The news is by your side.

Merindukan Kawasan Timur Tengah yang Damai

Sejumlah negara lainnya masih mengalami konflik berdarah seperti Suriah, Yaman, Irak, Libya yang menyebabkan penderitaan bagi jutaan penduduk. Mesir dan Tunisia belum sepenuhnya pulih dari dampak Revolusi Musim Semi yang melanda negara tersebut beberapa waktu lalu. Konflik masih di selesaikan dengan cara membunuh satu sama lain. 

Perang saat ini menimbulkan ongkos yang sangat mahal dengan hasil minimal. Pada zaman dahulu, perang untuk merebut wilayah negara lain menghasilkan harta rampasan berupa emas, hasil tambang, atau barang berharga lain bagi pemenangnya. Mereka yang kalah dijadikan budak atau harus menjalani kerja paksa. Situasi kini sudah sangat jauh berbeda karena kekayaan bukan lagi dalam bentuk benda fisik yang bisa direbut, melainkan kekayaan tak berwujud. Kekayaan dalam bentuk aset finansial dengan gampang bisa ditransfer ke negara lain. Kekayaan dalam bentuk merk, paten, atau harta tak berwujud lainnya tetap dapat diklaim dari lokasi mana pun. Dan para tenaga ahli yang menjadi motor penggerak perekonomian dengan gampang pindah ke negara lain yang bersedia memanfaatkan keahliannya. Kecanggihan senjata juga membuat daya rusak luar biasa atas aset kedua belah pihak yang berperang. 

Entah sudah berapa banyak uang milik negara-negara Timur Tengah yang dihabiskan untuk membeli persenjataan dan kemudian digunakan untuk saling membunuh dan merusak. Perang Irak-Iran, Perang Teluk I, Perang Teluk II, Konflik Yaman, Suriah, dan lain-lainnya. Tak ada hasil yang baik dalam peperangan tersebut. Semuanya kalah. Jutaan nyawa meninggal. Triliunan harta benda musnah. 

Jika kekayaan alam habis disedot habis untuk biaya perang atau munculnya energi baru yang lebih murah sementara tidak ada sumber penghasilan lainnya, negara-negara tersebut bisa bangkrut. Ada dua negara yang bisa menjadi contoh. Venezuela, pemilik cadangan minyak terbesar dunia, kini sangat menderita karena adanya salah kelola negara. Nauru, sebuah negeri kecil di Pasifik pernah sangat sejahtera karena adanya tambang fosfat. Namun, akibat eksploitasi berlebihan, akhirnya alamnya rusak dan ketika hasil tambangnya habis, hanya menyisakan hutang dan kerusakan alam yang mengakibatkan rakyatnya menderita. 

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.