereka umat Nabi yang masih bersandar pada emosi dan Nafsu, itu adalah hal sulit yang bisa di lakukan.

Hingga prinsip, atau lelaku, mau mengalah itu, adalah pilihan jalan yang sangat sulit, terjal dan curam untuk di titi oleh umat Nabi.

Mau mengalah hanya di jalani oleh mereka yang khusus, dan tak banyak umat nabi dari mulai jaman Nabi sendiri, sampai jaman ini, yang mengambil Jalan mau mengalah ini.

Sayidina Ali pun tak sanggup menjalani laku mau mengalah itu, hingga pada keturunannya Ali Zainal Abidin radhiyallahu lah, beliau mengambil sikap mau mengalah, dan Allah selamatkan kehidupannya, hingga darinya keturunan Nabi terus terjaga hingga saat ini.

Mengalah itu istimewa !
Bagi Nabi, mengalah itu sumber datangnya pertolongan, dekatnya Doa yang dipanjatkan untuk bisa naik di ijabah !

Mengalah merupakan satu cara dari kita untuk memerdekakan hati, menjauhkannya dari emosi, kesombongan diri, dan memelihara kebeningan serta kesucian hati kita.

Jangan pernah terpikir, mengalah menjadikan kita risih, dan kita berarti kalah, mengalah yang kita lakukan harus murni karena Allah !
Tak menyimpan dendam dan tak ada motif apapun.

Mengalah juga bukan untuk mencari saat yang tepat, bagi kita nanti menuntut balas, hingga kita harus terlebih dulu menghindar, karena masih dalam diri kita ternyata ada rasa sakit hati, yang terus kita simpan dendamnya.

Bukan sikap mengalah yang seperti itu yang kita harus tanamkan.
Tapi mengalah untuk menjadikan kita terbebas dari rasa dendam, tak ingin menyakiti, dan malah mengharapkan orang lain yang menyakiti kita, malah kita doa kan, agar ia mendapatkan keberkahan dan keselamatan.

Dengan cara mengalah seperti itu, maka, menjadikan diri kita teruji sebagai orang yang sabar, sadar, dan hal ini, yang akan mengangkat derajat kita jadi manusia mulia !

Bahkan saking tak ada tandingannya cara Nabi dalam mau mengalah, ia telah memberi contoh pada umatnya, sampai perbuatan Nabi itu mampu menguncang nurani akal sehat kita !

Kagum kita pada Nabi, ko bisa, Nabi kita yang mulia, mau melakukan suatu hal yang mustahil, diluar umumnya manusia yang memiliki rasa ego, emosi, dendaman, dan malah punya istilah, “lu jual, gua beli !”

Coba bayangkan oleh kita, sikap Nabi yang kemurnian hatinya terjaga, yang tak menyimpan remeh dendam sedikitpun !

Ia, Nabi kita, Muhammad SAW, selama bertahun-tahun, bahkan sampai sebelum ia wafat, beliaunya mempunyai pekerjaan setiap hari, menyuapi seorang Yahudi tua buta yang pemarah, dimana saat Yahudi tua yang buta itu di suapi, sumpah serapahnya pada Nabi bukan Alang kepalang, dan kemarahannya pada Nabi ia luapkan malah di hadapan Nabi sendiri, tanpa ia tahu, yang ia kata-katai adalah orang yang menyuapinya setiap hari… subhanallah.

Sampai akhirnya Nabi wafat, dan pekerjaan menyuapi Yahudi buta itu di lanjutkan oleh Sayidina Umar bin Khattab, maka terasa oleh Yahudi Buta itu, cara menyuapi pada dirinya tidak sama, dari orang sebelumnya, yang ada di hadapannya…maka ia pun mencari tahu, siapa yang menyuapinya sekarang, dan kemana orang yang kemarin-kemarin menyuapinya ?

Setelah Sayidina Umar jelaskan, bahwa yang menyuapinya adalah Muhammad yang selalu hadir menyuapinya setiap kali, sambil tak henti Yahudi Buta itu meluapkan kemarahannya pada Muhammad, seorang yang ia benci, namun Nabi selalu hadir untuk dirinya.

Yahudi tua itu, akhirnya sadar, kemuliaan hati Baginda Nabi, begitu sangat luar biasa, luapan emosi kemarahannya, ia hidangkan pada Baginda Nabi setiap saat, sedangkan ia sendiri disuapi dengan penuh kelembutan.

Bercucur air mata si Yahudi tua buta itu, ia baru sadar, kemuliaan dari seorang yang mulia, akan tetap menjaga kemuliaannya, sedang nafsu akan selalu hadir makin meraja, akhirnya sebagai tanda kesadarannya mulai muncul, di hadapan Umar bin Khattab si Yahudi tua itupun bersahadat, ia memeluk Islam dengan penuh kesadaran, dan meninggalkan semua dendamnya, yang tak berarti itu.
Alhamdulillah

Semoga bermanfaat
Bambang Melga Suprayogi M.Sn

Ketua lembaga LTN NU kabupaten Bandung
Ketua Bidang PD DMI kabupaten Bandung

Leave A Reply

Your email address will not be published.